Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Lahan Basah Kalimantan Utara Kunci Penyelamat Karbon Dunia: Menteri Kehutanan Tekankan Peranan Strategis Ekosistem Basah

 

Ilustrasi AI

Tarakan, Kalimantan UtaraLahan basah di Kalimantan Utara (Kaltara) kembali mendapat sorotan nasional setelah Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa kawasan ini bukan sekadar wilayah tergenang air, melainkan salah satu kunci penyelamat karbon dunia sekaligus penyangga penting ekosistem global. Pernyataan itu disampaikan pada peringatan Hari Lahan Basah Sedunia yang dipusatkan di Kota Tarakan, Jumat (6/2), yang turut dihadiri pejabat pusat dan daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lingkungan.

Peringatan ini mengusung tema “Wetlands and Traditional Knowledge: Celebrating Cultural Heritage” atau Lahan Basah dan Pengetahuan Tradisional: Merayakan Warisan Budaya, sebuah pesan kuat bahwa pelestarian lingkungan harus berpadu antara sains modern dan kearifan lokal masyarakat adat setempat.

 

Lahan Basah: Lebih dari Sekadar Wilayah Tergenang

Dalam sambutannya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa lahan basah adalah salah satu elemen penting dalam menahan perubahan iklim global karena kemampuannya menyimpan dan menyerap karbon dalam jumlah besar. Lahan basah — termasuk mangrove, lahan gambut, padang lamun, dan rawa — memainkan peran vital sebagai penyerap dan penyimpanan karbon alami.

“Ini bukan hanya tanah yang basah; ini adalah ekosistem bernilai tinggi dengan biodiversitas luar biasa dan kapasitas penyimpanan karbon yang signifikan. Ini adalah aset yang harus kita jaga demi generasi mendatang,” ujar Raja Juli Antoni di hadapan para peserta peringatan.

Indonesia sendiri dikenal memiliki salah satu wilayah lahan basah terluas di dunia. Data Kementerian Kehutanan menyebut bahwa Kaltara memiliki ribuan hektare kawasan mangrove dan lahan gambut yang menjadi bagian dari jaringan lahan basah penting secara global — sekaligus berperan sebagai penyerap besar karbon dan pelindung pesisir.

 

Peran Lahan Basah dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Lahan basah memiliki peran yang signifikan dalam mitigasi perubahan iklim karena tanah yang tergenang air mampu menyimpan karbon jauh lebih efisien dibandingkan hutan tropis biasa. Dalam kondisi basah, tanah organik tidak mudah terdekomposisi sehingga karbon tetap tertahan dalam tanahnya. Ini berbeda dengan lahan kering yang mudah terurai dan melepaskan karbon ke atmosfer.

Studi global menunjukkan bahwa tanah gambut dan lahan basah menyimpan jumlah karbon yang sangat besar — bahkan lebih tinggi dibandingkan sebagian besar hutan tropis di dunia. Dengan demikian, perlindungan lahan basah bukan hanya soal lingkungan lokal, tetapi juga kunci dalam komitmen global mengurangi emisi karbon dioksida dan memperlambat dampak perubahan iklim.

 

Menggabungkan Pengetahuan Tradisional dan Sains Modern

Dalam perayaan Hari Lahan Basah, Raja Juli Antoni juga menekankan pentingnya mengintegrasikan pengetahuan tradisional masyarakat setempat dengan penelitian ilmiah modern untuk mengelola lahan basah secara berkelanjutan.

Menurutnya, masyarakat lokal telah lama hidup berdampingan dengan lingkungan lahan basah. Mereka memahami pola ekologis seperti sistem pasang surut, pola migrasi satwa, hingga teknik tradisional dalam bercocok tanam pada wilayah basah. Pengetahuan ini menjadi modal besar untuk memperkuat kebijakan konservasi lahan basah.

“Masyarakat kita memiliki sejarah panjang dalam memahami bagaimana lahan basah bekerja. Ini adalah warisan budaya yang harus diakui dan dihormati dalam setiap kebijakan pengelolaan,” lanjutnya.

 

Indonesia dan Komitmen Internasional terhadap Lahan Basah

Indonesia adalah salah satu negara anggota Konvensi Ramsar, sebuah perjanjian internasional yang berfokus pada perlindungan lahan basah di seluruh dunia. Hingga saat ini, Indonesia telah mendaftarkan delapan lokasi lahan basah penting di bawah konvensi tersebut, sebagai bagian dari komitmen global merawat ekosistem yang sangat penting ini.

Pendaftaran ini tidak hanya menunjukkan komitmen nasional, tetapi juga peran strategis Indonesia di arena internasional dalam melestarikan sumber daya ekologis yang berdampak luas terhadap perubahan iklim dan keanekaragaman hayati.

 

Ancaman terhadap Lahan Basah dan Upaya Pelestarian

Meski memiliki potensi lingkungan besar, lahan basah di Indonesia tidak luput dari ancaman. Di antaranya adalah alih fungsi lahan menjadi pertanian atau tambak, penebangan liar, serta ekspansi perkebunan yang tidak terkelola secara berkelanjutan. Di Kalimantan Utara sendiri, data menunjukkan bahwa hutan mangrove mengalami penurunan signifikan dalam dua dekade terakhir, hampir mencapai separuh dari luasan awalnya akibat tekanan pembangunan dan aktivitas manusia.

Menanggapi ancaman ini, pemerintah daerah bersama Kementerian Kehutanan maupun lembaga swadaya masyarakat telah menginisiasi berbagai program konservasi dan rehabilitasi, termasuk restorasi mangrove, pelibatan komunitas lokal dalam pengelolaan lahan, dan penguatan peraturan perlindungan lingkungan.

Upaya ini penting tidak hanya untuk menjaga fungsi ekologis lahan basah, tetapi juga mengoptimalkan peran ekonomi yang ditawarkannya, seperti peluang ekowisata, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, serta revitalisasi mata pencaharian masyarakat lokal.

 

Sinergi Multi Pihak dalam Konservasi Lahan Basah

Menanggapi tantangan tersebut, berbagai pihak telah mulai meningkatkan kolaborasi. Di antaranya adalah kemitraan antara pemerintah, lembaga internasional, sektor swasta, hingga komunitas masyarakat demi pelestarian lahan basah yang lebih efektif. Hal ini mencakup penandatanganan deklarasi komitmen bersama hingga kerja sama aksi nyata konservasi dan rehabilitasi ekosistem pesisir di Kalimantan Utara.

Sinergi semacam ini merupakan contoh bagaimana pelestarian lingkungan dapat dikombinasikan dengan perbaikan sosial dan ekonomi, serta memperkuat ketahanan iklim secara holistik. Dukungan investasi berkelanjutan dan mekanisme pembiayaan inovatif juga menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang pelestarian lahan basah.

 

Meluaskan Pengaruh Positif Ekosistem Basah untuk Masa Depan

Lahan basah, terutama yang berada di wilayah pesisir seperti di Kalimantan Utara, memiliki peranan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar tempat hidup flora dan fauna. Mereka membantu menjaga garis pantai dari erosi, menyediakan habitat satwa kritis, menyuplai sumber daya perikanan, serta menyimpan cadangan karbon yang besar — semua ini menyumbang pada kesejahteraan masyarakat dan ketahanan lingkungan jangka panjang.

Melalui pendekatan yang menyatukan ilmu pengetahuan modern dan kebijaksanaan lokal, Indonesia berharap dapat memperkuat pengelolaan lahan basah sebagai kontribusi nyata terhadap mitigasi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Kunjungan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Tarakan dan pernyataannya pada Hari Lahan Basah Sedunia menegaskan bahwa lahan basah di Kalimantan Utara bukan hanya aset nasional tetapi juga bagian penting dari strategi global menyelamatkan planet dari krisis iklim. Dengan peran nyata sebagai penyimpan karbon, penghasil sumber daya hayati, dan ruang hidup masyarakat lokal, pelestarian lahan basah menjadi prioritas yang tak terpisahkan dari tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia.

 

Also Read
Latest News
  • Lahan Basah Kalimantan Utara Kunci Penyelamat Karbon Dunia: Menteri Kehutanan Tekankan Peranan Strategis Ekosistem Basah
  • Lahan Basah Kalimantan Utara Kunci Penyelamat Karbon Dunia: Menteri Kehutanan Tekankan Peranan Strategis Ekosistem Basah
  • Lahan Basah Kalimantan Utara Kunci Penyelamat Karbon Dunia: Menteri Kehutanan Tekankan Peranan Strategis Ekosistem Basah
  • Lahan Basah Kalimantan Utara Kunci Penyelamat Karbon Dunia: Menteri Kehutanan Tekankan Peranan Strategis Ekosistem Basah
  • Lahan Basah Kalimantan Utara Kunci Penyelamat Karbon Dunia: Menteri Kehutanan Tekankan Peranan Strategis Ekosistem Basah
  • Lahan Basah Kalimantan Utara Kunci Penyelamat Karbon Dunia: Menteri Kehutanan Tekankan Peranan Strategis Ekosistem Basah
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad