Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Pemerintah Dorong Daya Saing Riset Mahasiswa dan Pengembangan Sekolah Garuda melalui Ekspedisi Biodiversitas Kalimantan dan Platform e-BiTe

 

SAMARINDA — Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus memperkuat ekosistem riset nasional dengan mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dan pengembangan sekolah unggulan berbasis STEM. Dalam kunjungan kerja ke Kalimantan Timur, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Stella Christie menegaskan pentingnya riset unggulan yang kompetitif sebagai tulang punggung kemajuan negara.

"Riset kita harus kompetitif. Di mana pun, negara maju akan selalu menempatkan riset sebagai ujung tombak dan harus ada insentif. Kami masih terus berupaya dan memperjuangkan melalui LPDP agar ada insentif langsung ke peneliti,” ujar Prof. Stella dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis (24/7), usai melakukan kunjungan ke Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Poltani Samarinda), Kalimantan Timur, Rabu lalu.

Kunjungan Wamen Prof. Stella turut didampingi Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, Dirjen Riset dan Teknologi Kemendiktisaintek Dr. Ahmad Najib Burhani, serta sejumlah pimpinan kampus vokasi di Kalimantan, termasuk pimpinan dan mahasiswa dari Poltani Samarinda dan Politeknik Negeri Samarinda, serta Kepala LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan Muhammad Akbar.

Dalam kesempatan tersebut, Wamen Stella menerima presentasi dua karya riset unggulan mahasiswa dan dosen, yakni inovasi pemanfaatan limbah jangkos kelapa sawit menjadi industri hijau, serta model inkubasi bisnis berbasis produk lokal. Kedua riset ini dinilai memiliki nilai tambah tinggi, baik dari sisi lingkungan, keberlanjutan, maupun dampak ekonominya bagi masyarakat sekitar.

Wamen Stella menyampaikan bahwa riset yang difokuskan pada isu-isu strategis nasional akan lebih mudah dikembangkan hingga hilirisasi industri. Ia mengingatkan pentingnya riset yang fokus pada masalah dan pertanyaan yang spesifik agar tidak menyebar ke banyak arah. “Fokus yang dimaksud adalah fokus pada masalah dan fokus pada pertanyaan,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan ekosistem riset di perguruan tinggi harus bersifat inklusif dan mendorong partisipasi langsung mahasiswa dalam kegiatan riset dosen. Hal ini, kata Stella, dapat memperkuat kemampuan berpikir kritis, membentuk budaya kolaborasi, dan meningkatkan keterampilan problem solving mahasiswa sejak dini.

Sebagai wilayah yang kaya akan hutan hujan tropis (tropical rainforest), Kalimantan Timur memiliki posisi strategis dalam riset biodiversitas global. Wamen Stella menekankan bahwa riset terhadap kekayaan hayati Kalimantan tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga berpengaruh secara global. Ia mencontohkan bagaimana pupuk organik yang mampu mengurangi serangan penyakit kelapa sawit dapat meningkatkan produktivitas dan berdampak langsung terhadap peredaran sawit dunia.

Sejalan dengan semangat riset yang berdampak, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga membangun platform kolaboratif berbasis digital bernama e-BiTe (Ekspedisi Biodiversitas Terpadu). Platform ini akan menjadi sarana pertukaran data, kolaborasi lintas lembaga, serta pengelolaan informasi biodiversitas Kalimantan yang selama ini tersebar di banyak institusi.

Platform e-BiTe dirancang sebagai basis data nasional biodiversitas Kalimantan dan akan terintegrasi dengan sistem riset internasional untuk mendorong kerja sama global. Riset melalui e-BiTe juga akan memfasilitasi kolaborasi antara akademisi, peneliti, lembaga pemerintah, dan komunitas lokal dalam mengeksplorasi, melindungi, serta mengembangkan potensi hayati Kalimantan.

Selain penguatan ekosistem riset di perguruan tinggi, pemerintah juga menaruh perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan menengah melalui Program Sekolah Garuda. Dalam kunjungannya, Wamen Stella turut meninjau SMAN 10 Samarinda yang telah ditetapkan sebagai salah satu Sekolah Garuda, yakni sekolah unggulan berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Sekolah Garuda merupakan program “Quick Win” dari Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan untuk mendorong tumbuhnya talenta sains dan teknologi sejak jenjang pendidikan menengah. Sekolah ini bersifat inklusif dan terbuka bagi seluruh anak bangsa dari berbagai latar belakang sosial dan wilayah.

Sebagai bagian dari transformasi pendidikan nasional, Sekolah Garuda akan dikembangkan melalui dua jalur: jalur pembangunan baru dan jalur transformasi sekolah unggul yang telah ada. Proses transformasi dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan sejumlah indikator, antara lain sistem manajemen pendidikan, sarana dan prasarana, kapasitas guru dan tenaga kependidikan, serta keterlibatan siswa dalam ajang nasional dan internasional di bidang STEM.

 

Kriteria seleksi juga mengedepankan aspek inklusi sosial dan afirmasi bagi wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), serta kepatuhan hukum lembaga pendidikan. Sekolah yang terpilih diharapkan dapat memberikan akses pendidikan yang berkualitas secara merata dan menjangkau siswa dari berbagai daerah.

Dalam peninjauan ke SMAN 10 Samarinda, Kemendiktisaintek melakukan pemetaan potensi sekolah, termasuk sistem pembiayaan, struktur kurikulum, kerja sama dengan lembaga riset atau industri, serta prestasi siswa. SMAN 10 dinilai memiliki kesiapan dari berbagai aspek untuk menjalankan transformasi menuju Sekolah Garuda.

Program kemitraan Kemendiktisaintek dengan Sekolah Garuda juga mencakup pelatihan guru pendamping, peningkatan kapasitas manajemen sekolah, serta pembimbingan intensif bagi siswa dalam menyiapkan aplikasi ke perguruan tinggi unggulan baik di dalam maupun luar negeri. Langkah ini diharapkan dapat mencetak lebih banyak generasi muda yang siap bersaing di tingkat global.

Dengan pendekatan yang terintegrasi antara penguatan riset di perguruan tinggi dan pembangunan pendidikan menengah unggulan melalui Sekolah Garuda, pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempercepat transformasi sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing tinggi.

 

Ekspedisi biodiversitas Kalimantan melalui platform e-BiTe dan pengembangan Sekolah Garuda menjadi dua inisiatif strategis yang saling melengkapi dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat riset tropis dunia dan lumbung talenta sains masa depan. Pemerintah optimistis, dengan sinergi lintas sektor dan peran aktif mahasiswa, riset dan pendidikan akan menjadi motor utama kemajuan bangsa

Also Read
Tag:
Latest News
  • Pemerintah Dorong Daya Saing Riset Mahasiswa dan Pengembangan Sekolah Garuda melalui Ekspedisi Biodiversitas Kalimantan dan Platform e-BiTe
  • Pemerintah Dorong Daya Saing Riset Mahasiswa dan Pengembangan Sekolah Garuda melalui Ekspedisi Biodiversitas Kalimantan dan Platform e-BiTe
  • Pemerintah Dorong Daya Saing Riset Mahasiswa dan Pengembangan Sekolah Garuda melalui Ekspedisi Biodiversitas Kalimantan dan Platform e-BiTe
  • Pemerintah Dorong Daya Saing Riset Mahasiswa dan Pengembangan Sekolah Garuda melalui Ekspedisi Biodiversitas Kalimantan dan Platform e-BiTe
  • Pemerintah Dorong Daya Saing Riset Mahasiswa dan Pengembangan Sekolah Garuda melalui Ekspedisi Biodiversitas Kalimantan dan Platform e-BiTe
  • Pemerintah Dorong Daya Saing Riset Mahasiswa dan Pengembangan Sekolah Garuda melalui Ekspedisi Biodiversitas Kalimantan dan Platform e-BiTe
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad