![]() |
| Jalan yang akan menghubungkan Sabah dan Kaltara. Ilustrasi: IKNTime |
SABAH-Tanggal 10 Oktober 2025 akan tercatat sebagai hari bersejarah bagi Borneo. Saat Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim membacakan Anggaran Nasional 2026 di Parlimen, satu baris pengumuman langsung membuat ribuan warga Sabah dan Kalimantan Utara menahan napas: pembangunan jalan raya baru Kalabakan (Sabah) – Simanggaris (Kalimantan Utara) resmi dialokasikan dana RM1.2 miliar dan akan dimulai pada Maret 2026. Ini bukan sekadar ruas aspal baru—melainkan urat nadi yang akan menghubungkan Pan-Borneo Highway Malaysia langsung ke jantung Ibu Kota Nusantara (IKN), mengubah pulau raksasa itu dari wilayah terfragmentasi menjadi koridor logistik terpadu Asia Tenggara Timur.
Proyek sepanjang 88 kilometer ini akan menjadi lanjutan
langsung dari Kalabakan-Serudong yang sudah 70% selesai. Dari Simanggaris,
hanya 120 kilometer lagi ke Pelabuhan Malundung di Tarakan, lalu 400 kilometer
laut ke Sepaku—pintu gerbang IKN. Waktu tempuh Tawau-Nusantara yang dulu 24 jam
via ferry kini dipangkas menjadi 8-10 jam darat-laut. “Ini game changer,” kata
Datuk Christina Liew, Menteri Pelancongan, Kebudayaan dan Alam Sekitar Sabah,
saat ditemui di Kota Kinabalu sehari setelah pengumuman anggaran. “Kami bukan
lagi ujung dunia; kami pintu masuk Borneo.”
Anggaran 2026 mengalokasikan RM800 juta untuk pembinaan
fizikal dan RM400 juta untuk kompleks ICQS (Immigration, Customs, Quarantine,
Security) terintegrasi di Simanggaris. Desain jalan kelas R3 dengan empat
lorong di segmen rawan banjir, ditambah 12 jambatan baru dan terowong pendek di
Bukit Mantri. Kontraktor utama—gabungan Syarikat Pembinaan Malaysia dan
kontraktor lokal Sabah—diberi tempoh 36 bulan, dengan sasaran siap 2029,
bertepatan dengan operasional penuh Istana Negara di IKN.
Mengapa proyek ini begitu strategis? Borneo memiliki luas
743.000 km²—hampir sebesar Perancis dan Jerman digabung—tapi selama ini
terbelah oleh empat entitas politik: Sabah, Sarawak, Brunei, dan lima provinsi
Kalimantan. Konektivitas darat lintas batas nyaris nol. Jalan
Kalabakan-Simanggaris mengubah itu. Analisis mendalam menunjukkan empat dampak
langsung yang saling terkait.
Pertama, ledakan logistik dan perdagangan. Saat ini,
nilai perdagangan Sabah-Kalimantan Utara hanya RM3.8 miliar setahun, mayoritas
melalui laut. Dengan jalan baru, Kementerian Perdagangan Malaysia
memproyeksikan kenaikan 35% pada 2030. Barang dari Pelabuhan Tawau—kelapa
sawit, kayu balak, hasil laut—bisa langsung ke IKN tanpa transit Sandakan.
Sebaliknya, material konstruksi IKN seperti semen dan besi dari Semenanjung
bisa masuk via Sabah dengan biaya 22% lebih murah.
Kedua, investasi asing mengalir deras. Investor China
dan Korea Selatan yang sudah menanam US$5 miliar di IKN kini melirik Sabah
sebagai basis logistik. “Mereka butuh gudang 500.000 m² di Tawau,” ungkap Datuk
Seri Wilfred Madius Tangau, bekas Menteri Perdagangan Sabah. Zona Ekonomi Khas
Kalabakan (KEK) yang diumumkan bersamaan akan menawarkan cukai 0% selama 15
tahun bagi industri pemprosesan kelapa sawit dan makanan halal—langsung
menyasar pasar Nusantara 2 juta penduduk tahap awal.
Ketiga, BIMP-EAGA hidup kembali. Koridor baru ini
menghidupkan semangat Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth
Area yang sempat mati suri. Brunei, hanya 200 km dari Simanggaris via Limbang,
bisa memanfaatkan jalur ini untuk ekspor LNG dan impor barang konsumsi. Sarawak
pula terhubung melalui Lawas-Mengkalap-Trusan. “Kami sedang mengkaji lanjutan
ke Long Bawan dan Malinau,” kata seorang pegawai Kementerian Kerja Raya Sabah
yang enggan disebut namanya. Jika terealisasi, Pan-Borneo akan menjadi
lingkaran sempurna: dari Kota Kinabalu ke Pontianak, lalu ke Nusantara, kembali
ke Kuching.
Keempat, dampak sosial dan pariwisata. Bagi 150.000
penduduk perbatasan—suku Murut, Tidung, dan Lundayeh—jalan ini berarti akses ke
hospital dan sekolah yang lebih baik. Wisatawan pula akan melonjak. Paket
“Borneo Overland” dari Kinabalu ke Derawan via Simanggaris diprediksi jadi tren
baru, mirip Golden Triangle Thailand-Laos-Myanmar. “Kami target 500.000
pelancong tambahan setahun,” ujar Christina Liew.
Tantangan tetap mengintai. Isu lingkungan jadi sorotan
utama: jalur melewati Hutan Simpan Kalabakan yang masih habitat orangutan dan
gajah kerdil Borneo. Kementerian sudah menjanjikan koridor hidupan liar dan
pemindahan 12 km rute untuk hindari kawasan sensitif. Masalah lain: keselamatan.
Jalur lama Kalabakan-Tawau sering dilanda banjir dan tanah runtuh. Teknologi
geosintetik dan saliran moden dijanjikan, tapi pelaksanaan jadi kunci.
Meski begitu, euforia tak terbendung. Di media sosial Sabah,
hashtag #JalanSimanggaris trending tiga hari berturut-turut. Seorang peniaga di
Tawau berkomentar: “Dulu kami jual ikan ke Tarakan pakai bot kecil. Sekarang
boleh hantar lori penuh ke Nusantara.” Sementara di Simanggaris, bupati Kaltara
menyambut baik: “Ini bukan jalan Malaysia atau Indonesia—ini jalan Borneo.”
Pada 2029, saat Presiden Indonesia pertama kali melintasi
ICQS Simanggaris menuju Sabah, dunia akan melihat bukti nyata: Borneo bukan
lagi pulau terpisah. Ia satu kesatuan ekonomi, satu napas budaya, satu koridor
emas yang menghubungkan Semenanjung Malaya hingga Mindanao. Jalan
Kalabakan-Simanggaris bukan akhir—ia permulaan. Dan permulaan itu dimulai dari
anggaran RM1.2 miliar pada Jumaat petang yang cerah di Kuala Lumpur itu.







