Palangkaraya - Upaya penyelamatan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di tanah Borneo memasuki babak baru dengan diluncurkannya sebuah karya literatur yang mendokumentasikan aksi heroik para pendahulu. Buku berjudul Perjuangan Pemuda Dayak AURI: Kami Datang untuk Kalimantan secara resmi diperkenalkan kepada publik bertepatan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Penyerahan buku bersejarah ini dilakukan langsung kepada Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, setelah pelaksanaan upacara bendera di Aula Jayang Tingang. Langkah ini dinilai sebagai momentum krusial untuk melestarikan ingatan kolektif mengenai kontribusi besar pemuda daerah dalam mempertahankan kedaulatan negara.
Peluncuran buku ini tidak sekadar menjadi seremonial belaka, melainkan sebuah bentuk pertanggungjawaban sejarah kepada generasi penerus. Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Iskandar, Letnan Kolonel Penerbang Nugroho Tri Widyanto, mengungkapkan bahwa inisiatif penulisan buku ini berawal dari keprihatinan atas minimnya literatur sejarah yang mengulas peran krusial para pemuda lokal dalam operasi udara pertama di Indonesia. Menurutnya, selama puluhan tahun, kisah heroik tiga belas penerjun tersebut cenderung hanya tersimpan dalam tumpukan arsip militer, dokumen pribadi keluarga, serta ingatan lisan yang perlahan mengabur ditelan zaman.
Peristiwa bersejarah yang melatarbelakangi penulisan buku ini terjadi pada tanggal 17 Oktober 1947. Pada hari itu, sebuah pesawat transportasi militer jenis Dakota milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) terbang membelah langit Kalimantan yang saat itu masih berada di bawah cengkeraman ketat militer Belanda. Dari dalam kompartemen pesawat tersebut, tiga belas pemuda bersiap melakukan aksi nekat demi membela tanah air. Mereka tidak hanya membawa senjata api dan amunisi, tetapi juga memikul perlengkapan komunikasi radio yang sangat penting untuk menghubungkan jaringan perjuangan di pedalaman Kalimantan dengan pusat pemerintahan darurat Republik Indonesia di Yogyakarta.
Operasi lintas udara ini tercatat dalam sejarah militer nasional sebagai operasi penerjunan pertama yang pernah dilakukan oleh tentara Indonesia. Misi utama dari ketiga belas personel ini adalah membuka jalur komunikasi, mendirikan stasiun pemancar radio, serta mengorganisasi kekuatan rakyat setempat untuk melakukan perlawanan gerilya terhadap pasukan pendudukan Belanda. Keberhasilan operasi ini sangat vital karena Kalimantan pada masa itu terisolasi dari pusat pemerintahan Republik, sehingga informasi mengenai perjuangan kemerdekaan sering kali tidak tersampaikan dengan baik kepada masyarakat di pedalaman.
Meskipun memiliki nilai historis yang luar biasa tinggi, kisah perjuangan ini sempat meredup dari ingatan publik nasional maupun lokal. Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto mengakui bahwa riset intensif untuk menyusun buku ini justru dipicu oleh sebuah peristiwa humanis yang terjadi pada pertengahan tahun 2025. Perjalanan panjang penelusuran sejarah ini bermula ketika perwakilan keluarga dari salah satu tokoh penerjun, yaitu Sersan Udara Dua (LMU II) Cornelius Willems, mendatangi Markas Lanud Iskandar di Pangkalan Bun pada bulan Juli 2025 untuk menyampaikan kondisi makam sang pahlawan yang memprihatinkan.
Pihak keluarga melaporkan bahwa makam Cornelius Willems yang terletak di wilayah Kapuas sering kali terendam banjir luapan sungai, sehingga kondisinya terus mengalami kerusakan dari waktu ke waktu. Laporan tersebut segera direspons oleh pihak Lanud Iskandar dengan melakukan verifikasi dokumen dan membuka kembali arsip-arsip lama mengenai identitas serta rekam jejak perjuangan militer Cornelius. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa Cornelius Willems bukan sekadar prajurit biasa, melainkan satu dari tiga belas pemuda tangguh yang diterjunkan dalam operasi udara legendaris tahun 1947 tersebut.
Berdasarkan bukti-bukti autentik berupa piagam penghargaan negara dan dokumen kedinasan yang dimiliki pihak keluarga, Cornelius dinilai sangat layak untuk mendapatkan tempat penghormatan terakhir yang lebih representatif. Proses pembongkaran makam lama di Kapuas akhirnya dilaksanakan pada tanggal 8 November 2025. Dua hari berselang, tepat pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2025, jasad Cornelius Willems dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangkaraya, melalui sebuah upacara militer resmi yang dipimpin oleh jajaran TNI Angkatan Udara.
Momentum pemindahan makam inilah yang kemudian memicu pertanyaan lebih mendalam di kalangan peneliti dan otoritas militer mengenai nasib serta identitas lengkap dari dua belas rekan Cornelius lainnya. Upaya pencarian data kemudian diperluas dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari sejarawan lokal, saksi hidup, hingga penelusuran dokumen resmi di tingkat pusat. Langkah eksploratif ini dilakukan untuk menyatukan kepingan-kepingan informasi yang berserakan, hingga akhirnya berhasil dirangkum menjadi sebuah narasi utuh dalam buku sejarah yang kini telah resmi diterbitkan tersebut.
Buku ini diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah sekaligus bahan bacaan edukatif bagi masyarakat luas, khususnya para pelajar dan generasi muda di Kalimantan Tengah. Dengan menyajikan data yang akurat dan berbasis dokumen resmi, karya ini berupaya meluruskan jalannya sejarah sekaligus memberikan penghormatan yang layak kepada para pejuang daerah. Melalui publikasi ini, identitas kolektif dan kontribusi nyata pemuda Dayak dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi cerita pengantar tidur, melainkan bagian integral dari sejarah perjuangan bangsa yang diakui secara nasional.






