Bayangannya sederhana—pengumuman Lomba Cerpen Lintas Negara bertema Tembawang untuk Kemuliaan dan Kejayaan Bangsa Dayak, bukan digelar di panggung penuh lampu, melainkan dirilis secara daring melalui situs resmi sastrasayak.com pada 8 September 2025. Tapi justru di kesunyian digital itulah, gema Tembawang disiarkan, membangkitkan akar dan cerita yang lama tertidur.
Nama-Nama Pemenang dan Hadiahnya
Dari ratusan naskah yang dikirim, tiga lokasi—Sarawak,
Kalimantan Barat, dan lainnya—menjadi medan saing kreativitas. Berikut daftar
lengkap pemenang dan karya mereka dari sumber Suara Belantara Borneo:
Juara 1–3:
- Juara
1: Clyton Anak Robert (Sarawak) – Pidara
- Juara
2: Maria Fransiska (Sanggau–Sekadau) – Doa Akar
- Juara
3: Oktavianus Ngumbang (Sintang) – Madang Engkabang Rinda
Juara Harapan 1–3:
- Agustinus
Hertanto (Sanggau) – Purnama Redup di Bawah Durian yang Berbunga
- Agustina
(Pontianak) – Tembawang Terakhir Bukit Marakng
- Ricky
Setiawan Pabayo (Kubu Raya) – Tembawang Penjaga Langit
Karya Favorit 1–5:
- Benedict
Anak Samling (Sarawak) – Gunung Siamang Emas
- Fadli
Rahman (Banjarbaru) – Telur Emas di Hulu Sungai
- Tina Lie
(Sanggau) – Tamak
- Kristian
Malat (Kaltim) – Petualangan Bunau
- N.
Diana (Bali) – Tembawang Palagantong
Para pemenang menerima paket apresiasi yang solid: uang
tunai, sertifikat, T-shirt bertema Tembawang, buku Filsafat
Dayak, dan kehormatan untuk karyanya diterbitkan dalam Antologi Cerpen
Tembawang 2025.
Dari Ide Iseng hingga Platform Digital
Kilas balik ke awal—gagasan lomba muncul saat Alexander
Mering, Ketua Panitia, sedang bersama Masri Sareb Putra menikmati
durian di Desa Jangkang Benua, Sanggau, pertengahan Maret 2025. Di antara canda
dan aroma buah yang jatuh, muncul pikiran: bagaimana jika tembawang—kebun-hutan
adat yang ihwalnya kaya—dibawa ke dalam cerita supaya generasi muda Dayak
kembali merasakannya sebagai bagian dari identitas mereka.
Mereka ajak Jaya Ramba, penyair besar dari Sarawak,
dan Munaldus (atau acap disebut Liu Ban Fo), sastrawan Dayak dan
pentolan komunitas sastra. Dari nyandau durian itu pun, lahir ide lomba dan
agenda lanjutan seperti workshop menulis.
Perjalanan Lomba ke Panggung Digital
Pendaftaran cerpen dibuka sejak Mei hingga 4 Juli 2025,
memberi peluang luas bagi penulis dari kedua sisi Borneo. Panitia menyaring
naskah-naskah untuk kurasi di Agustus, sebelum akhirnya diputuskan
secara adil oleh dewan juri berbasis merit—bukan nama atau reputasi.
Situs resmi dan media partner seperti Suara Belantara Borneo
lalu menuntaskan pengumuman pada 6–8 September 2025, mengumbar hasil dan
mengirim kegembiraan tanpa lampu sorot—cuma tulisan di laman web yang bisa
dibuka siapa saja dari belahan dunia mana pun.
Tembawang: Lebih dari Agroforestry, Sebuah Kosmos
Tembawang dalam narasi ini bukan cuma kebun bekas ladang
yang dibiarkan tumbuh. Bagaimanapun, ia adalah lanskap kosmologis: jaringan
biologis yang mengikat masyarakat Dayak ke leluhur, ke ritual, dan ke alam
semesta itu sendiri. Mering menegaskan, karya pemenang seperti “Pidara” bukan
cuma bercerita; ia merangkul naluri mengenal tembawang kembali sebagai
"rumah jiwa", bukan sekadar simbol belaka.
Literasi sebagai Suara Perlawanan Budaya
Pengumuman daring ini tidak membuat lomba kehilangan
magis—justru menegaskan bahwa susastraan dan warisan budaya bisa ditemukan dan
dirayakan dalam bentuk paling modern sekalipun. Dari layar ponsel, generasi
muda Dayak di Sabang hingga Merauke, Kuching hingga Sanggau—semua bisa masuk,
baca, dan merasa bangga bahwa tembawang mereka dihargai di era digital.
Dan kalau kamu penasaran mengeksplorasi cerpen pemenang
baris demi baris atau menelisik filosofi tembawang secara antropologis atau
literer—bersiaplah untuk nerd walk yang menyejukkan. Kita bisa mulai kapan
saja.







