![]() |
| Ilustrasi AI |
Tarakan, Kalimantan Utara — Dalam momentum peringatan
Hari Lahan Basah Sedunia 2026, Menteri Kehutanan Republik Indonesia,
Raja Juli Antoni, menegaskan kembali komitmen kuat pemerintah terhadap perlindungan
dan rehabilitasi lahan mangrove di Kalimantan Utara (Kaltara). Pernyataan
Menteri mencerminkan peran strategis ekosistem pesisir dalam upaya mitigasi
perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan
masyarakat pesisir sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Acara yang digelar di Kawasan Konservasi Mangrove dan
Bekantan (KKMB) Tarakan itu dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Utara,
pejabat kementerian, organisasi internasional dan sektor swasta yang memiliki
peran dalam upaya pengelolaan ekosistem lahan basah. Pendekatan ini menunjukkan
keseriusan Indonesia dalam menjaga kawasan mangrove sebagai bagian dari
ekosistem tanah basah yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan ekonomi tinggi.
Peran Lahan Mangrove dalam Penyerapan Karbon dan Ketahanan Iklim
Dalam sambutannya, Menhut Raja Juli Antoni menyatakan bahwa
lahan basah termasuk mangrove bukan hanya sekedar tanah basah, tetapi memiliki biodiversitas
tinggi, fungsi ekonomi untuk masyarakat, serta kapasitas besar dalam menyerap
karbon — sehingga menjadi aset penting dalam strategi nasional menangkal
perubahan iklim global.
Menurut data pemerintah, provinsi Kalimantan Utara merupakan
rumah bagi sekitar 326.396 hektare hutan mangrove dan 347.451 hektare
lahan gambut — dua komponen utama dari lahan basah yang vital secara ekologis
dan berperan dalam menyimpan karbon dalam jumlah besar. Area ini menjadi
salah satu wilayah lahan basah terbesar di Indonesia yang berkontribusi
terhadap penyimpanan karbon dan ketahanan wilayah pesisir.
Penyimpanan karbon oleh lahan basah seperti mangrove jauh
berbeda dengan hutan biasa, karena tanah yang basah membatasi proses
dekomposisi organik sehingga karbon tetap tersimpan lama di dalam tanah,
menjadikan mangrove salah satu solusi alamiah (nature-based solution)
dalam mitigasi perubahan iklim.
Komitmen Multi-Pihak untuk Rehabilitasi Mangrove
Menhut turut menyaksikan penandatanganan komitmen
kolaboratif antar berbagai pihak yang terlibat dalam konservasi mangrove di
Kaltara. Kolaborasi ini melibatkan Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi
Kalimantan Utara, mitra pembangunan internasional seperti Global Green
Growth Institute (GGGI), serta sektor swasta termasuk PT Pertamina FP
Tarakan Field dan PT Mustika Minanusa Aurora Tbk.
Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif besar
seperti Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), Forest Programme VI,
dan NASCLIM yang fokus pada rehabilitasi area mangrove yang terdegradasi
dengan pendekatan kolaboratif — menggabungkan kebijakan pemerintah, partisipasi
masyarakat lokal, dukungan pendanaan iklim, dan tanggung jawab korporat.
Melalui model kolaboratif ini, rehabilitasi mangrove tidak
hanya dilakukan lewat penanaman pohon saja, tetapi juga metode regenerasi
alami, pemberdayaan masyarakat pesisir, serta penguatan keterlibatan
pemerintahan daerah dalam perencanaan dan implementasi.
Manfaat Ekologis Mangrove bagi Masyarakat Pesisir
Ekosistem mangrove memiliki peran penting tidak hanya secara
ekologis tetapi juga sosial ekonomi. Bagi masyarakat pesisir, mangrove
berfungsi sebagai:
- Pelindung
garis pantai dari abrasi dan intrusi air laut, sehingga menjaga
permukiman dan infrastruktur dari kerusakan.
- Habitat
bagi berbagai spesies ikan, udang dan biota laut, yang menjadi basis
mata pencaharian masyarakat nelayan tradisional.
- Sumber
pendapatan melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan ekowisata
yang dapat meningkatkan kesejahteraan komunitas lokal.
Keberadaan mangrove juga mendukung keberlanjutan sumber daya
perikanan — yang secara langsung berdampak pada ketahanan pangan dan
kesejahteraan komunitas pesisir di Kaltara.
Kolaborasi dengan Global Partners dan Program Inovatif
Sebagai contoh upaya konkret dalam pengelolaan mangrove,
Kementerian Kehutanan menggandeng pihak internasional melalui Global Green
Growth Institute untuk mengintegrasikan kebijakan nasional dengan praktik
inovatif dalam restorasi mangrove. Kerja sama ini membantu mendesain pendekatan
rehabilitasi yang memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan secara
bersamaan — memperkuat ketahanan wilayah pesisir sekaligus memberikan peluang
mata pencaharian baru bagi masyarakat.
Selain itu, komitmen multi-pihak untuk konservasi ini juga
melibatkan program pembiayaan iklim dan mekanisme penyertaan modal yang
ditujukan untuk memastikan kegiatan rehabilitasi mangrove berjalan secara
berkelanjutan dalam jangka panjang.
Peran Pengetahuan Lokal dalam Konservasi Lahan Basah
Dalam peringatan Hari Lahan Basah tersebut, Menhut juga
mengangkat tema pentingnya menggabungkan pengetahuan tradisional masyarakat
lokal dengan sains modern dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan lahan
basah. Hal ini menunjukkan bahwa konservasi tidak hanya bersifat teknis atau
ilmiah, tetapi juga berkaitan dengan nilai budaya dan pengalaman masyarakat
adat yang telah hidup berdampingan dengan lingkungan pesisir selama puluhan
hingga ratusan tahun.
Pendekatan semacam ini diyakini dapat memperkuat strategi
pengelolaan mangrove yang lebih efektif, karena melibatkan pengalaman generasi
sebelumnya dalam memahami karakteristik alam, pola hidrologi, dan dinamika
kehidupan kawasan pesisir.
Meski Kalimantan Utara memiliki wilayah mangrove yang luas, tantangan tetap ada dalam pengelolaan dan pelestarian kawasan tersebut. Ancaman seperti alih fungsi lahan untuk pertambakan dan pembangunan infrastruktur dapat mempercepat degradasi ekosistem mangrove jika tidak dikelola dengan baik. Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha menjadi kunci untuk mencegah lahan basah ini rusak.
Pemerintah daerah juga terus memperkuat regulasi untuk
memastikan kawasan mangrove terlindungi dari tekanan pembukaan lahan yang
merusak. Hal ini sejalan dengan upaya nasional dalam pengelolaan kawasan
bernilai konservasi tinggi demi menjamin keberlanjutan fungsi ekologis dan
manfaat sosial ekonomi di masa depan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni secara jelas menyampaikan bahwa konservasi mangrove di Kalimantan Utara adalah strategi penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, menghadapi perubahan iklim, sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi pemberdayaan komunitas pesisir. Dengan dukungan berbagai pihak — mulai dari pemerintah pusat dan daerah, mitra internasional, hingga sektor swasta — konservasi serta rehabilitasi mangrove di Kaltara menunjukkan sinergi yang kuat antara kebijakan, pengetahuan lokal, dan aksi nyata di lapangan.
Ekosistem mangrove bukan hanya paru-paru alam yang menyerap
karbon, tetapi juga penjaga pesisir dan pendorong kesejahteraan masyarakat
yang hidup berdampingan dengannya. Inisiatif kolaboratif ini menegaskan
bahwa pembangunan berkelanjutan harus memperhatikan aspek ekologis sekaligus
sosial, demi masa depan yang lebih resilien dan sejahtera.







