Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Menjahit Retakan Pendidikan di Kalimantan Barat: Bukan Sekadar Angka, Tapi Tentang Manusia

 

PONTIANAK – Bicara soal pendidikan di Kalimantan Barat adalah bicara soal bentang alam yang luas dan tantangan akses yang kerap kali memutus asa. Namun, belakangan ini, ada aroma optimisme yang berhembus dari kantor Gubernur di Jalan Ahmad Yani. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) rupanya sedang tidak main-main dalam urusan "menjahit" ketimpangan kualitas belajar yang selama ini menjadi ganjalan klasik di Bumi Khatulistiwa.

Loncatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalbar tahun 2025 menjadi bukti pembuka. Berdasarkan data BPS, angka IPM kita menyentuh 72,09. Naik hampir satu poin penuh dari tahun sebelumnya. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya angka statistik, namun bagi para pengambil kebijakan, ini adalah modal kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh.


Melawan Jarak dengan Koneksi

Geografi Kalbar yang masif seringkali membuat akses informasi menjadi barang mewah di pelosok. Penjabat (Pj) Gubernur Kalbar, dalam sebuah diskusi hangat di Pontianak, berkali-kali menekankan bahwa digitalisasi adalah "obat" bagi penyakit kesenjangan ini.

Program internet gratis pun digulirkan. Proyek ini bukan sekadar memasang kabel Wi-Fi di pojok sekolah, melainkan upaya merobohkan tembok pembatas antara siswa di kota dengan mereka yang ada di pedalaman. Bayangkan, seorang siswa di hulu sungai kini bisa mengakses jurnal yang sama dengan siswa di ibu kota provinsi. Itulah esensi dari pemerataan yang sesungguhnya.

"Internet gratis ini adalah jendela. Kita ingin anak-anak kita tidak hanya jago kandang, tapi punya nyali dan bekal ilmu untuk bersaing di kancah global," ungkap Gubernur dengan nada bicara yang tegas.


Subsidi yang Tepat Sasaran

Salah satu realitas pahit di lapangan adalah angka putus sekolah yang didorong oleh kemiskinan. Menjawab hal ini, Pemprov Kalbar mengambil langkah konkret yang cukup berani: menyuntikkan subsidi bagi 21.000 siswa di ratusan sekolah swasta sejak tahun 2025.

Langkah ini inklusif karena menyentuh SMA, SMK, hingga SLB swasta yang selama ini sering kali luput dari radar bantuan besar. Tujuannya jelas dan sederhana: memastikan tidak ada lagi kursi kelas yang kosong hanya karena orang tua siswa tak sanggup membayar uang pangkal.

Namun, pekerjaan rumah (PR) besar masih membayangi. Masih ada sekitar 114 ribu anak tidak sekolah (ATS) yang tercatat. Angka ini adalah luka yang coba disembuhkan melalui kolaborasi lintas sektor. Pemprov tidak ingin bekerja sendirian; mereka menggandeng dunia usaha untuk menyediakan jalur pendidikan kesetaraan bagi para pekerja, agar produktivitas ekonomi tetap berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pendidikan.


Ruang Kreativitas dan Akar Budaya

Pendidikan bagi Pemprov Kalbar rupanya tidak berhenti di urusan ijazah. Ada dimensi karakter yang ingin disentuh. Rencana revitalisasi Taman Budaya menjadi salah satu buktinya. Ruang ini diproyeksikan menjadi "kawah candradimuka" bagi kreativitas anak muda Kalbar.

Di sini, teknologi bertemu dengan tradisi. Generasi muda didorong untuk tetap modern namun tidak tercerabut dari akar budayanya. Pada akhirnya, semua strategi ini bermuara pada satu titik: menciptakan manusia Kalbar yang tangguh secara intelektual dan punya jati diri yang kuat.

Dengan kombinasi akses internet yang luas, bantuan biaya yang nyata, serta ruang ekspresi yang memadai, Kalbar sedang menatap masa depan dengan dagu tegak. Pendidikan bukan lagi soal siapa yang paling dekat dengan pusat kota, melainkan tentang siapa yang punya kemauan untuk maju.

 

Also Read
Latest News
  • Menjahit Retakan Pendidikan di Kalimantan Barat: Bukan Sekadar Angka, Tapi Tentang Manusia
  • Menjahit Retakan Pendidikan di Kalimantan Barat: Bukan Sekadar Angka, Tapi Tentang Manusia
  • Menjahit Retakan Pendidikan di Kalimantan Barat: Bukan Sekadar Angka, Tapi Tentang Manusia
  • Menjahit Retakan Pendidikan di Kalimantan Barat: Bukan Sekadar Angka, Tapi Tentang Manusia
  • Menjahit Retakan Pendidikan di Kalimantan Barat: Bukan Sekadar Angka, Tapi Tentang Manusia
  • Menjahit Retakan Pendidikan di Kalimantan Barat: Bukan Sekadar Angka, Tapi Tentang Manusia
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad