![]() |
| Ilustrasi AI |
Tarakan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota
Tarakan menghadapi kendala operasional. Sebanyak 9 Satuan Pelayanan Pemenuhan
Gizi (SPPG) atau dapur MBG terpaksa menghentikan kegiatan sementara waktu
karena sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) belum berjalan optimal
sesuai standar lingkungan.
Koordinator Wilayah SPPG Tarakan, Dewi Rahmawati,
membenarkan penutupan sementara tersebut. Menurutnya, penutupan bukan
disebabkan karena tidak adanya IPAL, melainkan karena sistem pengolahan limbah
yang dimiliki belum maksimal dalam pengoperasiannya.
“IPAL-nya sebenarnya sudah tersedia, tapi belum maksimal
dalam pengoperasiannya,” ujar Dewi Rahmawati.
Ia menjelaskan bahwa standar utama pengelolaan limbah di
setiap dapur MBG adalah memastikan tidak terjadi pencemaran lingkungan. Limbah
harus diolah dengan baik sebelum dibuang agar tidak berdampak negatif bagi
masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pihak pengelola diwajibkan melakukan
pelaporan yang menunjukkan bahwa IPAL berfungsi sesuai ketentuan sebelum dapat
kembali beroperasi.
Penutupan sementara ini tersebar di beberapa wilayah,
meliputi Juata, Pamusian, Karang Harapan, hingga Lingkas Ujung. Akibatnya,
sejumlah sekolah penerima program MBG mengalami gangguan distribusi makanan
bergizi. Namun, Dewi belum merinci jumlah pasti sekolah yang terdampak dari
penghentian operasional sembilan dapur tersebut.
Sementara itu, tiga SPPG yang lebih dulu ditutup sebelumnya
sudah kembali beroperasi normal. Ketiga dapur tersebut tidak termasuk dalam
daftar sembilan unit yang saat ini masih berhenti beroperasi.
“Sudah beroperasi. Dan tidak masuk dalam 9 yang berhenti
operasi,” tegasnya.
Penghentian operasional ini merupakan bagian dari pengawasan
ketat yang dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap seluruh SPPG di
Indonesia. Selain aspek IPAL, beberapa dapur juga terkendala administrasi dan
belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Langkah ini diambil
untuk memastikan program MBG tidak hanya berhasil memenuhi kebutuhan gizi
siswa, tetapi juga ramah lingkungan dan sesuai standar kesehatan.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan inisiatif pemerintah
pusat untuk mengatasi stunting dan meningkatkan kualitas gizi anak usia
sekolah. Di Tarakan, program ini telah menjangkau ratusan sekolah melalui
dapur-dapur SPPG yang memproduksi makanan bergizi setiap hari. Namun,
keberlanjutan program sangat bergantung pada kepatuhan terhadap standar
operasional, termasuk pengelolaan limbah dan sanitasi.
Dewi Rahmawati menegaskan bahwa penutupan sementara ini
bersifat sementara dan bertujuan perbaikan. Pihak pengelola dapur diminta
segera menyelesaikan kekurangan teknis dan administratif agar dapat secepatnya
kembali beroperasi. Pemerintah Kota Tarakan dan instansi terkait diharapkan
dapat memberikan pendampingan agar proses optimalisasi IPAL berjalan lancar.
Penutupan 9 dapur MBG ini menjadi perhatian serius bagi
orang tua siswa dan pihak sekolah. Meski hanya sementara, gangguan pasokan
makanan bergizi dapat memengaruhi program pencegahan stunting di daerah. Oleh
sebab itu, koordinasi lintas sektor antara BGN, Dinas Kesehatan, Dinas
Pendidikan, dan pemerintah kota menjadi sangat penting untuk mempercepat
penyelesaian masalah.
Selain di Tarakan, penutupan sementara SPPG juga terjadi di
beberapa daerah lain di Kalimantan Utara, seperti Bulungan, Nunukan, dan
Malinau. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan optimalisasi infrastruktur dan
sanitasi bukan hanya terjadi di satu kota saja, melainkan menjadi permasalahan
yang perlu mendapat perhatian bersama di tingkat provinsi.
Pemerintah daerah diharapkan dapat mempercepat proses
verifikasi dan sertifikasi agar seluruh dapur MBG dapat kembali aktif. Dengan
demikian, target penurunan stunting dan peningkatan gizi anak sekolah dapat
terus berjalan sesuai rencana.
Keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah
porsi makanan yang disalurkan, tetapi juga dari kualitas pengelolaan dapur dan
kepatuhan terhadap standar lingkungan. Optimalisasi IPAL dan pemenuhan
sertifikat sanitasi menjadi syarat mutlak agar program ini berkelanjutan dan
diterima masyarakat secara luas.
Saat ini, pengelola sembilan dapur yang masih tutup sedang
berupaya memenuhi semua persyaratan yang ditentukan. Masyarakat dan pihak
sekolah diimbau untuk bersabar sambil menunggu hasil perbaikan dan verifikasi
dari tim teknis terkait.
Program MBG diharapkan segera pulih dan kembali beroperasi
penuh di seluruh wilayah Tarakan. Dengan dukungan semua pihak, program ini
dapat terus memberikan manfaat nyata bagi generasi muda Kalimantan Utara,
sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sekitar fasilitas dapur.







