![]() |
| Ilustrasi AI |
Di tengah hening malam Kalimantan Timur, pada tanggal 16
Agustus 2025, sebuah peristiwa bersejarah berlangsung di Taman Kusuma Bangsa,
jantung Ibu Kota Nusantara (IKN). Untuk pertama kalinya sejak gagasan
pemindahan ibu kota digaungkan, Renungan Suci menjelang Hari Kemerdekaan
Republik Indonesia digelar di tanah yang kelak menjadi pusat pemerintahan baru.
Namun yang membuat malam itu berbeda bukan hanya lokasinya, melainkan sosok
yang memimpin suasana: Addie MS, maestro musik yang telah lama menjadi ikon harmoni
dan kebangsaan.
Renungan Suci adalah tradisi tahunan yang digelar setiap
malam menjelang 17 Agustus, sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan
yang telah gugur demi kemerdekaan Indonesia. Biasanya, acara ini berlangsung di
Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, dengan nuansa formal dan militeristik.
Namun tahun ini, dengan semangat transisi menuju IKN, pemerintah memutuskan
untuk memindahkan momen sakral tersebut ke tanah perintis. Pilihan ini bukan
tanpa risiko, mengingat infrastruktur yang masih dalam tahap pembangunan dan
atmosfer yang belum sepenuhnya terbentuk. Namun justru di situlah letak
keistimewaannya.
Addie MS, yang dikenal sebagai pendiri dan konduktor Twilite
Orchestra, bukanlah pilihan yang biasa untuk memimpin acara kenegaraan. Namun
kehadirannya di IKN malam itu bukan sekadar simbol artistik, melainkan
pernyataan bahwa pembangunan ibu kota baru tidak hanya soal beton dan
birokrasi, tetapi juga tentang jiwa, budaya, dan rasa. Ia membawa serta 45
musisi simfoni dari Jakarta, lengkap dengan paduan suara pelajar lokal yang
telah dilatih selama berminggu-minggu. Mereka tidak datang untuk menghibur, tetapi
untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan melalui musik.
Suasana di Taman Kusuma Bangsa menjelang pukul 22.00 WITA
terasa magis. Langit Kalimantan yang gelap dihiasi bintang-bintang, seolah ikut
menyaksikan sejarah yang sedang ditulis. Di tengah taman, berdiri patung
Soekarno dan Hatta, dua proklamator bangsa, menghadap ke arah Istana Garuda
yang masih dalam tahap konstruksi. Di bawah kaki mereka, ratusan peserta
berdiri dalam diam, mengenakan pakaian serba hitam, membawa lilin kecil yang
menyala pelan. Tidak ada sorotan lampu panggung, tidak ada gemerlap teknologi.
Hanya musik, nyala api, dan rasa hormat.
Ketika Addie MS mengangkat baton-nya, keheningan berubah
menjadi alunan lembut lagu “Tanah Airku”. Aransemen yang dibawakan malam itu
berbeda dari versi biasanya—lebih lambat, lebih dalam, seolah mengajak setiap
pendengar untuk merenung. Suara biola dan cello berpadu dengan angin malam,
menciptakan resonansi yang tidak hanya terdengar, tetapi terasa. Di tengah
alunan, paduan suara pelajar menyanyikan bait-bait dengan penuh penghayatan,
seolah mereka bukan hanya menyanyikan lagu, tetapi menyampaikan pesan dari masa
lalu.
Setelah lagu pembuka, acara dilanjutkan dengan pembacaan
naskah Renungan Suci oleh Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono. Dengan suara
tegas namun penuh emosi, ia menyampaikan penghormatan kepada para pahlawan yang
telah gugur. “Kami bersumpah, perjuanganmu tidak akan sia-sia. Di tanah ini,
kami akan melanjutkan cita-cita kemerdekaan,” ucapnya, diiringi angin yang
berdesir pelan. Di belakangnya, patung proklamator tampak seperti saksi bisu
yang menyetujui janji tersebut.
Addie MS kemudian memimpin lagu “Mengheningkan Cipta”, yang
menjadi puncak dari malam itu. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorakan. Hanya
diam yang penuh makna. Beberapa peserta tampak menitikkan air mata, bukan
karena kesedihan, tetapi karena rasa haru yang mendalam. Di tengah pembangunan
yang masih berlangsung, di antara crane dan beton, malam itu terasa seperti
titik awal dari sesuatu yang besar—sebuah ibu kota yang tidak hanya dibangun
dengan tangan, tetapi juga dengan hati.
Dalam wawancara singkat setelah acara, Addie MS
mengungkapkan bahwa pengalaman memimpin Renungan Suci di IKN adalah salah satu
momen paling berkesan dalam hidupnya. “Ini bukan konser biasa. Ini adalah
panggilan jiwa. Saya merasa terhormat bisa menjadi bagian dari sejarah ini,”
ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa musik memiliki kekuatan untuk menyatukan,
untuk mengingatkan, dan untuk menghidupkan kembali semangat yang mungkin mulai
redup. “Di tengah hiruk-pikuk pembangunan, kita perlu jeda untuk merenung. Musik
bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan,” katanya.
Twilite Orchestra sendiri telah lama dikenal sebagai
orkestra yang mengusung semangat nasionalisme melalui musik. Mereka telah
tampil di berbagai acara kenegaraan, namun penampilan di IKN kali ini terasa
berbeda. Tidak ada panggung megah, tidak ada auditorium ber-AC. Hanya tanah,
rumput, dan langit. Namun justru dalam kesederhanaan itulah, musik mereka
terasa paling kuat. “Kami merasa seperti kembali ke akar,” ujar salah satu
pemain cello. “Di sini, kami tidak hanya bermain musik. Kami menyampaikan rasa.”
Paduan suara pelajar yang terlibat juga memberikan warna
tersendiri. Mereka berasal dari sekolah-sekolah di sekitar wilayah IKN, dan
telah dilatih selama tiga minggu oleh tim Twilite Orchestra. Bagi mereka, ini
bukan hanya pengalaman musikal, tetapi juga pelajaran sejarah dan kebangsaan.
“Saya baru tahu bahwa lagu-lagu seperti ‘Tanah Airku’ punya makna yang dalam,”
ujar salah satu peserta. “Dulu saya hanya menyanyikannya di sekolah. Tapi malam
ini, saya merasakannya.”
Renungan Suci di IKN juga menjadi simbol bahwa pembangunan
ibu kota baru tidak melupakan nilai-nilai dasar bangsa. Di tengah proyek-proyek
besar dan anggaran triliunan rupiah, ada ruang untuk refleksi, untuk budaya,
dan untuk penghormatan. Pemerintah menyadari bahwa membangun ibu kota bukan
hanya soal gedung dan jalan, tetapi juga soal membangun identitas. Dan malam
itu, identitas Indonesia terasa sangat nyata—dalam musik, dalam diam, dan dalam
nyala lilin.
Acara ditutup dengan lagu “Bagimu Negeri”, yang dinyanyikan
bersama oleh seluruh peserta. Tidak ada arahan, tidak ada aba-aba. Lagu itu
mengalir begitu saja, dari hati ke hati. Suara-suara yang berbeda berpadu
menjadi satu, menciptakan harmoni yang sederhana namun kuat. Di akhir lagu,
lilin-lilin kecil diletakkan di bawah patung proklamator, sebagai simbol bahwa
api perjuangan masih menyala, dan akan terus menyala di tanah Nusantara.
Malam itu, Renungan Suci bukan hanya menjadi ritual tahunan.
Ia menjadi titik balik, menjadi pernyataan bahwa IKN bukan sekadar proyek,
tetapi juga harapan. Dan Addie MS, dengan baton kecilnya, telah mengukir
sejarah—bukan di atas kertas, tetapi di dalam jiwa mereka yang hadir.







