Banjarmasin - Sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tidak lepas dari kontribusi besar para tokoh asal Kalimantan. Para pejuang dari Tanah Borneo ini mengukir catatan emas melalui berbagai lini perjuangan, mulai dari pertempuran fisik melawan kolonialisme, jalur diplomasi, pembentukan sistem pemerintahan daerah, hingga pengembangan bidang pendidikan serta keagamaan. Jejak langkah sejarah mereka menjadi bukti nyata bahwa fondasi persatuan bangsa dibangun oleh tekad yang kuat dari seluruh wilayah kepulauan Indonesia.
Salah satu figur paling legendaris dalam perlawanan kolonial adalah Pangeran Antasari. Beliau merupakan pemimpin utama Perang Banjar yang meletus pada tahun 1859 melawan pasukan Belanda. Sebagai sultan sekaligus panglima perang, Pangeran Antasari memiliki ketangguhan luar biasa dalam taktik gerilya serta memobilisasi rakyat. Semboyannya, "Haram manyarah, waja sampai kaputing", menjadi simbol keteguhan perjuangan hingga titik darah terakhir. Perjuangan fisiknya terhenti saat ia wafat akibat sakit pada 11 Oktober 1862 di Bayan Begak. Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 27 Maret 1968 melalui Keputusan Presiden Nomor 06/TK/Tahun 1968, dan wajahnya diabadikan pada uang kertas pecahan dua ribu rupiah emisi lama.
Pada masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, muncul Brigadir Jenderal Hasan Basry yang dijuluki Bapak Gerilya Kalimantan. Ia memimpin rakyat Kalimantan Selatan melawan agresi militer Belanda pasca-proklamasi 1945. Hasan Basry mendirikan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan dan membacakan Proklamasi 17 Mei 1949 di Desa Niih, Kandangan. Proklamasi tersebut menegaskan posisi mutlak Kalimantan Selatan sebagai bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Selepas masa perang, ia menginisiasi pembentukan Dewan Lambung Mangkurat yang melahirkan Universitas Lambung Mangkurat sebagai perguruan tinggi pertama di daerah tersebut. Atas jasa-jasanya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 3 November 2001 melalui Keputusan Presiden Nomor 110/TK/Tahun 2001.
| Hasan Basry. Sumber Wikipedua |
Tokoh berikutnya dengan kiprah menonjol di tingkat nasional adalah KH Dr. Idham Chalid. Lahir di Satui, ulama dan negarawan karismatik ini dikenal karena kesederhanaannya yang luar biasa meski menduduki berbagai posisi strategis. Idham Chalid pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR RI periode 1971-1977, hingga Ketua Dewan Pertimbangan Agung. Ia kerap dijuluki "Ketua DPR termiskin" karena memilih tinggal di kompleks pesantren yang bersahaja di Cipete untuk mendidik santri. Setelah pensiun dari politik, ia aktif mengelola lembaga pendidikan sosial di Cisarua, Bogor. Dedikasinya diakui negara dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada 7 November 2011, serta potretnya yang diabadikan pada uang kertas pecahan lima ribu rupiah.
Sementara itu, wilayah Kalimantan Tengah melahirkan sosok pahlawan nasional terkemuka, Tjilik Riwut. Pria kelahiran Kasongan ini memiliki kontribusi ganda, baik sebagai perwira militer Angkatan Udara maupun sebagai kepala daerah. Tjilik Riwut memimpin operasi penerjunan pasukan pertama di Kalimantan untuk membuka jalur komunikasi perjuangan dengan pemerintah pusat di Yogyakarta. Peran penting lainnya ditunjukkan saat ia menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Tengah pertama, di mana ia mengintegrasikan masyarakat adat ke dalam bingkai NKRI serta merintis pembangunan infrastruktur wilayah pedalaman. Atas pengabdian tersebut, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada tahun 1998.
| Tjilik Riwut. sumber MMC Kalteng |
Kalimantan juga memiliki figur penting dalam bidang teknik dan pemerintahan, yaitu Pangeran Muhammad Noor. Insinyur sipil lulusan Bandung ini ditunjuk sebagai Gubernur Kalimantan pertama setelah Indonesia merdeka. Ia berperan aktif melatih para pemuda untuk mempertahankan kedaulatan tanah air dari tekanan militer Belanda. Di masa pembangunan, kontribusi nyatanya terlihat dari perencanaan proyek strategis, termasuk memelopori pembangunan Waduk Riam Kanan yang menjadi sumber energi vital bagi Kalimantan Selatan. Dedikasi dan kepemimpinan visionernya membuat pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2018.
Perjuangan dari kawasan barat Kalimantan diwakili oleh Abdul Kadir dengan gelar Raden Tumenggung Setia Pahlawan. Tokoh asal Melawi ini menerapkan strategi perjuangan unik melalui taktik penyamaran ganda. Di satu sisi, ia menjalankan tugas administratif sebagai pejabat daerah yang loyal kepada Belanda, namun secara sembunyi-sembunyi menyuplai intelijen, senjata, dan logistik bagi pejuang lokal. Siasat cerdik ini berhasil mengacaukan kekuatan militer kolonial sebelum akhirnya penyamarannya terbongkar. Atas keberanian dan kesetiaannya yang tanpa pamrih, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1999.
Warisan perjuangan para pahlawan asal Kalimantan ini membuktikan bahwa dedikasi kepada bangsa dapat diwujudkan lewat berbagai jalan luhur, baik militer, politik, pembangunan daerah, maupun pendidikan. Nilai-nilai keteguhan, kesederhanaan, dan kecerdasan yang mereka wariskan menjadi fondasi penting bagi generasi masa kini untuk terus merawat persatuan nasional serta mendorong kemajuan daerah secara berkelanjutan di seluruh penjuru Nusantara.






