Balikpapan — Di tengah transformasi
besar menuju Indonesia Emas 2045 dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN),
Institut Teknologi Kalimantan (ITK) menjadi tuan rumah Forum CUPT–CRISU 2025,
sebuah pertemuan strategis antara perguruan tinggi Indonesia dan Thailand yang
menandai babak baru kolaborasi akademik regional. Forum ini bukan sekadar ajang
temu ilmiah, tetapi sebuah deklarasi bahwa Kalimantan siap menjadi pusat
gravitasi baru dalam lanskap pendidikan tinggi Asia Tenggara.
Selama dua hari, lebih dari 40 pimpinan universitas dari dua
negara berkumpul di Balikpapan. Delegasi dari Thailand diwakili oleh
universitas-universitas ternama seperti Chulalongkorn University, Mahidol
University, dan Kasetsart University. Dari Indonesia, hadir perwakilan dari
Universitas Gadjah Mada, Universitas Mulawarman, Universitas Lambung Mangkurat,
serta sejumlah kampus vokasi dan politeknik dari Kalimantan dan Jawa. Forum ini
mengusung tema besar: “Higher Education for Smart Forest City and Regional
Resilience.”
Dalam pidato pembukaan, Rektor ITK, Prof. Dr. I Nyoman
Pujawan, menegaskan bahwa Kalimantan bukan sekadar lokasi geografis, tetapi
ekosistem pengetahuan yang unik. “Kami berada di titik temu antara hutan
tropis, industri energi, dan pembangunan ibu kota negara. Ini bukan tantangan,
tapi peluang untuk membangun model pendidikan tinggi yang kontekstual dan
berdaya saing global,” ujarnya. Pernyataan ini menjadi pembuka diskusi yang
menyoroti bagaimana perguruan tinggi dapat menjadi katalisator pembangunan berkelanjutan,
bukan hanya di Jawa, tetapi di seluruh Nusantara.
Salah satu sesi yang paling mendapat perhatian adalah
presentasi dari mahasiswa ITK yang tergabung dalam program KIBM (Kegiatan
Inkubasi Bisnis Mahasiswa). Dua tim yang lolos pendanaan nasional memaparkan
proyek inovatif mereka di hadapan peserta forum. Proyek pertama berfokus pada
pengembangan sistem pemantauan kualitas air berbasis IoT untuk daerah pesisir,
sementara proyek kedua mengusung solusi pengolahan limbah organik menjadi
energi alternatif. Presentasi ini tidak hanya menunjukkan kapasitas mahasiswa
ITK dalam berpikir kritis dan inovatif, tetapi juga memperkuat citra kampus
sebagai inkubator gagasan yang relevan dengan tantangan lokal dan global.
Forum CUPT–CRISU 2025 juga menjadi ruang refleksi atas peran
pendidikan tinggi dalam mendukung pembangunan IKN. Dalam sesi khusus bertajuk “Higher
Education for Smart Forest City,” para akademisi dan pemangku kebijakan
berdiskusi tentang bagaimana kampus dapat berkontribusi dalam membentuk
ekosistem kota yang cerdas, hijau, dan inklusif. ITK, sebagai institusi yang
berlokasi strategis di Balikpapan dan berdekatan dengan IKN, dinilai memiliki
potensi besar untuk menjadi mitra utama dalam riset dan pengembangan teknologi
kota masa depan.
Rektor Universitas Mulawarman, Prof. Masjaya, dalam sesi
tersebut menyampaikan bahwa perguruan tinggi Kalimantan memiliki keunggulan
lokal yang tidak dimiliki oleh kampus-kampus di Jawa. “Kami hidup berdampingan
dengan hutan, sungai, dan komunitas adat. Ini bukan tantangan, tapi kekayaan
yang harus diintegrasikan dalam pendidikan dan riset,” ujarnya. Pernyataan ini
mendapat sambutan hangat dari delegasi Thailand, yang melihat potensi
kolaborasi lintas budaya dan ekosistem sebagai peluang strategis.
Sesi bilateral antara CUPT dan CRISU menghasilkan sejumlah
kesepakatan penting. Salah satunya adalah penandatanganan nota kesepahaman
antara ITK dan Kasetsart University untuk pengembangan riset bersama di bidang
teknologi lingkungan dan kehutanan tropis. Kolaborasi ini mencerminkan semangat
simbiosis antara kekuatan akademik Thailand dan keunggulan lokal Kalimantan.
Selain itu, Universitas Gadjah Mada dan Mahidol University menyepakati
pertukaran dosen dan mahasiswa untuk program studi lintas negara yang berfokus
pada perubahan iklim dan keamanan pangan.
Forum ini juga menghasilkan rekomendasi kebijakan yang akan
disampaikan kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(Kemendikbudristek). Beberapa poin penting dalam rekomendasi tersebut antara
lain:
- Mendorong
pendanaan riset bersama antara perguruan tinggi Indonesia dan Thailand,
khususnya di bidang keberlanjutan dan teknologi hijau.
- Memperluas
skema pertukaran mahasiswa dan dosen dengan sistem kredit transfer yang
lebih fleksibel.
- Menyusun
kurikulum bersama untuk program studi lintas negara, dengan fokus pada isu
global seperti perubahan iklim, keamanan pangan, dan transformasi digital.
- Mengembangkan
platform digital bersama untuk publikasi ilmiah dan diseminasi hasil
riset.
Di sela-sela forum, para peserta juga diajak mengunjungi
kawasan IKN untuk melihat langsung progres pembangunan dan potensi kolaborasi
riset. Kunjungan ini membuka ruang diskusi informal yang produktif, di mana
sejumlah universitas Thailand menyatakan minat untuk menjadikan Kalimantan
sebagai lokasi riset lapangan bersama, khususnya dalam bidang kehutanan tropis,
energi terbarukan, dan teknologi lingkungan.
Forum CUPT–CRISU 2025 ditutup dengan sesi reflektif dan
penanaman pohon simbolis di kawasan IKN, sebagai bentuk komitmen bersama
terhadap keberlanjutan. Para peserta, baik dari Indonesia maupun Thailand,
menanam pohon dengan label nama institusi masing-masing, menandai bahwa
kolaborasi ini bukan hanya berlangsung di ruang diskusi, tetapi juga tertanam
secara simbolik di tanah Nusantara.
Bagi ITK, keberhasilan menjadi tuan rumah forum
internasional ini merupakan pencapaian strategis yang memperkuat posisi kampus
sebagai pusat inovasi dan kolaborasi global. Di tengah transformasi besar
menuju Indonesia Emas 2045, ITK dan perguruan tinggi Kalimantan telah
menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi aktor utama dalam
membentuk masa depan pendidikan tinggi yang berdaya saing, berakar lokal, dan
berwawasan global.
Lebih dari itu, CUPT–CRISU 2025 telah menjadi titik temu
antara gagasan dan tindakan, antara lokal dan global, antara masa kini dan masa
depan. Dan di tengah hutan yang tumbuh dan kota yang dibangun, perguruan tinggi
Kalimantan berdiri tegak sebagai penjaga ilmu, inovasi, dan harapan.







