Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Inflasi Sekitar IKN Melonjak, BI Catat Kenaikan 0,89 Persen di PPU: Tekanan dari Ramadan dan Musim Hujan

 

Ilustrasi AI

IKN – Inflasi di kawasan sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN) menunjukkan tren kenaikan signifikan pada Februari 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi month-to-month (mtm) di Penajam Paser Utara (PPU) yang mencakup wilayah IKN mencapai 0,89 persen, sementara di Balikpapan naik 0,75 persen dibandingkan Januari lalu. Lonjakan ini terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang memberikan kontribusi terbesar di tengah meningkatnya permintaan selama Ramadan dan gangguan pasokan akibat musim hujan.

Data yang dirilis BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan dan PPU menunjukkan bahwa tekanan harga di kawasan penyangga IKN ini lebih tinggi dari periode sebelumnya. Di PPU, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang hingga 0,68 persen terhadap kenaikan inflasi. Sementara di Balikpapan, kontribusinya mencapai 0,27 persen. Komoditas penyumbang utama pun berbeda di kedua wilayah tersebut.

Di Balikpapan, komoditas yang mendorong inflasi antara lain angkutan udara, emas perhiasan, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga (LPG), dan kangkung. Lonjakan tiket pesawat disebabkan meningkatnya mobilitas masyarakat, sementara harga emas mengikuti tren global. Cabai rawit naik karena pasokan dari Jawa dan Sulawesi berkurang akibat cuaca buruk. Di PPU, penyumbang inflasi meliputi ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, dan buncis. Ikan layang khususnya sering menjadi pemicu inflasi di wilayah ini dalam beberapa tahun terakhir, karena nelayan kesulitan melaut saat gelombang tinggi.

Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Di Balikpapan, terjadi deflasi pada bensin Pertamax yang sempat turun Rp550 per liter menjadi Rp12.100 sejak awal Februari, meski kemudian naik kembali Rp500 menjadi Rp12.600 pada Maret. Di PPU, deflasi terlihat pada kelompok transportasi serta beberapa sayuran dan ikan seperti bawang merah, ikan tongkol, cumi-cumi, dan bayam, yang harganya turun berkat pasokan meningkat memasuki musim panen.


Penyebab Utama: Permintaan Ramadan dan Cuaca Ekstrem

BI menjelaskan bahwa kenaikan inflasi ini dipicu dua faktor utama. Pertama, peningkatan permintaan masyarakat terhadap berbagai barang dan jasa menjelang dan selama Ramadan serta Idul Fitri. Kedua, musim hujan yang memuncak menyebabkan pasokan sayur-mayur dan hasil laut terganggu. Di PPU, cuaca buruk membuat banyak nelayan tidak bisa melaut, sehingga harga ikan layang melonjak. Sementara di Balikpapan, pasokan cabai rawit dan kangkung terhambat karena hujan deras di daerah penghasil.

“Risiko pasokan masih tinggi, terutama untuk sayur-mayur dan hasil laut. Ini yang harus kita jaga agar tekanan harga tidak berlanjut,” kata Robi, perwakilan BI, baru-baru ini.

Inflasi di kawasan sekitar IKN ini menjadi perhatian khusus karena wilayah PPU merupakan pusat pengembangan ibu kota baru. Kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi lokal serta daya beli masyarakat yang semakin bertambah seiring pembangunan infrastruktur IKN.


Langkah BI dan TPID Antisipasi Tekanan Harga

Untuk meredam lonjakan ini, BI bersama TPID Balikpapan dan PPU telah menyiapkan serangkaian langkah pengendalian inflasi. Di antaranya operasi pasar, pasar murah, peninjauan harga, penguatan perusahaan umum daerah pangan, serta perluasan kerja sama pasokan antardaerah. Masyarakat diimbau berbelanja secara bijak dan memanfaatkan program pasar murah yang diselenggarakan selama Ramadan.

BI juga akan terus memantau perkembangan inflasi pasca-Lebaran 2026. Fokus pengawasan difokuskan pada komoditas pangan dan hasil laut yang rentan terhadap fluktuasi cuaca. Dengan langkah ini, diharapkan tekanan inflasi tidak berlanjut dan stabilitas harga di kawasan penyangga IKN tetap terjaga.

Sebagai jurnalis yang mengikuti dinamika ekonomi Kalimantan Timur, saya melihat lonjakan inflasi ini sebagai tantangan klasik yang sering muncul saat Ramadan bertepatan dengan musim hujan. Di tengah pembangunan masif IKN, stabilitas harga menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan investor. Data BI menunjukkan bahwa meski inflasi mtm naik, intervensi cepat melalui pasar murah dan penguatan pasokan bisa menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat sekitar.

Komoditas seperti ikan layang yang kerap menjadi penyumbang inflasi di Balikpapan dan PPU mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan lokal masih perlu diperkuat. Kerja sama antardaerah untuk memperluas pasokan menjadi solusi jangka pendek yang efektif, sementara jangka panjang memerlukan diversifikasi produksi pertanian dan perikanan di Kalimantan Timur.

Dengan inflasi 0,75 persen di Balikpapan dan 0,89 persen di PPU, kawasan sekitar IKN tetap menjadi sorotan. BI telah memberikan catatan jelas bahwa pengendalian harus dilakukan secara intensif. Masyarakat diharapkan ikut mendukung dengan pola konsumsi yang bijak, sehingga Ramadan dan pembangunan IKN berjalan selaras tanpa menimbulkan beban ekonomi berlebih.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Inflasi Sekitar IKN Melonjak, BI Catat Kenaikan 0,89 Persen di PPU: Tekanan dari Ramadan dan Musim Hujan
  • Inflasi Sekitar IKN Melonjak, BI Catat Kenaikan 0,89 Persen di PPU: Tekanan dari Ramadan dan Musim Hujan
  • Inflasi Sekitar IKN Melonjak, BI Catat Kenaikan 0,89 Persen di PPU: Tekanan dari Ramadan dan Musim Hujan
  • Inflasi Sekitar IKN Melonjak, BI Catat Kenaikan 0,89 Persen di PPU: Tekanan dari Ramadan dan Musim Hujan
  • Inflasi Sekitar IKN Melonjak, BI Catat Kenaikan 0,89 Persen di PPU: Tekanan dari Ramadan dan Musim Hujan
  • Inflasi Sekitar IKN Melonjak, BI Catat Kenaikan 0,89 Persen di PPU: Tekanan dari Ramadan dan Musim Hujan
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad