Sukamara - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat langkah strategis dalam mengoptimalkan potensi sektor perikanan budi daya guna mendongkrak perekonomian daerah. Salah satu program unggulan yang kini menunjukkan hasil signifikan adalah pengembangan kawasan tambak udang vaname di wilayah pesisir Kabupaten Sukamara. Sektor ini terbukti mampu menghasilkan pendapatan hingga miliaran rupiah setiap tahunnya sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran saat melakukan kunjungan kerja ke lokasi tambak menyampaikan bahwa optimalisasi potensi lokal merupakan kunci utama dalam memacu kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, wilayah pesisir Kalimantan Tengah memiliki bentang alam yang sangat potensial untuk pengembangan perikanan air payau dan laut. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung program-program produktif yang langsung menyentuh kepentingan ekonomi masyarakat serta memperkuat kemandirian fiskal daerah melalui pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Pengelolaan kawasan tambak udang vaname di Sukamara ini berada di bawah tanggung jawab teknis UPT BLUD Perikanan Budidaya Air Payau dan Laut di bawah naungan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Tengah. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Tengah Sri Widanarni menjelaskan bahwa proyeksi pendapatan dari kawasan budi daya tersebut diperkirakan mampu mencapai angka Rp32 miliar. Angka ini mencerminkan keberhasilan transformasi pengelolaan kawasan pesisir menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berorientasi pada komoditas ekspor bernilai ekonomis tinggi.
Sementara itu, Kepala UPT BLUD PBAPL Wahyu Martha Lukyanto memaparkan bahwa volume produksi udang vaname terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Hingga periode pelaporan terakhir, total produksi budi daya yang berhasil dipanen telah melampaui angka 300 ton. Dengan sisa masa produksi yang berjalan hingga penghujung tahun, pihak pengelola optimistis target produksi secara keseluruhan dapat menembus angka lebih dari 400 ton. Kapasitas ideal sarana prasarana yang tersedia saat ini bahkan dirancang mampu menopang produksi hingga kisaran 500 ton per tahun apabila seluruh fasilitas beroperasi secara maksimal.
Secara teknis, operasional kawasan tambak ini didukung oleh puluhan kolam aktif. Dari total kolam yang tersedia, sebagian besar telah terisi benur udang dan sisanya ditargetkan segera menyusul dalam waktu dekat. Setiap kolam budi daya memiliki tingkat produktivitas yang cukup tinggi dengan rata-rata hasil berkisar antara 3,5 hingga 4 ton per kolam, tergantung pada kapasitas dan penerapan manajemen kualitas air yang ketat. Keberhasilan ini tidak lepas dari penerapan standar operasional prosedur budi daya modern yang mengedepankan aspek kesehatan lingkungan dan biosekuriti.
Durasi pemeliharaan udang vaname di kawasan ini membutuhkan waktu sekitar 120 hingga 140 hari untuk satu siklus pembesaran. Namun, jika dihitung secara komprehensif mulai dari tahap persiapan kolam, pengeringan, sterilisasi, hingga proses panen raya, satu siklus penuh membutuhkan waktu sedikitnya lima bulan. Dengan perhitungan tersebut, para pembudidaya di Sukamara mampu menjalankan siklus produksi sebanyak dua kali dalam kurun waktu satu tahun. Pola siklus ganda ini dinilai sangat efektif untuk menjaga kesinambungan pasokan udang di pasaran serta menjamin perputaran modal usaha yang konstan.
Keberadaan tambak udang vaname di Sukamara ini juga memberikan dampak multiplier effect yang luas bagi masyarakat sekitar. Selain membuka lapangan kerja baru bagi tenaga kerja lokal, geliat ekonomi di kawasan pesisir ini turut mendongkrak sektor pendukung lainnya seperti perdagangan pakan, logistik, dan industri pengolahan hasil perikanan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berharap keberhasilan model pengelolaan di Sukamara dapat direplikasi ke wilayah pesisir lainnya yang memiliki karakteristik geografis serupa.
Langkah ekspansif ini sejalan dengan visi besar pemerintah daerah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan ekonomi hingga ke wilayah pedesaan dan pesisir. Dengan dukungan infrastruktur perikanan yang memadai serta pendampingan teknis yang berkelanjutan, sektor kelautan dan perikanan diharapkan mampu menjadi tulang punggung baru perekonomian regional. Transformasi ekonomi berbasis potensi lokal di Kalimantan Tengah ini diyakini akan terus tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang bagi kesejahteraan seluruh masyarakat setempat.






