Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Otoritas Jasa Keuangan Sebut Penyaluran Kredit Produktif di Kalimantan Tengah Sentuh Puluhan Triliun Rupiah

gambar hanya ilustrasi

Palangka Raya - Otoritas Jasa Keuangan Kantor Regional Kalimantan Tengah mencatat kinerja sektor perbankan di wilayah ini menunjukkan tren yang positif dan stabil. Berdasarkan data perbankan pada posisi Agustus 2026, penyaluran kredit produktif oleh bank umum di bumi Tambun Bungai ini telah menembus angka fantastis hingga mencapai puluhan triliun rupiah. Perkembangan sektor keuangan ini menjadi angin segar bagi pertumbuhan perekonomian daerah, terutama dalam mendukung aktivitas dunia usaha lokal yang berangsur semakin menggeliat.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menjelaskan secara rinci bahwa total kredit produktif yang disalurkan kepada masyarakat dan pelaku usaha di wilayah tersebut mencapai Rp33,28 triliun. Angka yang masif ini terbagi menjadi dua instrumen utama pembiayaan perbankan yang sangat krusial bagi kelangsungan roda bisnis, yakni kredit modal kerja serta kredit investasi yang masing-masing memiliki porsi signifikan dalam struktur portofolio kredit perbankan umum setempat.

Berdasarkan pemaparan lebih lanjut dari pihak otoritas pengawas sektor jasa keuangan tersebut, komposisi kredit modal kerja tercatat berada di angka Rp19,30 triliun. Jumlah ini merepresentasikan sekitar 34,76 persen dari keseluruhan total kredit yang beredar di wilayah provinsi ini. Sementara itu, untuk instrumen kredit investasi tercatat menyerap dana sebesar Rp13,98 triliun atau setara dengan 25,18 persen dari total keseluruhan kredit bank umum. Di sisi lain, porsi untuk pembiayaan yang bersifat konsumtif terpantau berada pada angka Rp22,24 triliun atau mencakup 40,06 persen dari total portofolio kredit yang dikelola oleh perbankan.

Menanggapi komposisi dan pencapaian angka tersebut, otoritas menilai bahwa stabilitas serta kinerja perbankan di wilayah ini secara keseluruhan berada dalam kondisi yang sangat sehat dan terjaga dengan baik. Penilaian ini merujuk pada berbagai indikator makroprudensial, termasuk di dalamnya adalah kemampuan intermediasi lembaga keuangan perbankan dalam menyalurkan pembiayaan yang tepat sasaran guna menopang berbagai sektor riil di tengah dinamika perekonomian regional maupun nasional yang terus bergerak dinamis.

Apabila ditelaah lebih mendalam berdasarkan sektor ekonomi utama yang memanfaatkan fasilitas pembiayaan perbankan ini, sektor rumah tangga masih menduduki peringkat teratas dengan nilai mencapai Rp21,90 triliun atau menyumbang sekitar 39,44 persen dari total keseluruhan kredit. Posisi berikutnya disusul oleh sektor pertanian, kehutanan, serta perikanan yang mencatatkan angka pembiayaan sebesar Rp16,62 triliun atau sekitar 29,93 persen. Sektor primer ini memang dikenal menjadi salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat setempat yang berbasis pada pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Selain sektor-sektor tersebut, terdapat pula beberapa bidang usaha lain yang turut mendapatkan porsi pembiayaan kredit yang cukup berarti dari perbankan umum. Sektor industri pengolahan tercatat menyerap pembiayaan sebesar Rp1,21 triliun atau 2,18 persen, disusul oleh sektor aktivitas jasa lainnya yang mencapai Rp1,01 triliun atau 1,82 persen, serta sektor konstruksi yang membukukan angka kredit sebesar Rp0,91 triliun atau setara dengan 1,63 persen dari total keseluruhan penyaluran kredit di wilayah provinsi tersebut.

Sementara itu, jika diklasifikasikan berdasarkan skala atau jenis usahanya, pola penyaluran kredit pada bank umum di daerah ini masih didominasi oleh kategori non-usaha mikro, kecil, dan menengah. Pembiayaan non-UMKM ini tercatat mampu mencapai angka Rp36,91 triliun atau mendominasi sekitar 66,48 persen dari total keseluruhan penyaluran kredit perbankan. Kendati demikian, porsi untuk pembiayaan segmen kerakyatan juga tetap mendapatkan perhatian yang sangat besar dari lembaga keuangan formal melalui berbagai skema penyaluran yang variatif dan kompetitif.

Penyaluran pembiayaan untuk segmen kerakyatan ini terbagi ke dalam beberapa kategori skala usaha yang ada di masyarakat. Kredit mikro tercatat mampu terserap hingga Rp9,40 triliun atau mencakup 16,93 persen dari total penyaluran kredit. Kemudian disusul oleh kategori kredit kecil yang mencatatkan angka sebesar Rp5,94 triliun atau 10,69 persen, serta kredit menengah yang membukukan angka sebesar Rp3,28 triliun atau setara dengan 5,90 persen dari total keseluruhan portofolio penyaluran kredit bank umum di wilayah tersebut.

Pertumbuhan angka penyaluran kredit ini mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan lembaga perbankan terhadap prospek bisnis dan iklim investasi di wilayah Kalimantan Tengah. Dengan dukungan pembiayaan yang kuat dari sektor perbankan, para pelaku usaha di berbagai tingkatan diharapkan dapat terus mengembangkan kapasitas produksi, memperluas jangkauan pasar, serta menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat lokal. Otoritas pengawas jasa keuangan sendiri berkomitmen untuk terus mengawal stabilitas sistem keuangan agar fungsi intermediasi perbankan dapat berjalan secara optimal, aman, dan berkelanjutan demi kemajuan perekonomian daerah di masa mendatang.

Also Read
Latest News
  • Otoritas Jasa Keuangan Sebut Penyaluran Kredit Produktif di Kalimantan Tengah Sentuh Puluhan Triliun Rupiah
  • Otoritas Jasa Keuangan Sebut Penyaluran Kredit Produktif di Kalimantan Tengah Sentuh Puluhan Triliun Rupiah
  • Otoritas Jasa Keuangan Sebut Penyaluran Kredit Produktif di Kalimantan Tengah Sentuh Puluhan Triliun Rupiah
  • Otoritas Jasa Keuangan Sebut Penyaluran Kredit Produktif di Kalimantan Tengah Sentuh Puluhan Triliun Rupiah
  • Otoritas Jasa Keuangan Sebut Penyaluran Kredit Produktif di Kalimantan Tengah Sentuh Puluhan Triliun Rupiah
  • Otoritas Jasa Keuangan Sebut Penyaluran Kredit Produktif di Kalimantan Tengah Sentuh Puluhan Triliun Rupiah
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad