Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Menelusuri Jejak Istana Kuno Keraton Ismahayana di Tanah Landak

gambar hanya ilustrasi

Ngabang - Menyusuri kawasan pedalaman Kalimantan Barat selalu menyajikan cerita menarik mengenai peradaban masa lampau yang masih bertahan hingga kini. Salah satu saksi bisu kejayaan masa lalu yang tetap berdiri kokoh adalah Keraton Ismahayana yang terletak di Kabupaten Landak. Bangunan bersejarah ini tidak sekadar menjadi monumen mati, melainkan pusat warisan budaya yang merekam jejak panjang interaksi antara masyarakat adat Dayak dan Kesultanan Melayu di tanah Borneo. Letaknya yang berada di Desa Raja, Kecamatan Ngabang, membuat kompleks keraton ini mudah dijangkau oleh para pelancong yang ingin mengenal lebih dekat akar budaya masyarakat setempat.

Berdasarkan catatan sejarah dan tradisi lisan yang berkembang, awal mula berdirinya kerajaan ini berkaitan erat dengan figur Raden Kesuma Sumantri Indra Ningrat yang bergelar Ratu Sang Nata Pulang Pali. Tokoh tersebut dikisahkan datang dari Pulau Jawa menuju Kalimantan dan mendirikan pusat pemerintahan di sekitar aliran Sungai Landak. Dari perkawinannya dengan seorang perempuan Dayak bernama Dara Itam, lahirlah Raden Ismahayana yang kemudian diangkat menjadi penguasa awal dengan gelar Raja Dipati Karang Tanjung Tua. Nama Ismahayana pun diabadikan menjadi identitas keraton yang memegang peranan penting dalam perjalanan sejarah politik dan budaya di wilayah tersebut pada abad pertengahan.

Seiring berjalannya waktu dan masuknya pengaruh Islam, para penguasa kerajaan berganti nama, termasuk Raden Ismahayana yang kemudian dikenal sebagai Abdulkahar. Pusat pemerintahan pun sempat mengalami perpindahan ke kawasan Munggu yang berada di pertemuan Sungai Landak dan Sungai Menyuke. Kendati demikian, bangunan keraton yang dapat disaksikan oleh masyarakat pada masa kini bukanlah bangunan asli dari abad ke-15. Berdasarkan data dari instansi terkait, bangunan utama yang berdiri sekarang mulai didirikan pada tahun 1912 atas prakarsa Gusti Abdul Hamid sebelum akhirnya mengalami beberapa kali proses pemugaran agar keaslian arsitekturnya tetap terjaga dengan baik.

Kompleks keraton ini memiliki luas bangunan sekitar 590 meter persegi di atas lahan yang jauh lebih luas. Arsitekturnya mengadopsi bentuk rumah panggung tradisional khas Melayu Kalimantan Barat dengan kolong setinggi kurang lebih setengah meter di bagian bawahnya. Seluruh material utama bangunan, mulai dari lantai, dinding, hingga rangka atap, menggunakan kayu belian atau yang sering disebut sebagai kayu besi. Jenis kayu ini dikenal memiliki ketahanan yang luar biasa terhadap cuaca dan serangan rayap, sehingga mampu bertahan melintasi zaman selama lebih dari satu abad. Nuansa tradisional semakin terasa kental melalui struktur bangunan yang memanjang ke belakang serta adanya teras terbuka di bagian depan yang dahulu difungsikan sebagai ruang penerimaan tamu agung.

Di dalam ruang utama keraton, pengunjung dapat melihat berbagai macam benda pusaka peninggalan masa lampau yang dirawat secara teliti. Koleksi tersebut meliputi mahkota Sultan Landak, senjata tradisional seperti keris Si Kanyut dan sepasang pedang, serta Al-Qur'an kuno yang ditulis tangan. Selain itu, terdapat pula meriam kuno bernama Si Penyuk, duplikat payung kebesaran, perangkat gamelan tradisional, hingga lembaran lontar yang memuat silsilah raja-raja Kesultanan Landak. Keberadaan benda-benda ini memberikan gambaran nyata mengenai kehidupan sosial dan tradisi kerajaan yang pernah menjadi pusat kekuasaan yang disegani di wilayah pedalaman Kalimantan Barat.

Namun demikian, perjalanan sejarah Kesultanan Landak juga diwarnai oleh masa-masa sulit, terutama pada era pendudukan kolonial Jepang. Pemerintahan kerajaan terakhir di bawah kepemimpinan Pangeran Ratu Gusti Abdul Hamid harus berakhir tragis setelah sang raja wafat sebagai korban pembantaian dalam Peristiwa Mandor pada tahun 1943. Peristiwa kelam tersebut kini diabadikan melalui situs Makam Juang Mandor yang terletak tidak jauh dari kawasan keraton, sebagai pengingat atas pengorbanan para pejuang dan tokoh masyarakat setempat di masa lalu. Walaupun penguasa terakhir telah tiada, keturunan dan kerabat keraton tetap berupaya menjaga eksistensi warisan budaya leluhur agar tidak punah ditelan arus modernisasi.

Hingga saat ini, kompleks Keraton Ismahayana masih difungsikan sebagai pusat berbagai kegiatan adat dan budaya masyarakat Kabupaten Landak. Salah satu agenda tahunan yang paling dinantikan adalah pelaksanaan Festival Budaya Tumpang Negeri, yang menjadi ajang silaturahmi sekaligus pelestarian tradisi lokal. Festival ini mempertemukan berbagai elemen masyarakat dari beragam latar belakang suku dan agama untuk merayakan kekayaan budaya Nusantara. Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat terus berkomitmen untuk merawat situs bersejarah ini agar generasi mendatang tetap dapat mengenali dan menghargai akar identitas kultural mereka di bumi Kalimantan.

Also Read
Latest News
  • Menelusuri Jejak Istana Kuno Keraton Ismahayana di Tanah Landak
  • Menelusuri Jejak Istana Kuno Keraton Ismahayana di Tanah Landak
  • Menelusuri Jejak Istana Kuno Keraton Ismahayana di Tanah Landak
  • Menelusuri Jejak Istana Kuno Keraton Ismahayana di Tanah Landak
  • Menelusuri Jejak Istana Kuno Keraton Ismahayana di Tanah Landak
  • Menelusuri Jejak Istana Kuno Keraton Ismahayana di Tanah Landak
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad