![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN - Di tengah semarak bulan suci Ramadhan, Otorita Ibu
Kota Nusantara (OIKN) menunjukkan komitmennya dalam melibatkan masyarakat
lokal. Melalui program Safari Ramadhan yang digelar dari 3 hingga 16 Maret
2026, OIKN berhasil menyerap berbagai aspirasi warga di wilayah delineasi IKN.
Inisiatif ini bukan hanya sekadar kegiatan keagamaan, tapi juga menjadi
jembatan dialog antara pemerintah dan rakyat, memastikan pembangunan ibu kota
baru berjalan harmonis dan sesuai harapan masyarakat. Dengan fokus pada empat kecamatan
di Kalimantan Timur, program ini memperkuat ikatan sosial sambil mengumpulkan
masukan berharga untuk masa depan IKN.
Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) telah menjadi topik
hangat sejak diresmikan sebagai proyek strategis nasional. Berlokasi di
Kalimantan Timur, IKN dirancang sebagai kota pintar yang ramah lingkungan,
dengan visi menjadi pusat pemerintahan baru yang lebih inklusif. Namun,
transisi wilayah, termasuk delineasi atau penetapan batas kawasan, sering kali
menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga lokal. Itulah mengapa OIKN mengambil
langkah proaktif dengan Safari Ramadhan, sebuah acara yang menggabungkan nilai-nilai
spiritual dengan diskusi pembangunan.
Latar Belakang Delineasi IKN dan Peran Masyarakat Lokal
Sebelumnya, empat kecamatan yang menjadi sasaran program
ini—Samboja, Muara Jawa, Loa Janan, dan Samboja Barat—merupakan bagian dari
Kabupaten Kutai Kartanegara. Kini, setelah masuk dalam delineasi IKN, wilayah
ini diharapkan ikut menikmati manfaat dari mega proyek nasional tersebut.
Delineasi sendiri adalah proses penting untuk menentukan batas wilayah IKN,
memastikan bahwa pembangunan tidak hanya fokus pada infrastruktur pusat, tapi
juga memperhatikan kawasan sekitar.
Menurut Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan
Masyarakat OIKN, Alimuddin, Safari Ramadhan ini dirancang khusus untuk
memperkuat komunikasi sosial. "Safari Ramadhan dilaksanakan di empat
kecamatan sebagai upaya memperkuat komunikasi sosial, membangun kebersamaan,
serta menciptakan suasana harmonis di tengah masyarakat selama Ramadhan,"
ujarnya dalam pernyataan resmi di Nusantara pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Alimuddin, yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten
Penajam Paser Utara, menekankan betapa pentingnya mendengar suara masyarakat
langsung untuk menghindari kesenjangan dalam pembangunan.
Kegiatan ini berlangsung di berbagai lokasi, mulai dari
masjid hingga ruang pertemuan komunal, dengan rangkaian acara yang menyentuh
hati. Mulai dari silaturahim dan dialog penyerapan aspirasi, tausiyah agama
yang menginspirasi, buka puasa bersama yang penuh kehangatan, hingga shalat
Maghrib berjamaah. Partisipasi warga pun tinggi, menunjukkan antusiasme mereka
terhadap perubahan yang sedang terjadi di sekitar mereka.
Aspirasi Warga: Dari Air Bersih hingga Konektivitas yang Lebih Baik
Salah satu sorotan utama dari Safari Ramadhan adalah dialog
santai di Kecamatan Muara Jawa pada Jumat, 6 Maret 2026. Di sini, warga diberi
kesempatan untuk menyampaikan harapan mereka secara langsung. Hasilnya,
sebagian besar aspirasi berfokus pada peningkatan kesejahteraan dan kemajuan
wilayah setelah bergabung dengan kawasan IKN. Khususnya, mereka menyoroti
layanan dasar yang masih menjadi tantangan sehari-hari.
Misalnya, akses air bersih menjadi isu krusial bagi sekitar
40 ribu jiwa di Muara Jawa. Meskipun wilayah ini berada tidak jauh dari Sungai
Mahakam—sungai terpanjang di Kalimantan Timur—masyarakat masih kesulitan
mendapatkan pasokan air yang layak. "Kami berharap pembangunan IKN bisa
membawa solusi untuk ini," kata salah satu warga dalam diskusi tersebut,
sebagaimana dikutip dari laporan resmi OIKN. Aspirasi ini mencerminkan realitas
bahwa infrastruktur dasar sering kali tertinggal di tengah proyek besar.
Selain itu, warga juga menyuarakan kebutuhan akan pendidikan
tinggi. Mereka berharap adanya pembangunan perguruan tinggi di wilayah mereka,
dan saat ini, upaya penyediaan lahan untuk fasilitas tersebut sedang digalakkan
oleh OIKN. Ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia lokal, memastikan generasi muda bisa bersaing di era IKN yang modern.
Tak kalah penting, aspirasi tentang infrastruktur
transportasi juga muncul. Warga Muara Jawa mendambakan pembangunan pintu tol di
wilayah mereka. Hal ini diharapkan bisa meningkatkan konektivitas, mempermudah
mobilitas ke IKN, Balikpapan, maupun Samarinda. Dengan adanya tol, ekonomi
lokal bisa bergairah, membuka peluang baru bagi usaha kecil dan menengah.
Aspirasi-aspirasi ini tidak hanya sekadar permintaan, tapi juga refleksi dari
harapan agar delineasi IKN membawa dampak positif yang merata.
Respons Pejabat dan Dampak Positif bagi Pembangunan IKN
Respons dari pejabat setempat pun positif. Camat Muara Jawa,
Muhammad Ramli, menyampaikan apresiasi atas inisiatif OIKN. "Terima kasih
kepada jajaran Otorita IKN yang telah mengadakan Safari Ramadhan di Muara Jawa.
Kegiatan ini membuat masyarakat merasa diperhatikan dan dilibatkan dalam proses
pembangunan yang berjalan hingga rencana ke depan," ucapnya. Pernyataan
ini menegaskan bahwa dialog seperti ini mempererat hubungan antara pemerintah
dan masyarakat, menciptakan rasa memiliki terhadap proyek IKN.
Secara keseluruhan, Safari Ramadhan ini berhasil
mengumpulkan beragam usulan yang akan menjadi bahan evaluasi bagi OIKN.
Alimuddin menambahkan bahwa masukan-masukan ini akan diintegrasikan ke dalam
rencana pembangunan ke depan, termasuk dalam konsep kota hutan yang inklusif.
IKN sendiri dirancang dengan 80 persen wilayahnya berada di Kabupaten Kutai
Kartanegara, menjadikan partisipasi warga delineasi sebagai kunci sukses.
Keberhasilan Safari Ramadhan OIKN ini menjadi contoh bagaimana pembangunan besar bisa berjalan selaras dengan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat. Di tengah tantangan seperti inflasi di sekitar IKN atau upaya pencegahan aktivitas ilegal di kawasan hutan, pendekatan inklusif seperti ini sangat diperlukan. Warga delineasi, yang sebelumnya merasa berada di pinggiran, kini merasa menjadi bagian integral dari visi nasional.
Ke depan, OIKN diharapkan terus menggelar kegiatan serupa,
tidak hanya di bulan Ramadhan tapi sepanjang tahun. Ini akan memastikan bahwa
aspirasi warga terus terserap, menghindari konflik, dan mempercepat realisasi
IKN sebagai kota masa depan. Bagi masyarakat Kalimantan Timur, ini adalah
peluang emas untuk berkontribusi, sementara bagi pemerintah, ini adalah bukti
komitmen terhadap pembangunan yang berbasis rakyat.







