Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Akses Pendidikan di Pelosok Kalimantan Timur Masih Terbatas: Banyak Desa Belum Punya SMA, Siswa Terpaksa Tinggalkan Kampung

 

Ilustrasi AI

Samarinda – Di balik gemerlap pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan proyek-proyek strategis nasional lainnya, realitas pendidikan di pelosok Kalimantan Timur masih menyisakan cerita pilu. Banyak desa di kabupaten-kabupaten pedalaman belum memiliki fasilitas sekolah menengah atas (SMA) atau SMK, sehingga siswa lulusan SMP terpaksa meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan pendidikan. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan keluarga, tetapi juga berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dan meningkatkan angka putus sekolah di wilayah terpencil.

Anggota MPR RI/DPD RI dari daerah pemilihan Kalimantan Timur, Aji Mirni Mawarni, menyampaikan temuan ini secara langsung setelah melakukan kunjungan kerja ke sejumlah desa di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) dalam beberapa minggu terakhir. Ia menegaskan bahwa meskipun Kaltim memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah dan menjadi pusat perhatian nasional, pemerataan akses pendidikan masih jauh dari kata merata. “Masih ada desa yang belum memiliki SMA. Akibatnya, anak-anak harus keluar dari desanya untuk melanjutkan pendidikan,” ujar Aji Mirni Mawarni pada Jumat, 13 Maret 2026, seperti dikutip Jurnal Borneo.

Kenyataan di lapangan memang mencerminkan tantangan besar. Di banyak desa di Kabupaten Berau, Kutai Barat, Mahakam Ulu, Paser, hingga Penajam Paser Utara, siswa SMP yang ingin melanjutkan ke SMA harus pindah ke kecamatan atau kota kabupaten terdekat. Jarak yang harus ditempuh bisa mencapai 50–200 kilometer, dengan medan yang sulit: jalan tanah berlubang, sungai besar yang hanya bisa diseberangi dengan perahu, dan transportasi umum yang minim. Biaya hidup di kota—termasuk sewa kos, makan sehari-hari, dan transportasi—menjadi beban berat bagi orang tua yang mayoritas bekerja sebagai petani, nelayan, buruh harian, atau penebang kayu.

Bagi keluarga berpenghasilan rendah, pilihan sering kali terbatas: melanjutkan sekolah dengan segala pengorbanan atau berhenti setelah SMP demi membantu ekonomi rumah tangga. Data Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan bahwa angka putus sekolah di jenjang SMA/SMK di daerah pelosok masih lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan. Meski secara keseluruhan angka putus sekolah provinsi menurun, kesenjangan antarwilayah tetap mencolok, terutama di desa-desa yang terisolasi secara geografis.

Aji Mirni Mawarni menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar kebutuhan individu, melainkan investasi strategis bagi masa depan daerah. “Pendidikan memang dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi itu investasi penting untuk masa depan daerah,” katanya. Ia mendorong pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk mengalokasikan anggaran lebih besar bagi pembangunan fisik sekolah menengah di desa-desa terpencil. Selain itu, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari sektor pertambangan, migas, kehutanan, dan perusahaan besar lainnya dinilai sangat potensial untuk mendukung beasiswa, pembangunan gedung sekolah, serta penyediaan transportasi siswa.

Upaya pemerintah daerah sebenarnya sudah ada, meski masih terbatas. Program Gratispol (Gratis Pola Pendidikan) yang digulirkan Pemprov Kaltim terus diperluas, dengan anggaran yang meningkat signifikan pada 2026. Program ini memberikan beasiswa penuh bagi anak desa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, termasuk biaya hidup dan transportasi. Namun, fondasi utama tetap pada jenjang SMA: tanpa sekolah menengah yang dekat, sulit bagi siswa pelosok untuk mencapai tahap perguruan tinggi. Beberapa inisiatif lain seperti penyediaan akses internet gratis di desa-desa melalui program Desa Digital dan pengiriman guru sukarelawan ke pelosok juga telah berjalan, tetapi belum cukup mengatasi masalah jarak dan infrastruktur fisik.

Tantangan geografis Kaltim yang luas dan berbukit membuat pembangunan sekolah baru tidak mudah. Biaya konstruksi tinggi, logistik sulit, serta kebutuhan tenaga pendidik yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, solusi jangka pendek seperti pembelajaran daring atau kelas bergerak (mobile classroom) sering diusulkan sebagai jembatan. Namun, kualitas internet yang tidak merata dan minimnya perangkat di tangan siswa membuat pendekatan ini belum optimal.

Aji Mirni Mawarni berharap kolaborasi lintas sektor bisa mempercepat perubahan. Perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Kaltim—seperti PT Pertamina, PT Pupuk Kaltim, perusahaan tambang batu bara, dan kehutanan—bisa mengalihkan sebagian dana CSR untuk membangun SMA/SMK di desa-desa prioritas. Beasiswa khusus bagi anak desa, program magang siswa, serta penyediaan bus sekolah antarjemput juga bisa menjadi model yang efektif. Di sisi lain, pemerintah provinsi diminta merevisi prioritas anggaran agar pendidikan di pelosok mendapat porsi lebih besar dibandingkan proyek-proyek prestisius lainnya.

Bagi generasi muda di pelosok Kaltim, akses pendidikan yang terbatas bukan hanya soal sekolah, melainkan peluang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan berkontribusi bagi pembangunan daerah. Tanpa pendidikan menengah yang layak dan dekat, talenta lokal berisiko terbuang sia-sia. Di saat IKN menjadi simbol kemajuan nasional, pemerataan pendidikan di pelosok menjadi ujian nyata komitmen pemerintah terhadap keadilan sosial dan inklusivitas.

Dengan dorongan dari tokoh seperti Aji Mirni Mawarni dan berbagai pihak terkait, diharapkan tahun-tahun mendatang akan melihat lebih banyak SMA/SMK baru berdiri di desa-desa terpencil. Hanya dengan akses pendidikan yang merata, Kalimantan Timur bisa benar-benar mewujudkan visi sebagai provinsi maju yang diukur dari kualitas sumber daya manusianya, bukan semata kekayaan alamnya. Generasi muda pelosok berhak mendapat kesempatan yang sama untuk bermimpi besar dan berkontribusi bagi bangsa.

 

Also Read
Latest News
  • Akses Pendidikan di Pelosok Kalimantan Timur Masih Terbatas: Banyak Desa Belum Punya SMA, Siswa Terpaksa Tinggalkan Kampung
  • Akses Pendidikan di Pelosok Kalimantan Timur Masih Terbatas: Banyak Desa Belum Punya SMA, Siswa Terpaksa Tinggalkan Kampung
  • Akses Pendidikan di Pelosok Kalimantan Timur Masih Terbatas: Banyak Desa Belum Punya SMA, Siswa Terpaksa Tinggalkan Kampung
  • Akses Pendidikan di Pelosok Kalimantan Timur Masih Terbatas: Banyak Desa Belum Punya SMA, Siswa Terpaksa Tinggalkan Kampung
  • Akses Pendidikan di Pelosok Kalimantan Timur Masih Terbatas: Banyak Desa Belum Punya SMA, Siswa Terpaksa Tinggalkan Kampung
  • Akses Pendidikan di Pelosok Kalimantan Timur Masih Terbatas: Banyak Desa Belum Punya SMA, Siswa Terpaksa Tinggalkan Kampung
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad