Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Ironi Kutai Timur: Kaya Batu Bara Terbesar di Kaltim, Tapi Tak Punya Data Produksi Sendiri – Daerah Hanya Jadi Penonton Kekayaan Alamnya Dikeruk

 

Ilustrasi AI

Kalimantan Timur – Kutai Timur (Kutim), kabupaten penghasil batu bara terbesar di Kalimantan Timur, mengalami ironi pahit: kekayaan alamnya terus dikeruk habis-habisan oleh perusahaan tambang, tapi pemerintah daerah tak memiliki data pasti berapa ton batu bara yang benar-benar digali dari perut buminya. Akibatnya, Kutim hanya menerima “remah-remah” Dana Bagi Hasil (DBH) tanpa bisa memverifikasi keakuratan angka produksi.

Ketua DPRD Kutim, Jimmi, blak-blakan mengungkap fakta memilukan ini. “Itu murni di Kementerian ESDM, pemerintah daerah juga terbatas di situ. Kewenangannya di (Pemerintah) Provinsi,” ujar Jimmi dengan nada kecewa saat ditemui di Sangatta, belum lama ini.

Menurut Jimmi, kondisi ini membuat Kutim seperti “sapi perah” yang terus dieksploitasi tanpa tahu berapa liter susu yang diambil. “Ironis sebenarnya. Potensi sumber daya alam dari kabupaten dan kota, tapi pengelolaan keuangannya di provinsi dan pusat,” tegasnya. Setiap tahun, ratusan juta ton batu bara diekspor dari pelabuhan Kutim, tapi data resmi produksi hanya datang dari laporan Kementerian ESDM atau Dinas ESDM Provinsi Kaltim, tanpa ada mekanisme verifikasi independen dari daerah.

Akibatnya, penerimaan daerah dari sektor tambang sering kali tidak proporsional. DBH yang diterima Kutim kerap jauh di bawah potensi riil, sementara perusahaan tambang meraup triliunan rupiah. “Daerah penghasil seperti Kutim berada dalam posisi lemah. Kami hanya menerima angka jadi, tanpa bisa cek langsung di lapangan,” tambah Jimmi.

Untuk mengakhiri ironi ini, DPRD Kutim berencana mengambil langkah tegas: mendorong audit independen terhadap seluruh produksi batu bara di wilayahnya. “Kami mau mengajak semua pihak, provinsi maupun pusat, untuk duduk bersama kabupaten penghasil supaya lebih transparan. Artinya ada rasa lega melihat bagaimana potensi yang ada ini bisa betul-betul bermanfaat untuk masyarakat,” ungkap Jimmi penuh semangat.

Audit independen ini diharapkan melibatkan tim ahli dari universitas, lembaga audit swasta, dan pengawas independen. Tujuannya bukan hanya memperjelas angka produksi riil, tapi juga meningkatkan DBH yang selama ini dinilai “nggak adil”. “Bayangkan, jika data selama ini salah 10 persen saja, berapa triliun rupiah yang hilang dari kas daerah? Itu bisa untuk bangun sekolah, rumah sakit, atau jalan di desa-desa terpencil,” kata Jimmi.

Senada dengan itu, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kutim, Syahfur, juga mengakui keterbatasan daerah. “Kami selama ini koordinasinya ke Kementerian ESDM dan Dinas ESDM Provinsi,” tutur Syahfur. Penerimaan dari profit sharing atau bagi hasil perusahaan hanya diterima sebagai angka tetap, tanpa tahu detail volume produksi, harga jual, atau royalti yang sebenarnya.

“Tapi ke depan kami berencana berkoordinasi dengan Bapenda Provinsi untuk melakukan audit independen sehingga lebih transparan,” janji Syahfur. Ia menyebut, langkah ini akan dimulai awal 2026 dengan membentuk tim gabungan daerah-provinsi-pusat.

Di lapangan, ironi ini terlihat jelas. Ribuan truk batu bara hilir mudik setiap hari di jalan-jalan Kutim, meninggalkan debu dan kerusakan infrastruktur. Perusahaan tambang besar seperti PT Kaltim Prima Coal, PT Berau Coal, atau anak perusahaan lainnya beroperasi di ratusan IUP, tapi data produksi mereka “rahasia” bagi pemda. “Kami tahu ada tambang di sana, tapi berapa ton yang keluar? Kami cuma lihat dari laporan atas,” keluh seorang pegawai Bapenda Kutim.

Warga Kutim juga merasakan dampaknya. “Tambang banyak, tapi jalan rusak, banjir, dan polusi. DBH kecil, program untuk rakyat minim,” ujar Hasan, warga Sangatta Utara. Menurut data BPS Kutim 2024, kontribusi sektor tambang mencapai 65 persen PDRB, tapi angka kemiskinan masih di atas 7 persen.

Jimmi menegaskan, audit independen bukan untuk “ganggu” perusahaan, tapi untuk keadilan. “Kami ingin transparansi. Jika produksi riil lebih besar, DBH harus naik. Uang itu untuk kesejahteraan masyarakat Kutim, bukan hilang entah ke mana,” tegasnya.

Langkah ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Tokoh masyarakat, akademisi Universitas Kutai Timur, hingga LSM lingkungan siap dilibatkan. “Ini momentum perubahan. Kutim harus punya data sendiri, bukan lagi jadi penonton di rumah sendiri,” kata Dosen Ekonomi Unikut, Dr. Ahmad Zainal.

Syahfur menambahkan, hasil audit nanti akan dijadikan dasar negosiasi DBH dengan pusat. “Kami targetkan DBH tambang naik minimal 30 persen di 2027. Itu realistis jika data transparan,” ujarnya.

Di tengah transisi energi hijau dan rencana penghentian tambang batu bara baru, ironi Kutim menjadi pelajaran berharga. Daerah kaya SDA tak boleh lagi “buta data”. Dengan audit independen, Kutim berharap kekayaan alamnya benar-benar kembali ke rakyat, bukan hanya jadi angka di laporan pusat.

Ironi ini harus berakhir. Kutai Timur bukan lagi “raja batu bara tanpa mahkota”. Saatnya daerah penghasil ambil kendali atas nasibnya sendiri. Transparansi data produksi adalah kunci: dari ironi menjadi inspirasi bagi daerah penghasil lain di Indonesia.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Ironi Kutai Timur: Kaya Batu Bara Terbesar di Kaltim, Tapi Tak Punya Data Produksi Sendiri – Daerah Hanya Jadi Penonton Kekayaan Alamnya Dikeruk
  • Ironi Kutai Timur: Kaya Batu Bara Terbesar di Kaltim, Tapi Tak Punya Data Produksi Sendiri – Daerah Hanya Jadi Penonton Kekayaan Alamnya Dikeruk
  • Ironi Kutai Timur: Kaya Batu Bara Terbesar di Kaltim, Tapi Tak Punya Data Produksi Sendiri – Daerah Hanya Jadi Penonton Kekayaan Alamnya Dikeruk
  • Ironi Kutai Timur: Kaya Batu Bara Terbesar di Kaltim, Tapi Tak Punya Data Produksi Sendiri – Daerah Hanya Jadi Penonton Kekayaan Alamnya Dikeruk
  • Ironi Kutai Timur: Kaya Batu Bara Terbesar di Kaltim, Tapi Tak Punya Data Produksi Sendiri – Daerah Hanya Jadi Penonton Kekayaan Alamnya Dikeruk
  • Ironi Kutai Timur: Kaya Batu Bara Terbesar di Kaltim, Tapi Tak Punya Data Produksi Sendiri – Daerah Hanya Jadi Penonton Kekayaan Alamnya Dikeruk
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad