Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Jalan Rusak Parah di Kaltim: Gara-Gara Truk Sawit Berpelat Luar, Pajak Lokal Hilang Miliaran

 

Ilustrasi AI

Samarinda, 19 November 2025 – Kerusakan jalan di Kalimantan Timur (Kaltim) semakin mengkhawatirkan, terutama di kawasan perkebunan sawit yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Ratusan truk pengangkut minyak sawit mentah (CPO) yang melintas setiap hari dengan pelat nomor luar provinsi diduga menjadi biang kerok utama. Akibatnya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kaltim bocor deras karena pajak kendaraan tak masuk ke kas daerah. Gubernur Rudy Mas’ud tak tinggal diam; ia tegas memerintahkan penertiban persuasif agar perusahaan sawit segera ganti pelat truk ke nomor lokal bertanda KT.

Perjalanan inspeksi Wakil Gubernur (Wagub) Seno Aji pada Senin (17/11/2025) menjadi pemicu aksi cepat ini. Saat melintasi rute panjang dari Berau menuju Samarinda melalui Tanjung Redeb, Kelay, Muara Wahau, hingga Sangatta, Seno Aji menyaksikan langsung kondisi jalan yang memprihatinkan. "Pelatnya macam-macam: AB, B, DD, DP, dan lainnya. Yang KT paling cuma 5–7 persen," ujar Seno Aji saat briefing pagi di kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kaltim, Selasa (18/11/2025). Pengamatannya ini langsung disampaikan ke Gubernur Rudy Mas’ud, yang langsung mengeluarkan instruksi tegas.

Fenomena truk sawit berpelat luar provinsi bukan hal baru di Kaltim. Provinsi ini, yang kaya akan lahan sawit seluas jutaan hektare, bergantung pada ekspor CPO sebagai penyumbang devisa terbesar. Namun, ironisnya, manfaat ekonomi tak sepenuhnya mengalir ke daerah asal. Truk-truk raksasa bermuatan puluhan ton CPO ini sering kali terdaftar di provinsi lain, seperti Jawa Barat (pelat B) atau Jawa Tengah (AB), untuk alasan efisiensi birokrasi atau pajak lebih rendah. Hasilnya? Pajak kendaraan roda empat itu lenyap dari PAD Kaltim, yang seharusnya bisa dipakai untuk perbaikan infrastruktur.

Dampaknya tak main-main. Di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, misalnya, jalan sepanjang 30–35 kilometer rusak parah akibat beban berat truk sawit yang melintas setiap hari. Lubang-lubang menganga, aspal retak, dan permukaan bergelombang membuat perjalanan warga setempat seperti naik roller coaster. "Jika ini dibiarkan, biaya perbaikan jalan nasional saja bisa membengkak miliaran rupiah," kata seorang warga Kelay yang enggan disebut namanya, sambil mengeluhkan kesulitan mengakses pasar dan sekolah. Data dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim memperkirakan, kerusakan infrastruktur akibat kendaraan berat ini menyumbang hingga 40% dari total anggaran pemeliharaan jalan provinsi setiap tahunnya.

Gubernur Rudy Mas’ud, yang baru saja dilantik, menekankan pendekatan persuasif dalam penertiban. "Lakukan penertiban secara persuasif dan edukatif kepada perusahaan-perusahaan agar segera memindahkan pelat ke KT. Tapi jangan sampai menghambat operasional mereka," tegasnya dalam briefing tersebut. Instruksi ini melibatkan koordinasi lintas instansi: Dishub, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), dan Samsat Kaltim. Rencananya, akan disusun Peraturan Gubernur (Pergub) sebagai payung hukum, bahkan ditingkatkan ke tingkat Peraturan Daerah (Perda) untuk kekuatan lebih mengikat.

Tak hanya soal pajak, isu ini juga menyentuh aspek lingkungan dan sosial. Kawasan Kelay, yang dikelilingi perkebunan sawit milik perusahaan besar, sering kali menjadi saksi bisu konflik lahan dan polusi. Truk-truk yang overload sering meninggalkan jejak debu tebal dan risiko kecelakaan tinggi. "Jika pelat KT diterapkan, tentu pendapatan asli daerah Kaltim akan meningkat. Uang itu bisa balik lagi untuk benahi jalan rusak ini," tambah Seno Aji, yang optimis langkah ini akan mendongkrak PAD hingga 20% di sektor pajak kendaraan.

Pemerintah provinsi juga menyiapkan kolaborasi dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) untuk percepatan perbaikan. Beberapa segmen jalan nasional di rute Berau-Samarinda sudah masuk daftar prioritas, dengan anggaran awal Rp 50 miliar dialokasikan untuk tahun fiskal 2026. Namun, tantangan tetap ada: perusahaan sawit yang enggan pindah pelat karena biaya administrasi dan waktu. Beberapa pengusaha sawit di Samarinda mengaku khawatir prosesnya rumit, meski Pemprov menjanjikan kemudahan seperti layanan door-to-door dari Samsat.

Di tingkat nasional, isu serupa pernah ramai di Sumatera dan Kalimantan. Kementerian Keuangan mencatat, kehilangan PAD akibat pelat silang antarprovinsi mencapai triliunan rupiah setiap tahun. Kaltim, dengan kontribusi sawit nasional mencapai 30%, tak boleh ketinggalan. "Ini momentum bagus untuk reformasi tata kelola kendaraan di sektor perkebunan," komentar pengamat ekonomi lokal, Dr. Andi Rahman, dari Universitas Mulawarman Samarinda.

Warga Kaltim berharap aksi ini tak sekadar wacana. Seorang sopir truk lokal di Sangatta bilang, "Kami yang bayar pajak KT malah kalah saing sama truk luar. Kalau semua rata, jalan lebih aman, pajak lebih adil." Memang, di balik hiruk-pikuk industri sawit, ada cerita sederhana: jalan yang mulus berarti anak-anak bisa sekolah tanpa guncangan, dan petani kecil tak lagi kesulitan angkut hasil panen.

Pemprov Kaltim berkomitmen monitoring ketat. Tim gabungan akan turun lapangan mulai pekan depan, dengan target 50% truk sawit berpelat KT dalam tiga bulan. Jika berhasil, bukan hanya jalan rusak yang teratasi, tapi juga pajak hilang yang kembali mengisi kas daerah. Kaltim, yang bersiap jadi ibu kota baru Nusantara, butuh fondasi kuat seperti ini. Tanpa infrastruktur prima, mimpi jadi pusat ekonomi hijau bakal tertatih.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Jalan Rusak Parah di Kaltim: Gara-Gara Truk Sawit Berpelat Luar, Pajak Lokal Hilang Miliaran
  • Jalan Rusak Parah di Kaltim: Gara-Gara Truk Sawit Berpelat Luar, Pajak Lokal Hilang Miliaran
  • Jalan Rusak Parah di Kaltim: Gara-Gara Truk Sawit Berpelat Luar, Pajak Lokal Hilang Miliaran
  • Jalan Rusak Parah di Kaltim: Gara-Gara Truk Sawit Berpelat Luar, Pajak Lokal Hilang Miliaran
  • Jalan Rusak Parah di Kaltim: Gara-Gara Truk Sawit Berpelat Luar, Pajak Lokal Hilang Miliaran
  • Jalan Rusak Parah di Kaltim: Gara-Gara Truk Sawit Berpelat Luar, Pajak Lokal Hilang Miliaran
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad