![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN, 1 Oktober 2025 – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali menegaskan komitmennya dalam membangun sumber daya manusia melalui peluncuran program Coding Mama dan Difabel Batch V. Acara pembukaan digelar pada Jumat, 26 September 2025, di Auditorium Kantor Otorita IKN, Kalimantan Timur, dihadiri 45 peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga dan penyandang disabilitas dari lima wilayah di provinsi tersebut. Program ini dirancang untuk meningkatkan literasi digital, membekali peserta dengan keterampilan teknologi guna mendukung kemandirian ekonomi, sekaligus mewujudkan visi IKN sebagai “Kota Dunia untuk Semua.”
Kurikulum Praktis untuk Transformasi Digital Pelatihan
Coding Mama dan Difabel Batch V berlangsung selama 10 minggu, menawarkan
kurikulum yang mencakup penggunaan Microsoft 365 untuk produktivitas, desain
grafis dengan alat seperti Canva, pengembangan website melalui platform
no-code, serta teknik presentasi profesional. Modul keamanan digital menjadi
fokus awal untuk membekali peserta dengan kesadaran terhadap ancaman siber.
“Kami ingin memastikan ibu rumah tangga dan sahabat difabel tidak hanya paham
teknologi, tapi juga bisa menerapkannya untuk meningkatkan taraf hidup,” ujar
Deputi Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN, Mohammed Ali Berawi, dalam
sambutan pembukaan. Kolaborasi dengan mitra seperti Dekstop Media memastikan
materi pelatihan relevan dengan kebutuhan pasar.
Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga dan Difabel Program Coding
Mama, yang pertama kali digulirkan pada 2022, menargetkan ibu rumah tangga,
termasuk mantan pekerja migran perempuan, untuk menguasai keterampilan seperti
pembuatan website dan pemasaran digital. Di IKN, kurikulum ini disesuaikan
dengan konteks lokal, mengintegrasikan elemen budaya Kalimantan seperti motif
Dayak dalam desain grafis. Sementara itu, komponen Difabel memastikan
inklusivitas dengan menyediakan fasilitas aksesibel seperti subtitle langsung
untuk tunarungu dan perangkat asistif seperti screen reader untuk tunanetra.
“Saya kini bisa membuat poster promosi untuk kelompok usaha kami,” ungkap Andi,
peserta difabel dari Balikpapan, yang tampak antusias. Sejak awal program,
lebih dari 150 lulusan telah berhasil menerapkan keterampilan ini, dengan
beberapa mendirikan UMKM berbasis digital.
Dampak Ekonomi dan Sosial Program ini bukan hanya soal
keterampilan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi. Otorita IKN memperkirakan
inisiatif ini dapat menyumbang hingga Rp30 miliar bagi ekonomi kreatif
Kalimantan Timur dalam tiga tahun ke depan, terutama melalui UMKM digital yang dikelola
peserta. Dengan IKN menargetkan 1,9 juta penduduk pada 2035, pelatihan ini
menjadi fondasi penting untuk menciptakan talenta digital yang mendukung visi
Indonesia Emas 2045. Program ini juga menjawab kesenjangan gender dan disabilitas
di sektor teknologi, di mana perempuan hanya menyumbang 25% tenaga kerja IT
nasional, dan difabel kurang dari 5%. Kolaborasi dengan mitra global seperti
Microsoft dan Google for Startups membuka peluang sertifikasi internasional,
memungkinkan lulusan bersaing di pasar regional.
Tantangan dan Solusi Meski mendapat sambutan positif,
program ini menghadapi sejumlah tantangan. Konektivitas internet di wilayah
pedesaan sekitar IKN masih terbatas, meskipun Otorita telah mengalokasikan
Rp200 miliar untuk pengembangan jaringan fiber optik. Selain itu, persepsi
bahwa teknologi adalah domain laki-laki masih menjadi hambatan kultural. Untuk
mengatasinya, Otorita IKN berencana menggandeng komunitas lokal dan influencer
untuk kampanye literasi digital, sekaligus mempercepat perluasan infrastruktur
internet. “Kami ingin memastikan tidak ada yang tertinggal dalam transformasi
digital ini,” tegas Berawi.
Langkah ke Depan Keberhasilan Batch V menjadi pijakan
untuk rencana ambisius Batch VI, yang akan memasukkan modul kecerdasan buatan
(AI) dan pemasaran digital berbasis data. Ini sejalan dengan kebutuhan Industri
4.0, di mana keahlian teknologi mutakhir menjadi kunci daya saing. Program ini
juga memperkuat komitmen Indonesia terhadap UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang
Penyandang Disabilitas, dengan menjamin akses pendidikan dan pekerjaan yang
setara. Di IKN, yang dirancang sebagai kota ramah difabel dengan fasilitas
seperti jalur pejalan kaki bertekstur, Coding Mama dan Difabel menjadi bukti
bahwa pembangunan inklusif adalah inti dari Nusantara.
Cerita dari Lapangan Salah satu peserta, Siti Aminah, ibu
rumah tangga dari Tenggarong, berbagi pengalamannya: “Saya belajar membuat
website untuk jualan kerajinan tangan. Sekarang, saya bisa promosikan produk
sampai ke luar kota.” Cerita serupa datang dari Budi, penyandang tunarungu,
yang kini menjadi mentor bagi komunitasnya setelah menguasai desain grafis.
Kisah-kisah ini menggambarkan bagaimana program ini tidak hanya mengajarkan
teknologi, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian.
Visi Masa Depan Coding Mama dan Difabel Batch V adalah
cerminan dari semangat IKN untuk membangun kota yang tidak hanya modern, tetapi
juga manusiawi. Dengan setiap baris kode yang ditulis, peserta menorehkan
langkah menuju kedaulatan digital. Otorita IKN berharap program ini terus
melahirkan talenta yang mampu menggerakkan roda ekonomi lokal, sekaligus
menjadikan Nusantara sebagai model kota inklusif di panggung global. Saat IKN
bersiap menyambut penduduk baru, inisiatif ini menjadi pengingat bahwa masa depan
dibangun oleh tangan-tangan yang berani belajar, dari dapur hingga bilik-bilik
komunitas difabel.







