![]() |
| Ilustrasi AI |
Palangka Raya – Kinerja ekspor Provinsi Kalimantan
Tengah (Kalteng) menunjukkan hasil positif di awal tahun 2026. Sepanjang
Januari hingga Februari, nilai ekspor daerah ini berhasil mencapai 558,03 juta
dolar AS. Dominasi komoditas batu bara masih sangat kuat sebagai penyumbang
terbesar, mencerminkan ketergantungan sektor pertambangan dalam menopang
perekonomian provinsi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan
Tengah, Agnes Widiastuti, menyampaikan data tersebut pada Sabtu (4 April 2026).
Menurutnya, struktur ekspor Kalteng hingga saat ini belum mengalami pergeseran
yang signifikan. Sektor pertambangan, khususnya batu bara, terus menjadi pilar
utama.
“Ekspor kita masih sangat bergantung pada sektor
pertambangan, di mana batu bara menjadi penyumbang terbesarnya,” ujar Agnes
Widiastuti.
Pasar utama batu bara Kalteng masih berada di kawasan Asia.
Jepang, India, dan Korea Selatan menjadi tiga negara tujuan ekspor terbesar.
Ketiga negara ini secara konsisten menyerap sebagian besar komoditas tambang
asal Bumi Tambun Bungai. Tingginya permintaan dari negara-negara tersebut turut
mendukung capaian nilai ekspor yang cukup menggembirakan di dua bulan pertama
tahun ini.
Sementara itu, nilai impor Kalteng selama periode yang sama
tercatat relatif kecil. Impor didominasi oleh pengadaan mesin dan peralatan
mekanik, serta bahan bakar mineral. Kondisi ini menghasilkan surplus neraca
perdagangan sebesar 4,72 juta dolar AS. Surplus tersebut menandakan bahwa
Kalteng masih mampu mempertahankan posisi sebagai daerah pengekspor neto, meski
ketergantungan pada satu komoditas utama masih tinggi.
Agnes menambahkan bahwa meski batu bara mendominasi,
pihaknya terus mendorong diversifikasi ekspor agar perekonomian daerah tidak
terlalu rentan terhadap fluktuasi harga komoditas tambang di pasar global.
Beberapa komoditas non-tambang seperti hasil perkebunan dan produk industri
pengolahan mulai dikembangkan, namun kontribusinya masih jauh di bawah batu
bara.
Di samping kinerja perdagangan luar negeri, BPS Kalteng juga
merilis data inflasi bulan Maret 2026. Inflasi month-to-month tercatat sebesar
0,54 persen. Sedangkan inflasi year-on-year mencapai 3,86 persen, dan inflasi
tahun kalender (year-to-date) hingga Maret berada di level 1,39 persen.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi di Kalteng masih terkendali,
meski perlu terus diawasi seiring dengan dinamika harga global dan musim
kemarau yang akan datang.
Keberhasilan ekspor di awal tahun ini memberikan harapan
positif bagi perekonomian Kalteng. Batu bara sebagai komoditas unggulan tidak
hanya menyumbang devisa negara, tetapi juga menciptakan multiplier effect bagi
sektor pendukung seperti transportasi, logistik, dan tenaga kerja lokal di
kawasan pertambangan.
Namun demikian, tantangan ke depan tetap ada. Ketergantungan
berat pada batu bara membuat Kalteng rentan terhadap transisi energi global
yang semakin mengarah ke sumber energi bersih. Pemerintah daerah dan para
pemangku kepentingan perlu mulai mempersiapkan strategi jangka panjang untuk
mengembangkan komoditas bernilai tambah tinggi serta memperkuat sektor
pertanian, perkebunan, dan pariwisata sebagai penopang ekonomi alternatif.
Pemerintah Provinsi Kalteng diharapkan terus mendorong
investasi di sektor hilirisasi batu bara dan pengembangan industri pengolahan
agar nilai tambah komoditas semakin meningkat. Selain itu, peningkatan
infrastruktur pelabuhan dan konektivitas transportasi juga menjadi kunci agar
ekspor dapat berjalan lebih efisien dan kompetitif.
Capaian ekspor 558,03 juta dolar AS ini menjadi modal
berharga menjelang pertengahan tahun 2026. Dengan dukungan kebijakan yang tepat
dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, serta masyarakat, diharapkan
kinerja perdagangan Kalteng dapat terus tumbuh dan memberikan dampak positif
yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat.
BPS Kalteng akan terus memantau perkembangan ekspor dan
impor secara berkala. Data yang akurat dan tepat waktu ini sangat penting
sebagai bahan evaluasi serta penyusunan kebijakan ekonomi daerah yang lebih
baik.
Bagi Kalimantan Tengah, menjaga momentum ekspor sekaligus
mempersiapkan diversifikasi ekonomi menjadi tugas bersama yang tidak boleh
diabaikan. Keberhasilan di sektor ekspor bukan hanya soal angka, melainkan juga
tentang keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.
Dengan batu bara yang masih menjadi andalan, Kalteng kini
berada di persimpangan. Di satu sisi ada peluang besar dari permintaan pasar
Asia, di sisi lain ada kebutuhan mendesak untuk membangun fondasi ekonomi yang
lebih beragam dan tangguh menghadapi perubahan zaman.







