Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Pembangunan Jembatan Riko IKN Berpotensi Mengancam Habitat dan Konservasi Pesut Teluk Balikpapan

 

Ilustrasi AI

IKN — Proyek infrastruktur raksasa yang mengiringi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali memicu diskursus panjang antara percepatan pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan hidup. Rencana pembangunan Jembatan Sungai Riko di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, kini menjadi sorotan utama para pakar ekologi. Jembatan yang diproyeksikan sebagai jalur akses pendekat menuju kawasan pusat IKN ini dinilai membawa ancaman lingkungan yang sangat serius bagi populasi pesut di perairan Teluk Balikpapan yang kian kritis. Di satu sisi, jembatan ini krusial untuk konektivitas logistik, namun di sisi lain, jejak konstruksinya berpotensi merusak habitat mamalia laut langka tersebut.

Pembangunan jembatan dengan nilai investasi mencapai Rp1,2 triliun ini sebelumnya digadang-gadang akan segera direalisasikan. Secara teknis, Jembatan Riko dirancang megah dengan bentang utama 500 meter ditambah jembatan pendekat sepanjang satu kilometer membelah rawa. Infrastruktur ini diharapkan menjadi urat nadi baru yang menghubungkan wilayah Gersik ke Buluminung, sekaligus membuka isolasi kawasan industri pelabuhan di sekitarnya. Saat ini, proyek strategis tersebut tengah memasuki fase evaluasi dokumen perencanaan teknik rinci (DED) oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, dengan target perampungan tinjauan sebelum akhir tahun atas arahan Kementerian Pekerjaan Umum.

Namun, di balik narasi kemajuan tata ruang tersebut, ancaman kehancuran ekosistem mulai membayangi tatanan hayati lokal. Peneliti senior Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), Danielle Kreb, menyoroti urgensi perlindungan kawasan Sungai Riko yang selama ini bertindak sebagai jantung habitat pesut (Orcaella brevirostris). Danielle memperingatkan bahwa proyek jalan dan jembatan yang langsung membelah rute transportasi air ini memiliki risiko masif. Ancaman terbesar dipicu oleh kegiatan pemancangan tiang fondasi jembatan di dasar perairan yang menciptakan gangguan luar biasa bagi satwa akuatik bersensor sensitif.

Berdasarkan riset Yayasan RASI pada periode Juli hingga September 2023, kebisingan bawah air (underwater noise) dari aktivitas konstruksi menjadi beban mematikan bagi pesut. Mamalia ini sangat bergantung pada sistem ekolokasi untuk bernavigasi menembus air keruh dan mencari mangsa. Dentuman keras dari pemancangan tiang baja yang merambat melalui air memaksa kelompok pesut mengalami disorientasi parah hingga berbalik arah menjauhi wilayah tersebut. Dampaknya terlihat nyata melalui pemantauan visual; kelompok pesut yang rutin terlihat di hulu Teluk Balikpapan kini jumlahnya menyusut drastis.

Kehadiran anjungan kerja terapung di sekitar lokasi proyek juga secara tidak langsung membentuk barikade fisik yang memutus jalur migrasi alami mamalia perairan dangkal ini. Ruang gerak mereka semakin terjepit oleh dominasi aktivitas manusia, diperparah dengan lonjakan lalu lintas kapal ponton dan tongkang pengangkut material logistik IKN. Deru mesin kapal terus meningkatkan tingkat stres satwa, menguras energi mereka untuk menghindari laju kapal besar, yang pada gilirannya mengganggu waktu istirahat dan efektivitas mencari makan.

Spektrum ancaman juga datang dari kemunduran mutu kimiawi air di perairan tersebut. Laporan uji lingkungan mencatat konsentrasi senyawa amonia rata-rata menyentuh angka 0,086 miligram per liter, jauh melampaui ambang batas aman. Peningkatan kadar fosfat dan nitrat akibat limpasan tanah daratan berisiko memicu eutrofikasi dan menciptakan zona mati ekologis (dead zone). Masalah ini kian rumit seiring maraknya alih fungsi lahan hutan mangrove menjadi kawasan industri. Hilangnya sabuk hijau pelindung ini memicu sedimentasi lumpur tinggi yang mengubur area pemijahan ikan kecil. Ketika rantai makanan alami putus, populasi pesut terpaksa menahan lapar atau bermigrasi jauh ke perairan laut terbuka yang penuh ancaman jaring nelayan komersial.

Tumpukan tekanan ekologis ini terekam konkret melalui data tren populasi pesut yang terus menurun secara linear. Pemantauan pada tahun 2015 mengestimasi populasi di Teluk Balikpapan berkisar 73 individu. Realitas pahit diungkap melalui survei termutakhir akhir 2023, di mana populasinya terjun bebas menyisakan sekitar 59 individu di alam liar. Menilik urgensi tersebut, Danielle mendesak pemerintah menetapkan protokol keselamatan konservasi terketat, termasuk pengadaan tenaga pengamat ahli mamalia laut (Marine Mammal Observer) untuk memitigasi aktivitas perairan selama tahap konstruksi berlangsung.

Merespons gelombang kekhawatiran ini, Badan Otorita IKN (OIKN) melalui Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Myrna Asnawati Safitri, menegaskan komitmen perlindungan keanekaragaman hayati yang telah diintegrasikan dalam Masterplan Biodiversity OIKN. Pihaknya mengklaim terus mengawasi ketat manuver usaha di pesisir untuk mencegah pencemaran dan telah menjatuhkan sanksi administratif kepada sejumlah pelaku bisnis yang terbukti melanggar tata lingkungan. Terkait polemik spesifik Jembatan Riko, OIKN menekankan perlunya tinjauan yurisdiksi spasial karena lokasi infrastruktur tersebut secara zonasi tidak sepenuhnya berada dalam wilayah delineasi inti IKN.

Di sisi lain, Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, memberikan sinyal transparansi birokrasi dengan membuka kemungkinan evaluasi kelanjutan proyek jembatan tersebut. Pemprov mengonfirmasi telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp8 miliar khusus untuk mengkaji ulang dokumen DED beserta studi kelayakan menyeluruh. Pemerintah daerah memastikan akan menampung aspirasi perlindungan lingkungan dan mengintensifkan dialog dengan pakar ekologi sebelum mengambil keputusan final. Opsi penundaan proyek pun tetap terbuka lebar sebagai wujud kepatuhan pada regulasi pelestarian hayati, guna memastikan laju roda ekonomi logistik IKN dan kelestarian populasi pesut di Bumi Etam dapat berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan keseimbangan alam.

 

Also Read
Latest News
  • Pembangunan Jembatan Riko IKN Berpotensi Mengancam Habitat dan Konservasi Pesut Teluk Balikpapan
  • Pembangunan Jembatan Riko IKN Berpotensi Mengancam Habitat dan Konservasi Pesut Teluk Balikpapan
  • Pembangunan Jembatan Riko IKN Berpotensi Mengancam Habitat dan Konservasi Pesut Teluk Balikpapan
  • Pembangunan Jembatan Riko IKN Berpotensi Mengancam Habitat dan Konservasi Pesut Teluk Balikpapan
  • Pembangunan Jembatan Riko IKN Berpotensi Mengancam Habitat dan Konservasi Pesut Teluk Balikpapan
  • Pembangunan Jembatan Riko IKN Berpotensi Mengancam Habitat dan Konservasi Pesut Teluk Balikpapan
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad