![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN – Bulan Ramadhan tahun ini terasa lebih ringan
bagi ribuan keluarga di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Otorita Ibu
Kota Nusantara (OIKN) secara aktif menyelenggarakan operasi pasar murah dan
gerakan pangan murah di empat kecamatan sekitar kawasan inti IKN. Program ini
memungkinkan masyarakat membeli bahan pokok dengan harga jauh di bawah pasaran,
sekaligus menekan potensi inflasi pangan menjelang Idul Fitri 1447 H.
Kegiatan digelar di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam
Paser Utara, serta beberapa titik di kecamatan tetangga seperti Samboja dan
sekitarnya. Komoditas yang dijual meliputi beras medium dan premium, minyak
goreng kemasan satu liter, gula pasir, telur ayam ras, daging ayam potong, ikan
segar, sayur-mayur lokal, hingga elpiji subsidi tiga kilogram. Harga elpiji
yang biasanya mencapai Rp30.000–Rp32.000 per tabung di pedagang eceran, di
lokasi ini hanya Rp20.000. Diskon serupa juga berlaku untuk beras (turun Rp2.000–Rp4.000
per kilogram), telur (turun hingga Rp5.000 per papan), dan sayuran segar yang
dijual langsung dari petani lokal.
Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, Setia Lenggono,
menjelaskan latar belakang program ini dengan detail. “Operasi pasar dan
gerakan pangan murah dilakukan membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok
dengan harga lebih rendah dari harga di pasaran,” ujarnya saat meninjau salah
satu titik di Sepaku pada Sabtu, 14 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa inisiatif
ini bukan sekadar bantuan sementara, melainkan bagian dari strategi jangka
panjang OIKN untuk memperkuat ketahanan pangan di kawasan Nusantara.
Menurut Setia, lonjakan permintaan bahan pangan selama
Ramadhan dan Lebaran sering kali memicu kenaikan harga hingga 20–30 persen di
daerah penyangga proyek nasional besar. Untuk mengantisipasi hal itu, OIKN
bekerja sama dengan pemerintah kabupaten, Bulog, distributor besar, pedagang
pasar tradisional, serta kelompok tani dan nelayan setempat. Pasokan dijamin
langsung dari gudang Bulog dan petani lokal agar stok tetap melimpah dan harga
stabil. “Kami ingin memastikan tidak ada keluarga yang kesulitan memenuhi
kebutuhan pokok hanya karena harga melonjak,” tegasnya.
Warga setempat memberikan respons positif yang luar biasa.
Sri, ibu rumah tangga berusia 42 tahun dari Desa Sepaku, mengaku bisa menghemat
hingga Rp150.000 dalam satu kali belanja. “Biasanya beli elpiji sama telur di
warung dekat rumah mahal sekali. Sekarang bisa hemat banyak, anak-anak bisa
dapat lauk lebih banyak,” katanya sambil membawa dua tabung elpiji dan
sekantong beras. Warga lain, Meri (35), menambahkan, “Kalau pangan dan pasar
murah rutin diadakan, sangat membantu masyarakat karena beda harga, harganya
lebih murah.” Banyak yang berharap kegiatan ini tidak berhenti setelah Lebaran,
melainkan menjadi agenda bulanan atau minimal musiman.
Program serupa sebenarnya sudah rutin digelar OIKN sejak
akhir 2025. Pada Desember lalu, gerakan pangan murah digelar bertepatan dengan
peringatan Hari Nusantara. Januari 2026 menyusul acara Hari Gizi Nasional
dengan fokus pada protein hewani murah. Kini di Ramadhan, skala diperbesar
dengan lebih banyak titik dan variasi komoditas. Pendekatan ini juga melibatkan
ekosistem digital: beberapa titik menggunakan aplikasi pembayaran non-tunai
untuk memudahkan transaksi dan mencatat data distribusi, sehingga OIKN bisa
memantau dampak secara real time.
Di tengah pembangunan masif IKN yang membawa ribuan pekerja
konstruksi, ASN, dan investor, tekanan terhadap pasokan pangan lokal semakin
tinggi. Arus masuk penduduk sementara ini bisa memicu ketidakseimbangan jika
tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, OIKN tidak hanya fokus pada
infrastruktur fisik seperti jalan tol dan gedung pemerintahan, tetapi juga pada
aspek sosial-ekonomi dasar seperti akses pangan terjangkau. Program ini
sekaligus menjadi upaya mencegah disparitas antara pekerja proyek yang bergaji
tinggi dengan masyarakat lokal yang mayoritas bergantung pada sektor primer.
Ke depan, OIKN berencana memperluas cakupan program. Salah
satu ide yang sedang dikaji adalah membangun pusat distribusi pangan
terintegrasi di kawasan penyangga, yang bisa menjadi hub bagi petani, nelayan,
dan UMKM pangan lokal. Selain itu, pelatihan pengolahan pangan dan pemasaran
digital bagi kelompok tani juga akan ditingkatkan agar pasokan tidak hanya
murah, tapi juga berkelanjutan. Kolaborasi dengan Kementerian Pertanian dan
Badan Pangan Nasional semakin diperkuat untuk memastikan stok beras dan komoditas
strategis tetap aman hingga akhir tahun.
Bagi warga Sepaku dan sekitarnya, operasi pasar murah ini
lebih dari sekadar diskon. Ini adalah bukti bahwa pembangunan IKN tidak
melupakan mereka yang sudah lama tinggal di tanah tersebut. Di saat banyak
daerah lain mengeluhkan kenaikan harga sembako menjelang Lebaran, warga
penyangga IKN justru mendapat angin segar. Penghematan kecil dari belanja
harian bisa dialihkan untuk kebutuhan pendidikan anak, biaya kesehatan, atau
bahkan menabung untuk hari raya.
Dengan semangat “hadir untuk masyarakat”, Otorita IKN terus
menunjukkan komitmen inklusif. Gerakan pangan murah ini, meski terlihat
sederhana, memiliki dampak berlipat: menjaga stabilitas harga, meningkatkan
daya beli, memperkuat hubungan pemerintah dengan warga lokal, serta memastikan
Ramadhan dan Idul Fitri 2026 berjalan dengan lebih tenang dan berkah. Di tengah
hiruk-pikuk pembangunan ibu kota baru, inisiatif seperti ini mengingatkan bahwa
pembangunan sejati adalah yang dirasakan langsung oleh rakyat kecil.







