Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus menunjukkan
komitmennya dalam mendukung agenda transisi energi bersih, sebuah langkah
strategis yang menjadi sorotan nasional maupun internasional di tengah
meningkatnya kesadaran akan pentingnya energi ramah lingkungan. Lewat
optimalisasi potensi energi baru terbarukan (EBT), fokus utama diarahkan pada
pemanfaatan tenaga surya dan biogas. Dua sumber energi ini dinilai paling
realistis, efektif, dan memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara luas
di Benua Etam—julukan provinsi kaya sumber daya alam ini.
Langkah tersebut bukan hanya sekadar upaya memenuhi target
bauran energi bersih yang menjadi mandat nasional, tetapi juga menjawab
tantangan klasik daerah-daerah terpencil yang masih sulit mengakses listrik
dari jaringan utama PLN. Energi surya, yang bersumber dari sinar matahari
melimpah di wilayah tropis seperti Kalimantan Timur, dinilai sebagai opsi
paling masuk akal dibandingkan dengan potensi lain seperti air, angin, maupun
pasang surut laut.
“Setelah kami lakukan kajian menyeluruh terhadap berbagai
sumber energi, dari potensi air, angin, hingga pasang surut, kesimpulannya
jelas: energi surya adalah yang paling bisa diandalkan. Wilayah kita punya
sinar matahari yang melimpah hampir sepanjang tahun, ini keunggulan yang harus
dimanfaatkan,” ujar Analis Kebijakan EBT Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM) Kaltim, Syamsuddin, pada Jumat (8/8/2025).
PLTS Jadi Andalan Penerangan Desa Terpencil
Saat ini, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
difokuskan untuk menjangkau desa-desa yang berada jauh dari pusat kota dan
belum tersentuh jaringan listrik PLN. Keputusan ini lahir dari realitas di
lapangan: tidak semua daerah bisa dengan mudah dihubungkan lewat jalur
distribusi listrik konvensional, terutama di wilayah dengan medan berat seperti
perbukitan, hutan lebat, atau pulau-pulau kecil.
Pembangunan PLTS bukan hanya soal menghadirkan penerangan di
malam hari. Bagi warga di desa terpencil, listrik berarti peluang pendidikan
yang lebih baik karena anak-anak dapat belajar pada malam hari, akses informasi
lewat televisi dan internet menjadi terbuka, serta kegiatan ekonomi rumah
tangga seperti usaha penggilingan, pendingin makanan, atau pengrajin lokal bisa
berjalan lebih produktif.
“Bagi desa-desa yang jauh dari jaringan PLN, PLTS adalah
solusi cepat dan berkelanjutan. Tak perlu menunggu pembangunan jaringan kabel
ratusan kilometer yang memakan biaya besar dan waktu lama. Cukup membangun
instalasi surya di titik strategis, listrik bisa langsung dinikmati,” terang
Syamsuddin.
Selain itu, PLTS menjadi salah satu instrumen penting untuk
meningkatkan porsi bauran energi bersih di Kalimantan Timur. Provinsi ini
memang sedang diarahkan menjadi salah satu contoh daerah yang berhasil
mengurangi ketergantungan pada energi fosil seperti batu bara dan minyak. Upaya
ini sejalan dengan target nasional menuju emisi nol bersih (net zero emission)
pada 2060 atau lebih cepat.
Biogas: Mengubah Limbah Ternak Menjadi Energi
Tak hanya mengandalkan sinar matahari, Dinas ESDM Kaltim
juga serius mengembangkan energi alternatif berbasis biogas. Program ini
memanfaatkan kotoran ternak sapi yang selama ini sering menjadi masalah
lingkungan di daerah peternakan. Melalui kolaborasi dengan Dinas Peternakan dan
Kesehatan Hewan, limbah yang tadinya terbuang kini diolah menjadi sumber energi
yang bisa digunakan untuk memasak.
“Warga tak perlu lagi bergantung pada LPG untuk memasak.
Limbah ternak yang dulunya dibuang begitu saja sekarang bisa dimanfaatkan
menjadi bahan bakar alternatif,” jelas Syamsuddin.
Sistem biogas di Kaltim awalnya dibangun untuk tiap rumah
tangga peternak. Namun, seiring perkembangan, model instalasi komunal mulai
diterapkan. Dalam skema ini, satu instalasi biogas dapat melayani hingga
belasan rumah di satu kelompok ternak. Hal ini dinilai lebih efisien dari segi
biaya, perawatan, dan distribusi energi.
Meski demikian, ada syarat penting yang harus dipenuhi agar
sistem ini berjalan efektif: ternak harus dikandangkan. Dengan begitu, kotoran
bisa dikumpulkan secara teratur setiap hari dan langsung diproses dalam reaktor
biogas.
Capaian Nyata: Puluhan Desa Terjangkau, Ratusan Unit Dibangun
Kepala Bidang EBT dan Konservasi Energi Dinas ESDM Kaltim,
Elly Luchritia Nova, memaparkan bahwa hingga 2025, pembangunan PLTS telah
menjangkau 72 desa terpencil di empat kabupaten. Capaian ini menunjukkan bahwa
strategi fokus pada desa-desa non-PLN memang membuahkan hasil nyata.
“Tidak semua desa bisa langsung dihubungkan dengan jaringan
listrik utama, apalagi di daerah dengan medan sulit. PLTS memberi solusi cepat,
murah, dan ramah lingkungan,” jelas Elly.
Sementara itu, program biogas rumah tangga telah berjalan
sejak 2012. Hingga kini, total 575 unit instalasi biogas telah dibangun untuk
para peternak di berbagai wilayah. Keberadaan biogas bukan hanya mengurangi
ketergantungan pada LPG, tapi juga membantu mengatasi permasalahan lingkungan
akibat penumpukan limbah ternak.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Penerapan PLTS dan biogas memberikan dampak ganda: ekonomi
dan lingkungan. Di sisi ekonomi, masyarakat di desa terpencil yang sebelumnya
harus membeli bahan bakar minyak atau LPG dengan harga mahal kini bisa
memanfaatkan energi gratis dari alam dan limbah. Biaya rumah tangga berkurang
signifikan, sementara peluang usaha baru bermunculan.
Dari sisi lingkungan, PLTS sama sekali tidak menghasilkan
emisi gas rumah kaca selama operasinya. Biogas pun membantu mengurangi
pelepasan metana dari kotoran ternak, gas yang jauh lebih kuat dari CO₂ dalam
memicu pemanasan global. Selain itu, residu hasil pengolahan biogas bisa
digunakan sebagai pupuk organik yang memperkaya tanah pertanian.
Tantangan yang Masih Mengadang
Meski progresnya positif, transisi energi di Kaltim bukan tanpa tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan dana untuk memperluas cakupan proyek. Pembangunan PLTS dan instalasi biogas membutuhkan investasi awal yang cukup besar, meskipun biaya operasionalnya relatif rendah.
Selain itu, masih ada kendala teknis terkait perawatan. Di
beberapa desa, kurangnya pengetahuan teknis warga membuat instalasi surya atau
biogas tidak berfungsi optimal setelah beberapa tahun. Karena itu, pelatihan
teknis dan pendampingan menjadi bagian penting dari program ini.
“Teknologi tanpa pendampingan akan sulit berkelanjutan. Kami
tidak hanya membangun, tapi juga mengajarkan cara merawat agar alat bertahan
lama,” ujar Elly.
Masa Depan Energi Bersih di Kaltim
Kaltim memiliki peluang besar menjadi pelopor energi bersih
di Indonesia Timur. Potensi sinar matahari yang melimpah, lahan luas untuk
pengembangan instalasi surya, serta populasi ternak yang cukup besar menjadi
modal utama. Apalagi, provinsi ini tengah mengalami transformasi ekonomi
besar-besaran seiring pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke wilayahnya.
Dengan keberadaan IKN, permintaan energi akan melonjak.
Namun, pemerintah daerah berharap lonjakan ini bisa diimbangi dengan pasokan
energi bersih agar tidak menambah beban emisi karbon. PLTS dan biogas adalah
dua langkah awal yang telah terbukti memberi hasil, tetapi ke depan potensi EBT
lain seperti biomassa, panas bumi, dan tenaga angin juga akan mulai dikaji
lebih serius.
Bila semua pihak, mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat, mau terlibat aktif, bukan tidak mungkin Kaltim akan menjadi contoh sukses bagaimana daerah penghasil energi fosil bisa bertransformasi menjadi pusat energi bersih. Sebuah perjalanan panjang yang akan meninggalkan warisan berharga bagi generasi mendatang—bukan hanya berupa listrik yang menyala, tetapi juga udara yang bersih, lingkungan yang terjaga, dan ekonomi yang lebih mandiri.







