Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Ancaman Kemarau Panjang Mulai Mengepung Kalimantan Timur Warga Diminta Waspada Krisis Air

 

Ilustrasi AI

Samarinda - Memasuki pertengahan tahun, tanda-tanda datangnya puncak musim kemarau di wilayah Provinsi Kalimantan Timur makin terasa nyata. Teriknya panas matahari yang menyengat kulit di siang hari serta menurunnya intensitas curah hujan secara drastis dalam beberapa pekan terakhir menjadi alarm alam yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Kondisi cuaca yang kian mengering ini perlahan memicu kekhawatiran besar di tengah masyarakat luas, terutama terkait bayang-bayang krisis air bersih dan potensi meluasnya gagal panen. Otoritas kebencanaan dan badan meteorologi setempat bahkan telah mengeluarkan rentetan peringatan dini agar seluruh elemen warga segera bersiap menghadapi potensi kekeringan esktrem yang diprediksi akan terus melanda kawasan bentang alam ini hingga beberapa bulan ke depan.

Sektor yang paling cepat merasakan hantaman keras dari perubahan cuaca panas ini tentu saja adalah bidang pertanian lahan basah. Ratusan hektare hamparan sawah produktif di sentra-sentra lumbung pangan seperti Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara kini mulai menampakkan tanah retak yang terbelah akibat kehabisan pasokan kelembapan. Debit air pada saluran irigasi yang biasanya mengalir deras membasahi petak persawahan kini menyusut tajam hingga nyaris mengering sepenuhnya. Kondisi memprihatinkan ini jelas membuat para petani lokal dilanda kepanikan luar biasa. Jika tidak segera turun hujan lebat atau tidak ada intervensi pengairan buatan dari instansi pemerintah terkait, bayangan buruk berupa gagal panen atau puso sudah pasti akan menguras keringat dan modal jutaan rupiah yang telah mereka tanam. Ancaman merosotnya angka produksi beras lokal ini amat berbahaya, mengingat kebutuhan suplai pasokan pangan di Bumi Etam sedang melonjak tajam seiring pesatnya laju pergerakan manusia ke arah proyek ibu kota baru.

Kesulitan yang dibawa oleh kemarau panjang ini nyatanya tidak berhenti pada urusan lumpur sawah saja. Ketersediaan pasokan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga harian warga perkotaan dan pelosok desa juga mulai memasuki tahapan yang mengkhawatirkan. Sejumlah waduk penampungan air baku dan danau tadah hujan yang selama ini menjadi sumber pasokan andalan bagi instalasi perusahaan daerah air minum dilaporkan mengalami penyusutan volume buangan yang sangat kentara. Lebih parah lagi, di beberapa kawasan pesisir dan kawasan hilir daerah aliran sungai, turunnya dorongan debit air tawar mengakibatkan terjadinya intrusi atau perembesan air laut yang menyusup jauh ke arah daratan. Akibatnya, pasokan air sungai yang biasa diolah untuk air keran warga seketika berubah rasa menjadi payau, terasa asin, dan tidak lagi layak untuk dikonsumsi sebagai air minum. Kondisi ini memaksa warga di kawasan padat penduduk untuk merogoh kocek lebih dalam guna membeli air tawar dari penjaja mobil tangki keliling demi bisa sekadar menyambung hidup untuk memasak dan mandi.

Menyusutnya cadangan air permukaan ini turut melipatgandakan potensi ancaman bencana pada sektor kelestarian lingkungan hidup, yakni meledaknya risiko kerawanan kebakaran hutan dan hamparan lahan gambut. Hamparan ilalang liar, deretan semak belukar, hingga tumpukan sisa daun rontok di lantai pinggiran hutan kini telah berubah wujud menjadi ladang bahan bakar alam yang teramat peka dan amat mudah tersulut percikan api. Tiupan angin darat yang berembus cukup kencang pada rentang waktu siang hari membuat bara api sekecil apa pun sanggup menjalar tak terkendali dan melahap belasan hektare kawasan sabuk hijau hanya dalam hitungan jam. Situasi semacam ini amat mengancam keselamatan kesehatan publik, karena kepulan asap pekat sisa pembakaran lahan dipastikan akan langsung meracuni kualitas udara permukiman, memicu lonjakan pasien penderita infeksi saluran pernapasan akut di puskesmas, serta mengacaukan jadwal penerbangan di bandar udara akibat merosotnya jarak pandang visual.

Merespons rentetan situasi darurat alam yang mulai mengepung dari berbagai sudut wilayah ini, jajaran aparatur pemerintah daerah beserta satuan keamanan tidak sudi tinggal diam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah di tingkat provinsi dan kabupaten kota telah menyiagakan posko komando darurat kekeringan yang bersiaga penuh setiap waktu. Ratusan armada truk tangki pembawa air bersih mulai dikerahkan dan dijadwalkan secara bergiliran guna memasok kebutuhan air bersih secara cuma-cuma ke wilayah-wilayah pedalaman yang paling parah dihantam krisis pasokan air baku. Pada lini pertahanan sektor pertanian, petugas penyuluh terus berupaya keras mengedukasi para penggarap lahan agar sementara waktu menunda menanam padi dan segera beralih menanam komoditas palawija seperti jagung atau singkong yang karakternya jauh lebih tahan banting menahan gempuran cuaca kerontang.

Ancaman siklus kemarau terik yang selalu datang berulang kali setiap pergantian musim ini sepatutnya menjadi tamparan keras yang menyadarkan seluruh pengambil kebijakan perihal krusialnya pembangunan infrastruktur penampung air jangka panjang. Menggantungkan nasib mutlak pada siklus turunnya curah hujan sudah tidak lagi bisa dibenarkan di tengah kacaunya anomali perubahan iklim global yang kian liar dan sulit ditebak kalendernya. Pengerjaan ragam infrastruktur hidrologis seperti embung tadah hujan di desa-desa, bendungan berskala besar, hingga lubang sumur resapan tanah wajib segera diperbanyak di seluruh pelosok kabupaten, tidak melulu hanya dikebut pengerjaannya di kawasan elite ibu kota baru semata. Pada saat yang bersamaan, nurani dan kesadaran kolektif dari setiap individu masyarakat untuk senantiasa menghemat keran penggunaan air rumah tangga harus terus ditumbuhkan tanpa paksaan. Berbekal kewaspadaan yang tinggi, kejelian menghemat sumber daya yang tersisa, serta rimbunnya semangat gotong royong saling membagi air antartetangga, masyarakat daratan Borneo dipastikan sanggup melintasi ujian musim kering yang menyiksa ini tanpa harus jatuh terpuruk ke dalam jurang penderitaan yang lebih dalam.

 

Also Read
Latest News
  • Ancaman Kemarau Panjang Mulai Mengepung Kalimantan Timur Warga Diminta Waspada Krisis Air
  • Ancaman Kemarau Panjang Mulai Mengepung Kalimantan Timur Warga Diminta Waspada Krisis Air
  • Ancaman Kemarau Panjang Mulai Mengepung Kalimantan Timur Warga Diminta Waspada Krisis Air
  • Ancaman Kemarau Panjang Mulai Mengepung Kalimantan Timur Warga Diminta Waspada Krisis Air
  • Ancaman Kemarau Panjang Mulai Mengepung Kalimantan Timur Warga Diminta Waspada Krisis Air
  • Ancaman Kemarau Panjang Mulai Mengepung Kalimantan Timur Warga Diminta Waspada Krisis Air
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad