Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Bandara IKN Nusantara Resmi Disetujui untuk Penerbangan Umum

 

IKN, 5 Januari 2026 – Bandara Internasional Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, kini resmi mendapat persetujuan untuk beroperasi sebagai bandara umum. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi saat ditemui awak media di Kantor Kementerian Perhubungan, Senin pagi.

"Sudah disetujui kayaknya bandara IKN untuk umum, kalau saya tidak salah," ujar Menhub Dudy secara singkat.

Sebelumnya, bandara dengan kode ICAO WALK tersebut hanya digunakan untuk penerbangan VVIP guna mendukung kunjungan pejabat negara dan delegasi resmi ke kawasan IKN. Persetujuan baru ini membuka peluang bagi maskapai untuk mengoperasikan penerbangan komersial reguler, baik domestik maupun internasional.

Bandara yang dibangun di atas lahan seluas sekitar 621 hektare ini memiliki runway sepanjang 3.000 meter × 45 meter, menjadikannya salah satu landasan terpanjang di Pulau Kalimantan. Dengan spesifikasi tersebut, bandara mampu menampung pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777 dan Airbus A330, serta pesawat kargo besar.

Pembangunan fisik bandara telah rampung pada akhir 2025. Progres konstruksi menunjukkan percepatan signifikan: pada Juli 2024 mencapai sekitar 40–50 persen, September 2024 naik menjadi 74,79 persen, hingga akhirnya dinyatakan selesai secara keseluruhan. Presiden Joko Widodo bahkan melakukan pendaratan perdana menggunakan Pesawat Kepresidenan RJ-85 pada September 2024.

Proses kalibrasi peralatan navigasi dan keselamatan telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kemenhub. Hingga akhir Januari 2025, total anggaran yang terserap mencapai Rp 3,451 triliun.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa menjelaskan bahwa rencana perubahan status bandara dari khusus VVIP menjadi bandara umum sudah dirancang sejak masa pemerintahan sebelumnya. Namun, operasional penuh masih menunggu aturan final dari Kementerian Sekretariat Negara (Setneg).

"Masih menunggu aturannya di Setneg. Setelah itu baru bisa kita izinkan operasional penerbangan komersial secara penuh," kata Lukman.

Sementara itu, Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) M. Rizal Pahlevi menyatakan kesiapan perusahaan sebagai operator bandara. "Kami siap menjalankan tugas sebagai pengelola bandara umum sesuai kewenangan yang diberikan," tegasnya.

Meski pembangunan fisik telah selesai dan status umum telah disetujui secara prinsip, operasional komersial reguler diperkirakan baru dapat dimulai pada pertengahan hingga akhir 2026. Beberapa faktor penentu meliputi:

  • Penyelesaian regulasi di Setneg
  • Koordinasi jadwal dan slot penerbangan dengan maskapai
  • Penyesuaian operasional terminal, keamanan, serta akses darat menuju pusat pemerintahan IKN

Tahap awal kemungkinan besar akan dimulai dengan rute domestik ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Balikpapan, sebelum diperluas ke rute internasional.

Pembukaan bandara untuk umum diproyeksikan memberikan sejumlah dampak positif. Pertama, mengurangi beban lalu lintas udara di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, yang selama ini menjadi pintu gerbang utama Kalimantan Timur. Kedua, meningkatkan konektivitas langsung ke kawasan IKN sehingga mempermudah mobilitas pegawai pemerintahan, investor, serta masyarakat umum.

Ketiga, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di Penajam Paser Utara dan sekitarnya melalui sektor pariwisata, logistik, properti, serta jasa pendukung aviasi. Bandara ini juga berpotensi menjadi alternatif bandara haji bagi jemaah asal Kalimantan dan Sulawesi.

Persetujuan ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan visi IKN sebagai ibu kota masa depan yang mandiri dan terintegrasi. Pemerintah, operator bandara, serta maskapai diharapkan dapat mempercepat koordinasi agar jadwal operasional komersial dapat terlaksana sesuai target.

 

 

Pariwisata Kaltim Melonjak Berkat Magnet IKN: Tantangan Ke Depan Agar Tak Sekadar Kunjungan Singkat

IKN, 5 Januari 2026 – Sepanjang tahun 2025, sektor pariwisata di Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami pertumbuhan signifikan, dan hampir seluruh lonjakan itu ditopang oleh kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) Nusantara. Glamor proyek ibu kota baru ini berhasil menarik jutaan pasang mata dari seluruh Indonesia, bahkan mancanegara, yang penasaran ingin melihat langsung perkembangan kota masa depan tersebut. Namun, memasuki awal 2026, pertanyaan besar muncul: bisakah Kaltim mengubah kunjungan singkat ke IKN menjadi perjalanan panjang yang benar-benar menggerakkan roda ekonomi daerah penyangga?

Menurut laporan dari media lokal Prokal.co pada 4 Januari 2026, IKN menjadi "pemain tunggal" dalam mendongkrak kunjungan wisatawan sepanjang 2025. Kawasan inti IKN, terutama selama periode libur seperti Natal dan Tahun Baru, mencatat angka kunjungan luar biasa. Otorita IKN (OIKN) mencatat sekitar 37.000 orang mengunjungi kawasan tersebut pada 26 Desember 2025 saja, dengan lebih dari 10.000 kendaraan masuk. Fenomena ini memperkuat posisi IKN sebagai magnet pariwisata baru, di mana banyak wisatawan nusantara datang bukan hanya untuk berwisata alam, tapi juga untuk menyaksikan langsung pembangunan monumental tersebut.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Kaltim, Syarifuddin Tangalindo, menegaskan hal ini. "Kunjungan memang meningkat tajam, tapi tantangannya adalah bagaimana agar orang tidak cuma beberapa jam di IKN lalu pulang. Kita harus arahkan mereka masuk ke paket perjalanan menuju destinasi pendukung," ujar Syarifuddin seperti dikutip dalam artikel tersebut. Ia menambahkan bahwa dukungan pemerintah pusat melalui Otorita IKN menjadi kunci agar ekosistem pariwisata tidak timpang antara pusat kota baru dengan daerah penyangga seperti Balikpapan, Samarinda, dan Paser.

Data dari berbagai sumber menunjukkan tren positif ini. Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, dalam acara Bincang-bincang Pariwisata pada September 2025, menyatakan bahwa pembangunan IKN memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan kepariwisataan. Provinsi ini berhasil menempati peringkat keempat nasional dalam Indeks Pembangunan Pariwisata Nasional (IPKN) 2024 dengan skor 4,54, berkat efek spillover dari IKN. Lonjakan kunjungan wisatawan nusantara di Balikpapan saja mencapai lebih dari 1,6 juta orang hingga pertengahan 2025, sementara target keseluruhan wisatawan nusantara untuk Kaltim di tahun itu mencapai 6,9 juta orang dan diyakini tercapai.

Destinasi pendukung seperti Pulau Derawan, Maratua, dan Sangalaki tetap menjadi favorit wisatawan mancanegara, terutama dari Malaysia, Singapura, China, serta tren positif dari Timur Tengah dan Amerika. Namun, kunjungan ke IKN cenderung bersifat "day trip" atau singkat, sehingga manfaat ekonomi belum merata ke daerah sekitar. Potensi besar ada di Balikpapan dengan wisata mangrove dan kuliner pesisir, Samarinda dengan Sungai Mahakam (meski saat ini terkendala isu keselamatan pasca-insiden), serta wisata budaya dan sejarah di Paser yang belum tergarap maksimal.

Optimisme semakin kuat dengan kabar bahwa Kaltim menjadi kandidat kuat tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. Syarifuddin Tangalindo menyebut, "Jika PON 2028 benar-benar digelar di sini, ini akan menjadi booster luar biasa bagi destinasi wisata alami di sekitar IKN." Infrastruktur kelas dunia di IKN, ditambah fasilitas olahraga yang sudah ada di Samarinda dan Balikpapan, menjadi keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain. Presiden Prabowo Subianto disebut sedang mengevaluasi opsi sebelumnya, menjadikan Kaltim sebagai pilihan terkuat.

Tantangan klasik tetap ada, terutama keterbatasan anggaran. Namun, angin segar datang dari komitmen Otorita IKN untuk mulai memperbaiki destinasi di luar kawasan inti. Intervensi ini diharapkan mempercepat pengembangan tempat-tempat yang selama ini tumbuh secara alami tanpa fasilitas memadai, seperti penambahan akses jalan, sinyal internet yang lebih baik, serta pengelolaan sampah dan konservasi lingkungan.

Secara keseluruhan, pertumbuhan pariwisata Kaltim di 2025 membuktikan bahwa IKN bukan hanya proyek politik, tapi juga katalisator ekonomi baru pasca-era migas. Namun, agar lonjakan ini berkelanjutan, diperlukan strategi terintegrasi: paket wisata gabungan IKN dengan destinasi pendukung, promosi event berskala besar, dan kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, serta pelaku usaha. Jika berhasil, Kaltim bisa menjadi contoh bagaimana pemindahan ibu kota membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, bukan hanya pusatnya saja.

Pariwisata Kaltim kini berada di persimpangan: dari sekadar "efek IKN" menjadi sektor mandiri yang tangguh. Dengan dukungan semua pihak, tahun 2026 bisa menjadi titik balik menuju pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Bumi Etam.

 

 

 

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Bandara IKN Nusantara Resmi Disetujui untuk Penerbangan Umum
  • Bandara IKN Nusantara Resmi Disetujui untuk Penerbangan Umum
  • Bandara IKN Nusantara Resmi Disetujui untuk Penerbangan Umum
  • Bandara IKN Nusantara Resmi Disetujui untuk Penerbangan Umum
  • Bandara IKN Nusantara Resmi Disetujui untuk Penerbangan Umum
  • Bandara IKN Nusantara Resmi Disetujui untuk Penerbangan Umum
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad