![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN – Ambisi Presiden Prabowo Subianto menjadikan Ibu
Kota Nusantara (IKN) sebagai “Kota Hutan” (Forest City) mulai menunjukkan hasil
nyata. Rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) di kawasan strategis nasional ini
telah berhasil mencapai luasan 1.805 hektar. Hamparan monokultur eukaliptus
yang dulu mendominasi kini perlahan berubah menjadi hutan hujan tropis yang
hijau dan beragam.
Perubahan ini disaksikan langsung oleh Menteri Kehutanan
Raja Juli Antoni saat meninjau lokasi rehabilitasi bersama Kepala Otorita IKN
Basuki Hadimuljono dan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, Sabtu
(28/2/2026). Kunjungan tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan bukti
komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk menyeimbangkan pembangunan
infrastruktur dengan pelestarian alam.
Penanaman tidak lagi menggunakan satu jenis tanaman seragam.
Kini ditanam varietas pohon serbaguna dan spesies endemik Kalimantan seperti
meranti, gaharu, kapur, medang, nyamplung, hingga nyatoh. Pendekatan ini
membuat kawasan RHL semakin mendekati karakter hutan tropis asli.
“Hutan sebagai sumber daya alam dimaksimalkan untuk
kesejahteraan masyarakat. Kementerian Kehutanan akan terus memberikan dukungan
penuh terhadap IKN, terutama dalam aspek penghijauan,” ujar Raja Juli Antoni,
dikutip Kompas.com, Rabu (4/3/2026).
Indikator Keberhasilan: Burung Kembali Bersarang
Keberhasilan rehabilitasi tidak hanya diukur dari luasan
lahan, melainkan juga dari pulihnya rantai ekosistem. Dalam dua tahun terakhir,
pertumbuhan vegetasi di lokasi RHL menunjukkan progres yang sangat signifikan.
Pohon-pohon yang dulu baru ditanam kini sudah tinggi, menggantikan tanaman
monokultur eukaliptus.
Lebih menggembirakan lagi, burung-burung mulai kembali dan
bersarang di area tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa variasi tanaman telah
menciptakan habitat yang mendukung kehidupan satwa liar.
“Tadi kita baru saja melihat lokasi RHL dua tahun yang lalu,
tetapi sekarang sudah tinggi pohonnya untuk menggantikan tanaman monokultur.
Dilaporkan juga sudah ada burung karena vegetasinya mulai variatif untuk
mendukung nantinya IKN menjadi forest city,” tegas Raja Juli Antoni.
Rehabilitasi ini juga memiliki fungsi penting sebagai
penyerap karbon dan penjaga tata air di kawasan inti Nusantara. Dengan begitu,
IKN terhindar dari risiko krisis ekologis di masa depan, seperti banjir atau
kekeringan yang sering terjadi di kota-kota besar.
Perhutanan Sosial: Masyarakat Bukan Penonton Lagi
Pembangunan IKN kerap dikritik karena dikhawatirkan
memarginalkan masyarakat lokal. Menjawab kekhawatiran itu, Menteri Kehutanan
langsung menyerahkan Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial kepada empat
Kelompok Tani Hutan (KTH) di Kalimantan Timur.
Langkah ini merupakan instruksi langsung Presiden Prabowo
Subianto agar masyarakat sekitar hutan tidak hanya menjadi penonton, melainkan
pelaku aktif yang mendapatkan akses legal dan manfaat ekonomi dari keberadaan
IKN.
Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menekankan pentingnya
sinergi antara pembangunan masif dan pelestarian lingkungan.
“Kunjungan Bapak Menteri ini bukan hanya sebagai komitmen,
tetapi adalah upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan Ibu Kota Nusantara
ini dan menjaga kelestarian lingkungan,” ucap Rudy Mas’ud.
Dampak Jangka Panjang bagi IKN sebagai Forest City
Rehabilitasi 1.805 hektar ini menjadi fondasi kuat bagi
konsep Forest City yang digadang-gadang Otorita IKN. Kawasan hijau yang luas
tidak hanya memperindah wajah ibu kota baru, tetapi juga meningkatkan kualitas
udara, mengatur siklus air, serta menjadi habitat biodiversitas yang kaya.
Sebagai jurnalis yang mengikuti perkembangan IKN sejak tahap
awal, saya melihat capaian ini sebagai angin segar di tengah berbagai isu
lingkungan yang sering menjadi sorotan. Dulu, banyak pihak khawatir pembangunan
IKN akan mengorbankan hutan Kalimantan. Namun, data 1.805 hektar yang sudah
direhabilitasi membuktikan bahwa pemerintah serius menjalankan pendekatan
pembangunan berkelanjutan.
Lebih dari itu, keterlibatan masyarakat melalui Perhutanan
Sosial membuka peluang ekonomi baru bagi warga lokal. Mereka kini bisa
mengelola hutan secara legal, memanen hasil non-kayu, dan bahkan mengembangkan
ekowisata di sekitar kawasan IKN. Ini adalah cara cerdas untuk memastikan
pembangunan tidak meninggalkan siapa pun.
Dengan target rehabilitasi yang terus dikejar, IKN
diharapkan tidak hanya menjadi pusat pemerintahan modern, melainkan juga model
kota hijau yang bisa ditiru dunia. Penyerapan karbon yang masif, keanekaragaman
hayati yang pulih, serta kesejahteraan masyarakat sekitar menjadi tiga pilar
utama yang kini sedang dibangun.
Publik kini menanti kelanjutan program ini. Apakah luasan
rehabilitasi bisa terus bertambah di tahun-tahun mendatang? Bagaimana
koordinasi antara Kementerian Kehutanan, Otorita IKN, dan pemerintah daerah
agar target Forest City tercapai tepat waktu?
Yang jelas, capaian 1.805 hektar hari ini menjadi bukti
bahwa pembangunan IKN tidak hanya soal gedung-gedung megah dan infrastruktur,
melainkan juga tentang menghidupkan kembali napas alam Kalimantan. Hutan yang
pulih bukan hanya untuk generasi sekarang, melainkan warisan hijau untuk anak
cucu di Indonesia Emas 2045.
Menteri Raja Juli Antoni telah menyatakan komitmen penuh.
Kini, semua pihak diharapkan ikut menjaga momentum ini agar IKN benar-benar
menjadi kota hutan yang indah, lestari, dan bermanfaat bagi seluruh rakyat
Indonesia.







