Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

DPRD Kaltim Siap Kawal 11 Tuntutan Mahasiswa Aliansi Mahakam ke Pemerintah Pusat

Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahakam menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) pada Senin, 1 September 2025. Dalam aksi tersebut, mereka menyuarakan 11 tuntutan yang mencakup evaluasi kebijakan daerah, peninjauan ulang tunjangan anggota dewan, serta penolakan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah pusat. Aksi ini menjadi sorotan publik karena skalanya yang besar dan intensitas tuntutan yang disampaikan secara langsung kepada para wakil rakyat.

Menanggapi aksi tersebut, Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud menyatakan komitmennya untuk mengakomodasi seluruh tuntutan yang disampaikan oleh para mahasiswa. Ia menegaskan bahwa meskipun sebagian besar tuntutan berkaitan dengan kebijakan pemerintah pusat, DPRD Kaltim akan meneruskan dan memperjuangkan aspirasi tersebut ke kementerian terkait. “Semua itu kan dari pusat, bukan dari kami. Artinya pemerintah daerah dalam hal ini gubernur bersama DPR akan mengajukan ke pemerintah pusat, seperti Kementerian Dalam Negeri dan seterusnya. Tapi DPRD Kaltim tetap siap mengakomodasi,” ujar Hasanuddin kepada wartawan pada Kamis, 4 September 2025.

Hasanuddin juga mengungkapkan bahwa pihaknya sebenarnya telah siap menandatangani fakta integritas sebagai bentuk komitmen terhadap tuntutan mahasiswa. Namun, proses penandatanganan tersebut tertunda karena massa aksi menginginkan kehadiran sejumlah pejabat tinggi daerah, termasuk Gubernur Kaltim, Kapolda, Pangdam, dan perwakilan Kejaksaan. Menurut Hasanuddin, permintaan tersebut berada di luar kewenangan DPRD sebagai lembaga legislatif. “Padahal kami sudah siap tanda tangan. Tapi teman-teman mahasiswa minta harus ada gubernur, kapolda, pangdam, kejaksaan, semua lengkap. Itu kan di luar kewenangan kami karena DPRD hanya legislatif. Jadi dialog kemarin tertunda,” jelasnya.

Ia juga menyoroti kurangnya persiapan teknis dari pihak mahasiswa dalam pelaksanaan penandatanganan fakta integritas. “Mau cari kertas, cari pulpen, cari materai. Jadi memang belum siap,” tambah Hasanuddin, sambil menekankan bahwa DPRD tetap membuka ruang dialog dan siap berdiskusi lebih lanjut jika mekanisme teknis telah disiapkan dengan matang.

Dalam kesempatan yang sama, Hasanuddin turut menanggapi kritik publik terkait anggaran pengecatan pagar DPRD Kaltim yang sempat mencapai hampir Rp 1 miliar pada tahun 2019. Ia menyatakan bahwa jika memang angka tersebut benar, maka hal itu dapat ditanyakan langsung kepada pihak pelaksana proyek. “Mungkin karena cat yang dipakai mahal, seperti Jotun. Tapi yang jelas, sekarang kami efisiensi. Tidak ada rencana renovasi pagar, paling hanya dibersihkan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa efisiensi anggaran saat ini telah berdampak pada pemangkasan sejumlah program DPRD, termasuk kegiatan rutin yang biasanya dilakukan dua hingga tiga kali dalam sebulan.

Hasanuddin juga menyampaikan harapannya agar mahasiswa tetap mengedepankan dialog dalam menyampaikan aspirasi. Ia mengaku telah berusaha menemui massa aksi secara langsung, namun tuntutan agar seluruh pejabat hadir membuat proses dialog menjadi tidak memungkinkan. “Kami sudah berusaha keluar menemui mereka, tapi mereka minta semua pihak hadir. Itu kan tidak mungkin. Kami ingin berdialog, hanya saja mungkin teman-teman mahasiswa kemarin belum siap,” ucapnya.

Aksi Aliansi Mahakam ini mencerminkan semangat kritis mahasiswa terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Tuntutan mereka tidak hanya menyasar kebijakan lokal, tetapi juga menyoroti kebijakan nasional yang dinilai merugikan masyarakat. Meski sempat terjadi ketegangan, mahasiswa tetap menegaskan bahwa mereka akan terus mengawal janji DPRD agar benar-benar ditindaklanjuti. Komitmen Hasanuddin untuk meneruskan tuntutan ke pemerintah pusat menjadi titik awal penting dalam proses advokasi kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap suara masyarakat.

Situasi ini juga menunjukkan dinamika hubungan antara mahasiswa sebagai representasi masyarakat sipil dan DPRD sebagai lembaga legislatif daerah. Ketegangan yang muncul dalam aksi tersebut bukanlah hal baru dalam sejarah demokrasi lokal, namun menjadi pengingat bahwa komunikasi dan koordinasi yang baik antara kedua pihak sangat diperlukan agar aspirasi rakyat dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan yang konkret.

Di tengah sorotan publik terhadap transparansi dan efisiensi anggaran, DPRD Kaltim dihadapkan pada tantangan untuk membuktikan komitmennya dalam menjalankan fungsi pengawasan dan legislasi secara akuntabel. Pernyataan Hasanuddin mengenai efisiensi anggaran dan pemangkasan program menjadi langkah awal yang patut diapresiasi, meski tetap membutuhkan pengawasan lebih lanjut dari masyarakat.

Sementara itu, mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan dapat terus menjaga semangat perjuangan mereka dengan tetap mengedepankan mekanisme demokratis dan dialog terbuka. Aksi yang dilakukan dengan tertib dan terorganisir akan lebih efektif dalam menyampaikan pesan dan membangun kepercayaan publik terhadap gerakan mereka.

Ke depan, proses pengawalan terhadap 11 tuntutan tersebut akan menjadi ujian bagi DPRD Kaltim dalam membuktikan komitmennya terhadap aspirasi rakyat. Jika berhasil diteruskan dan diperjuangkan di tingkat pusat, maka hal ini akan menjadi preseden positif bagi hubungan antara mahasiswa dan lembaga legislatif daerah. Namun jika tidak, maka potensi kekecewaan dan aksi lanjutan dari masyarakat sipil tidak dapat dihindari.

Dengan demikian, peristiwa ini bukan hanya soal tuntutan kebijakan, tetapi juga tentang bagaimana demokrasi lokal dijalankan dan bagaimana kepercayaan antara rakyat dan wakilnya dibangun. DPRD Kaltim dan mahasiswa Aliansi Mahakam kini berada di persimpangan penting: apakah akan melanjutkan dialog konstruktif atau membiarkan ketegangan berlarut tanpa solusi. Jawabannya akan menentukan arah gerakan sipil dan kualitas demokrasi di Kalimantan Timur dalam waktu yang akan datang.

 


Also Read
Latest News
  • DPRD Kaltim Siap Kawal 11 Tuntutan Mahasiswa Aliansi Mahakam ke Pemerintah Pusat
  • DPRD Kaltim Siap Kawal 11 Tuntutan Mahasiswa Aliansi Mahakam ke Pemerintah Pusat
  • DPRD Kaltim Siap Kawal 11 Tuntutan Mahasiswa Aliansi Mahakam ke Pemerintah Pusat
  • DPRD Kaltim Siap Kawal 11 Tuntutan Mahasiswa Aliansi Mahakam ke Pemerintah Pusat
  • DPRD Kaltim Siap Kawal 11 Tuntutan Mahasiswa Aliansi Mahakam ke Pemerintah Pusat
  • DPRD Kaltim Siap Kawal 11 Tuntutan Mahasiswa Aliansi Mahakam ke Pemerintah Pusat
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad