Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Industri Non-Tambang Tancap Gas: Ekonomi Kaltim Tumbuh 4,35 Persen Kumulatif hingga Triwulan III 2025 – Transformasi Menuju Struktur Ekonomi Lebih Beragam

 

Ilustrasi AI

Samarinda – Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan ketangguhan ekonomi di tengah perlambatan sektor tambang. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat pertumbuhan ekonomi kumulatif (c-to-c) sebesar 4,35 persen dari Triwulan I hingga III 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa provinsi kaya sumber daya alam ini mulai bergeser dari ketergantungan tambang menuju industri non-tambang yang lebih sustainable.

Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa geliat sektor non-tambang menjadi pendorong utama. “Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya kinerja ekonomi di sebagian besar lapangan usaha, kecuali lapangan usaha pertambangan dan penggalian serta lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi,” ujar Yusniar dalam rilis resmi di Samarinda, Minggu (9/11/2025).

Tiga sektor unggulan mencatat laju pertumbuhan tertinggi. Industri pengolahan melesat 12,48 persen, disusul penyediaan akomodasi dan makan minum 11,98 persen, serta jasa lainnya 11,67 persen. Sektor-sektor ini menjadi penyelamat di saat pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi minus 0,32 persen, serta jasa keuangan dan asuransi minus 0,31 persen.

Yusniar menekankan bahwa industri pengolahan, khususnya pengolahan non-migas seperti kelapa sawit, kayu, dan produk turunannya, menjadi motor penggerak utama. “Kumulatif, industri pengolahan jadi salah satu sektor yang menyokong pertumbuhan ekonomi Kaltim hingga triwulan III 2025,” tambahnya. Pabrik-pabrik di Balikpapan, Samarinda, dan Bontang beroperasi full capacity, menyerap ribuan tenaga kerja lokal dan meningkatkan nilai tambah produk ekspor.

Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tetap menjadi tulang punggung dengan pertumbuhan 6,25 persen. “Selain itu, pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) juga meningkat 4,82 persen, mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga di tengah perlambatan global,” terang Yusniar. Hal ini terlihat dari ramainya mal, hotel, dan restoran di kota-kota besar Kaltim, terutama didorong pariwisata dan event nasional seperti persiapan IKN.

Komponen lain yang positif adalah pengeluaran lembaga non-profit rumah tangga (PK-LNPRT) naik 2,33 persen dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 2,27 persen. Investasi di sektor manufaktur dan infrastruktur pendukung IKN menjadi katalisator. Namun, pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-Pemerintah) menjadi satu-satunya yang kontraksi tajam minus 5,77 persen, akibat efisiensi anggaran dan fokus pada proyek strategis jangka panjang.

“Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-Pemerintah) adalah satu-satunya yang mengalami kontraksi yaitu sebesar 5,77 persen,” kata Yusniar. Penurunan ini disebabkan penghematan belanja operasional untuk dialihkan ke pembangunan infrastruktur IKN dan program sosial seperti MBG serta bansos tepat sasaran.

Kinerja positif ini menjadi sinyal kuat transformasi ekonomi Kaltim. Dari yang dulu bergantung 60-70 persen pada tambang batu bara, kini kontribusi non-tambang semakin dominan. “Ini bukti Kaltim siap menghadapi era pasca-tambang. Industri pengolahan dan jasa akan jadi masa depan kita,” ujar Ekonom Universitas Mulawarman, Prof. Ahmad Zainal.

Di Balikpapan, misalnya, kawasan industri Kariangau mencatat peningkatan produksi CPO dan turunannya hingga 15 persen. Hotel dan restoran di Samarinda ramai berkat wisatawan domestik yang datang melihat progres IKN. “Bisnis kami naik 20 persen tahun ini. Tamu dari Jakarta dan Surabaya banyak,” cerita pemilik hotel di Samarinda.

Sektor jasa lainnya seperti transportasi, logistik, dan digital juga melonjak seiring digitalisasi UMKM. Platform e-commerce lokal dan aplikasi pengiriman barang tumbuh pesat, didukung infrastruktur jalan tol Balikpapan-Samarinda.

Yusniar optimis pertumbuhan triwulan IV akan lebih tinggi lagi. “Dengan libur akhir tahun dan event besar, kami proyeksi full year 2025 bisa tembus 5 persen,” katanya. Dukungan dari Pemprov Kaltim melalui insentif pajak bagi industri non-tambang menjadi kunci.

Gubernur Kaltim Akmal Malik menyambut baik data ini. “Ini hasil kerja keras kita diversifikasi ekonomi. Tambang tetap penting, tapi non-tambang harus jadi primadona,” ujarnya.

Di tengah harga komoditas global yang fluktuatif, Kaltim membuktikan diri sebagai provinsi resilien. Pertumbuhan 4,35 persen kumulatif ini lebih tinggi dari nasional yang diproyeksi 5 persen full year, tapi dengan struktur yang lebih seimbang.

Bagi masyarakat, pertumbuhan ini berarti lapangan kerja baru. Ribuan lowongan di pabrik pengolahan dan hotel terbuka lebar. “Anak muda Kaltim sekarang punya pilihan karir di luar tambang,” kata Yusniar.

Transformasi ini sejalan dengan visi IKN sebagai smart forest city. Kaltim tidak lagi “hanya” penyangga ibu kota baru, tapi juga pusat industri dan jasa di Indonesia timur.

Dengan industri non-tambang tancap gas, ekonomi Kaltim melaju kencang menuju masa depan yang lebih hijau dan inklusif. Pertumbuhan 4,35 persen hingga triwulan III bukan akhir, tapi awal dari era baru Bumi Etam yang mandiri dan berkelanjutan.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Industri Non-Tambang Tancap Gas: Ekonomi Kaltim Tumbuh 4,35 Persen Kumulatif hingga Triwulan III 2025 – Transformasi Menuju Struktur Ekonomi Lebih Beragam
  • Industri Non-Tambang Tancap Gas: Ekonomi Kaltim Tumbuh 4,35 Persen Kumulatif hingga Triwulan III 2025 – Transformasi Menuju Struktur Ekonomi Lebih Beragam
  • Industri Non-Tambang Tancap Gas: Ekonomi Kaltim Tumbuh 4,35 Persen Kumulatif hingga Triwulan III 2025 – Transformasi Menuju Struktur Ekonomi Lebih Beragam
  • Industri Non-Tambang Tancap Gas: Ekonomi Kaltim Tumbuh 4,35 Persen Kumulatif hingga Triwulan III 2025 – Transformasi Menuju Struktur Ekonomi Lebih Beragam
  • Industri Non-Tambang Tancap Gas: Ekonomi Kaltim Tumbuh 4,35 Persen Kumulatif hingga Triwulan III 2025 – Transformasi Menuju Struktur Ekonomi Lebih Beragam
  • Industri Non-Tambang Tancap Gas: Ekonomi Kaltim Tumbuh 4,35 Persen Kumulatif hingga Triwulan III 2025 – Transformasi Menuju Struktur Ekonomi Lebih Beragam
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad