![]() |
| Ilustrasi AI |
Banjarmasin, 9 Januari 2026 – Di tengah musim hujan yang
sering membawa penyakit pernapasan, Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatatkan
diri sebagai provinsi dengan jumlah kasus super flu tertinggi ketiga di
Indonesia. Virus influenza A H3N2 subclade-K, yang populer disebut super flu
karena penularannya cepat, menempatkan Kalsel di bawah Jawa Timur dan Jawa
Barat. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel menegaskan agar masyarakat tidak
panik karena gejala yang muncul di wilayah ini cenderung ringan hingga
sedang dan dapat diatasi dengan penanganan standar.
Sebagai jurnalis yang sering meliput isu kesehatan di
Kalimantan, saya melihat istilah "super flu" ini memang sempat
membuat resah banyak orang. Media sosial ramai membahasnya sejak akhir 2025,
tapi faktanya, ini bukan virus baru yang mematikan. Ini hanya varian dari
influenza musiman yang sudah dikenal. Yang penting sekarang adalah tetap
waspada, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Apa
sebenarnya yang terjadi di Kalsel, dan bagaimana kita harus menyikapinya?
Apa Itu Super Flu dan Mengapa Kalsel Peringkat Ketiga?
Super flu merujuk pada infeksi virus influenza A H3N2
subclade-K, sebuah subvarian dari influenza tipe A yang termasuk dalam
kategori influenza musiman. Virus ini menular dengan sangat cepat melalui
droplet pernapasan, terutama di musim penghujan seperti sekarang. Meski
penularannya tinggi, Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Diauddin, menekankan bahwa
ini bukan penyakit baru atau lebih berbahaya.
"Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa virus
ini lebih berbahaya atau lebih mematikan dibandingkan flu biasa," ujar
Diauddin dalam pernyataan resminya pada 9 Januari 2026.
Secara nasional, Jawa Timur menduduki peringkat pertama
dengan kasus terbanyak, diikuti Jawa Barat di posisi kedua, dan Kalsel di
peringkat ketiga. Sayangnya, data jumlah kasus spesifik di Kalsel belum dirilis
secara detail oleh Dinkes, tapi peningkatan ini terdeteksi melalui surveilans
rutin di fasilitas kesehatan. Faktor cuaca lembab dan mobilitas penduduk di
Banjarmasin serta kabupaten sekitar diduga turut berkontribusi terhadap
penyebaran.
Gejala Super Flu di Kalsel: Mayoritas Ringan dan Tidak Mematikan
Berbeda dengan kekhawatiran yang beredar, kasus super flu di
Kalsel sebagian besar menunjukkan gejala ringan hingga sedang. Pasien biasanya
mengalami demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan kelelahan –
mirip dengan flu biasa. Tidak ada laporan kasus berat yang memerlukan perawatan
intensif di rumah sakit, apalagi yang berujung fatal.
Diauddin menambahkan, "Sebagian besar kasus yang
ditemukan di Kalsel merupakan gejala sedang bahkan cenderung cukup ringan,
sehingga hanya dibutuhkan penanganan kesehatan standar."
Ini menjadi kabar baik, terutama karena virus ini memang
berisiko lebih tinggi bagi anak-anak dan lansia, yang bisa mengalami komplikasi
jika tidak ditangani. Namun, dengan istirahat cukup, hidrasi, dan obat
simptomatik, mayoritas pasien pulih dalam beberapa hari.
Respons Dinkes Kalsel: Imbauan Waspada Tanpa Panik
Dinkes Kalsel langsung merespons dengan imbauan tegas kepada
masyarakat. Diauddin mengajak semua pihak untuk tetap tenang tapi meningkatkan
kewaspadaan. "Jika gejala flu dirasakan semakin berat, segera periksakan
diri ke fasilitas kesehatan terdekat," katanya.
Langkah pencegahan yang ditekankan meliputi:
- Menerapkan
Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti sering cuci tangan
dengan sabun, menutup mulut saat batuk, dan menghindari kerumunan jika
sedang sakit.
- Menggunakan
masker di tempat umum, terutama bagi yang sedang flu.
- Melakukan
vaksinasi influenza, khususnya bagi kelompok rentan seperti
anak-anak, lansia, dan penderita komorbid. Vaksin ini terbukti efektif
mengurangi risiko keparahan penyakit.
Dari pengalaman saya meliput lonjakan influenza musiman
sebelumnya, seperti pada 2023-2024, pendekatan seperti ini memang berhasil
menekan angka rawat inap. Puskesmas dan rumah sakit di Kalsel juga sudah
meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk stok obat dan tes diagnostik.
Tantangan utama adalah informasi hoaks yang beredar di media
sosial, yang sering melebih-lebihkan bahaya super flu hingga seolah menjadi
pandemi baru. Padahal, Kementerian Kesehatan pusat juga sudah menyatakan bahwa
ini hanyalah influenza musiman biasa. Di Kalsel, dengan iklim tropis yang
mendukung penyebaran virus pernapasan, edukasi masyarakat menjadi kunci.
Harapannya, dengan kewaspadaan kolektif, lonjakan kasus ini
bisa segera mereda. Vaksinasi massal di sekolah dan komunitas lansia bisa
menjadi langkah proaktif. Saya percaya, jika kita semua disiplin menerapkan
PHBS, Kalsel bisa keluar dari peringkat tiga ini dengan cepat dan tanpa korban
signifikan.
Akhirnya, super flu di Kalsel ini adalah pengingat bahwa
kesehatan pernapasan harus selalu menjadi prioritas, terutama di musim hujan.
Dinkes telah memberikan panduan jelas: waspada, tapi jangan panik. Jika ada
gejala, jangan ragu berobat. Mari jaga diri dan keluarga agar tetap sehat di
awal 2026 ini.







