![]() |
| Ilustrasi AI |
Nusantara — Di tengah deru alat berat dan ambisi betonisasi Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah arus ekonomi yang lebih senyap namun menjanjikan mulai mengalir dari pinggiran: desa wisata. Bukan sekadar pelengkap lanskap, desa-desa yang dulu terabaikan kini diposisikan sebagai simpul ekonomi baru yang berakar pada budaya, alam, dan partisipasi warga.
Pernyataan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, H. Seno Aji,
yang disampaikan pada pertengahan September, menandai pergeseran arah
pembangunan ekonomi daerah. Ia menyebut bahwa Kalimantan Timur telah melewati
tiga era eksploitasi: kayu, batu bara, dan kelapa sawit. Kini, saatnya membuka
lembaran baru yang lebih berkelanjutan dan berbasis komunitas.
“Setelah masa era kayu selesai, berganti era batu bara,
berganti lagi era kelapa sawit, setelah itu tentu saja kita harus mempersiapkan
ekonomi-ekonomi baru, ekonomi kreatif yang di antaranya adalah tempat wisata,”
ujarnya dalam forum terbuka.
Pernyataan itu bukan sekadar refleksi, melainkan sinyal
bahwa desa wisata akan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk
mengimbangi pembangunan fisik IKN yang masif. Dengan proyeksi kedatangan
ratusan ribu penduduk baru, kebutuhan akan ruang rekreasi yang tidak melulu
berorientasi pada pusat belanja atau taman tematik menjadi semakin mendesak.
Desa wisata menawarkan sesuatu yang berbeda: pengalaman yang membumi, menyentuh
tradisi, dan membuka ruang interaksi langsung antara pendatang dan warga lokal.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai menyusun peta
potensi desa wisata di sekitar IKN. Identifikasi ini mencakup lanskap alam,
warisan budaya, kuliner khas, hingga narasi sejarah yang bisa dikemas sebagai
daya tarik wisata. Namun, lebih dari sekadar inventarisasi, pendekatan yang
diambil adalah pemberdayaan. Masyarakat desa dilibatkan sebagai subjek, bukan
objek pembangunan.
Pelatihan pengelolaan wisata, pengembangan produk UMKM,
dan promosi digital menjadi bagian dari strategi yang sedang digulirkan.
Pemerintah daerah juga mulai membuka ruang kerja sama dengan perguruan tinggi
dan lembaga riset untuk memastikan bahwa pengembangan desa wisata dilakukan
secara terukur dan berkelanjutan.
Seno Aji menyebut Bali sebagai referensi, bukan untuk
ditiru mentah-mentah, tetapi sebagai contoh bagaimana pariwisata bisa tumbuh
dari akar budaya dan dikelola secara profesional. Ia berharap desa-desa di
Kalimantan Timur bisa membangun ekosistem wisata yang tidak hanya menarik
wisatawan, tetapi juga memperkuat identitas lokal.
“Pengembangan desa wisata ini bukan hanya soal membangun
fisik, tetapi juga tentang memberdayakan masyarakat, melestarikan budaya, dan
memastikan bahwa pertumbuhan IKN membawa manfaat yang merata,” tegasnya.
Dalam konteks ini, desa wisata bukan sekadar destinasi,
tetapi juga ruang negosiasi antara modernitas dan tradisi. Ia menjadi panggung
bagi ekspresi budaya yang selama ini terpinggirkan oleh arus pembangunan.
Pertunjukan seni tradisional, ritual adat, kerajinan tangan, dan kuliner lokal
menjadi elemen penting dalam membangun narasi wisata yang otentik.
Namun, tantangan tidak kecil. Keterbatasan sumber daya
manusia, minimnya akses terhadap pelatihan, dan resistensi terhadap perubahan
menjadi hambatan yang harus diatasi. Di sinilah pentingnya sinergi antara
pemerintah, swasta, dan masyarakat. Tanpa kolaborasi yang kuat, desa wisata
akan sulit bersaing dengan destinasi lain yang sudah lebih dulu mapan.
Seno Aji juga mendorong perusahaan tambang dan perkebunan
yang beroperasi di Kalimantan Timur untuk menyalurkan program CSR mereka ke
sektor pariwisata. Ia menilai bahwa kontribusi sektor swasta sangat penting
dalam mempercepat transformasi ekonomi daerah, sekaligus memperkuat hubungan
antara industri dan masyarakat.
“CSR jangan hanya untuk pembangunan fisik yang tidak
berdampak jangka panjang. Kita dorong agar CSR diarahkan untuk pelatihan
masyarakat, pengembangan UMKM, dan promosi wisata desa,” ujarnya.
Di lapangan, beberapa desa mulai menunjukkan geliat.
Warga membentuk kelompok sadar wisata, membenahi fasilitas, dan mulai
memasarkan produk lokal secara daring. Homestay sederhana mulai dibuka, dan
beberapa desa bahkan mulai merancang paket wisata berbasis pengalaman:
menyusuri sungai, belajar menenun, hingga mengikuti upacara adat.
Bagi masyarakat lokal, desa wisata bukan hanya peluang
ekonomi, tetapi juga ruang untuk mempertahankan identitas. Di tengah arus
urbanisasi dan homogenisasi budaya, desa wisata menjadi benteng terakhir yang
menjaga keberagaman dan keunikan lokal. Ia menjadi ruang di mana warga bisa
bangga dengan tradisi mereka, dan pengunjung bisa belajar bahwa kemajuan tidak
harus menghapus masa lalu.
Dalam lanskap IKN yang terus berkembang, desa wisata
menjadi simbol bahwa pembangunan tidak harus seragam. Ia menunjukkan bahwa
modernitas dan kearifan lokal bisa berjalan beriringan, menciptakan harmoni
antara masa depan dan masa lalu. Dan di tengah hiruk-pikuk megaproyek nasional,
desa wisata hadir sebagai pengingat bahwa jantung ekonomi sejati adalah
masyarakat yang diberdayakan dan budaya yang dihormati.
Jika pembangunan IKN adalah tubuh, maka desa wisata
adalah nadinya. Ia mengalirkan kehidupan, menyambungkan pusat dan pinggiran,
dan memastikan bahwa pembangunan tidak hanya meninggikan gedung, tetapi juga
meninggikan martabat manusia.







