Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Fenomena Tanah Retak Mirip Gurun Afrika di Ketapang Kalimantan Barat Penjelasan Ahli IPB

gambar hanya ilustrasi

Ketapang - Media sosial sempat dihebohkan oleh beredarnya sebuah rekaman video singkat yang memperlihatkan fenomena alam tak biasa berupa hamparan tanah retak dalam ukuran besar. Berdasarkan penelusuran di dunia maya, video tersebut pertama kali diunggah oleh sebuah akun TikTok bernama @ty******* pada penghujung bulan September tepatnya hari Minggu tanggal 27 September 2026. Dalam tayangan video yang dengan cepat menyita perhatian warganet tersebut, kondisi daratan di sana terlihat sangat gersang dengan dominasi warna cokelat oranye membentang luas sejauh mata memandang. Tak hanya itu, pada unggahan video lainnya dari akun yang sama, tampak pula momen dramatis tatkala kaki seorang pria dewasa terjebak di antara celah-celah tanah yang pecah tersebut. Sebagian dari tekstur tanah di lokasi kejadian tampak menyerupai lumpur kering ataupun tanah liat yang mengeras. Kemunculan video amatir ini seketika memantik beragam reaksi dan tanya di kalangan publik dunia maya, mengingat bentang alam yang ditampilkan sekilas tampak menyerupai kawasan gurun pasir gersang yang lazim ditemukan di benua Afrika. Warga internet pun berbondong-bondong memberikan komentar, mulai dari yang merasa takjub hingga khawatir akan keselamatan warga sekitar. Menanggapi kehebohan virtual ini, kalangan akademisi dari institusi pendidikan tinggi terkemuka di tanah air pun angkat bicara untuk memberikan pencerahan ilmiah agar masyarakat tidak terjebak pada spekulasi yang keliru. Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB University, Profesor Widiatmaka, memberikan penjelasan mendasar mengenai bagaimana fenomena alam tersebut bisa terbentuk secara ilmiah di permukaan bumi. Menurut pandangan sang profesor, retakan dengan skala besar pada umumnya memang hanya bisa muncul pada jenis tanah atau material tertentu yang memiliki kandungan liat cukup tinggi di dalamnya. Material dengan karakteristik seperti itu secara alami memiliki sifat mudah menyusut ketika mengalami kehilangan kandungan air secara signifikan. Proses penyusutan volume material ini kemudian akan menimbulkan tegangan mekanis yang amat kuat hingga pada akhirnya membuat permukaan tanah tersebut pecah dan membentuk pola-pola retakan yang terlihat kasat mata dari atas. Dalam penjelasannya yang dilansir dari laman resmi IPB, Profesor Widiatmaka menegaskan bahwa skenario yang paling umum terjadi di balik fenomena semacam ini adalah proses pengeringan ekstrem pada lapisan tanah atau endapan lumpur liat. Ketika material basah tersebut kehilangan kadar airnya akibat berbagai pemicu lingkungan, volume tanah akan mengalami penciutan secara drastis. Di saat yang sama, proses penyusutan tersebut tertahan oleh lapisan tanah yang berada jauh di bagian bawah atau oleh material padat lain di sekitarnya. Tegangan tarik yang timbul akibat ketidakseimbangan inilah yang kemudian memicu permukaan tanah untuk pecah berkeping-keping dan membentuk pola retakan yang menyerupai jaring laba-laba atau pemandangan tanah kering di luar negeri. Lebih lanjut, akademisi senior tersebut juga memaparkan sejumlah faktor pemicu spesifik yang dapat mempercepat proses pengeringan tanah liat di alam bebas. Proses hilangnya kandungan air dari dalam tanah bisa dipicu oleh kombinasi berbagai kondisi cuaca dan lingkungan, mulai dari tren berkurangnya curah hujan secara drastis, tingkat penguapan air yang sangat tinggi akibat terik matahari, hingga surutnya genangan air yang tadinya menutupi area tersebut. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah adanya perubahan pada sistem drainase alami maupun buatan, serta adanya aktivitas penurunan muka tanah dan pergerakan lapisan bumi secara lokal. Kendati demikian, terkait dengan video viral tanah retak yang berlokasi spesifik di Ketapang, Kalimantan Barat ini, Profesor Widiatmaka menilai bahwa dugaan awal yang paling masuk akal adalah fenomena mengeringnya endapan lumpur liat yang kemudian diikuti oleh penyusutan volume secara masif. Walaupun demikian, ia juga memberikan catatan penting bahwa penyebab yang jauh lebih spesifik dan akurat tentu belum bisa dipastikan secara mutlak tanpa adanya investigasi serta pemeriksaan fisik langsung di lapangan. Belum dapat dipastikan apakah proses pengeringan tanah tersebut terjadi terutama akibat faktor cuaca panas yang ekstrem, surutnya genangan air secara tiba-tiba, atau justru disebabkan oleh adanya perubahan tata air serta alih fungsi penggunaan lahan di sekitar lokasi kejadian. Oleh sebab itu, ia mengimbau kepada masyarakat luas agar senantiasa bersikap bijak dan berhati-hati dalam mencerna informasi, serta tidak terburu-buru menyamakan fenomena lokal di Ketapang ini secara serampangan dengan kondisi tanah retak akibat kekeringan ekstrem yang terjadi di benua Afrika. Perlu diketahui pula bahwa fenomena perubahan bentuk permukaan tanah akibat faktor cuaca dan hidrologi bukanlah hal yang sepenuhnya baru di Indonesia. Dalam catatan historis kebencanaan maupun lingkungan hidup nasional, berbagai wilayah di tanah air kerap mengalami dinamika tanah akibat pergeseran musim dari penghujan ke kemarau panjang. Wilayah Kalimantan Barat sendiri, termasuk Kabupaten Ketapang, memiliki karakteristik geologis dan tipologi tanah yang beragam, di mana sebagian wilayahnya terdiri atas dataran rendah dan kawasan rawa atau bekas genangan yang rentan mengalami perubahan struktur ketika musim berganti secara ekstrem. Perubahan iklim global yang kian dirasakan dampaknya dalam beberapa tahun terakhir juga turut memicu anomali cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi yang berdampak langsung pada siklus hidrologi lokal. Kondisi ini membuat tanah-tanah yang kaya akan kandungan liat menjadi lebih cepat kehilangan kelembapan alaminya, yang pada gilirannya dapat memicu terbentuknya retakan-retakan tanah berskala besar apabila tidak diantisipasi dengan pengelolaan tata air yang memadai. Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan dapat segera menurunkan tim ahli ke lokasi kejadian di Ketapang guna melakukan kajian komprehensif, sehingga masyarakat mendapatkan kepastian informasi yang valid sekaligus langkah antisipasi mitigasi bencana lingkungan yang tepat guna di masa mendatang.

Also Read
Latest News
  • Fenomena Tanah Retak Mirip Gurun Afrika di Ketapang Kalimantan Barat Penjelasan Ahli IPB
  • Fenomena Tanah Retak Mirip Gurun Afrika di Ketapang Kalimantan Barat Penjelasan Ahli IPB
  • Fenomena Tanah Retak Mirip Gurun Afrika di Ketapang Kalimantan Barat Penjelasan Ahli IPB
  • Fenomena Tanah Retak Mirip Gurun Afrika di Ketapang Kalimantan Barat Penjelasan Ahli IPB
  • Fenomena Tanah Retak Mirip Gurun Afrika di Ketapang Kalimantan Barat Penjelasan Ahli IPB
  • Fenomena Tanah Retak Mirip Gurun Afrika di Ketapang Kalimantan Barat Penjelasan Ahli IPB
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad