![]() |
| Ilustrasi AI |
Kaltim - Di tengah aliran Sungai Mahakam
yang membelah Kalimantan Timur, lahirlah sebuah gerakan baru yang menyuarakan
kepedulian terhadap masa depan bumi. Ia dinamakan Aura Mahakam, sebuah simbol
perjuangan ekologis yang baru saja dideklarasikan Koalisi Lanskap Mahakam pada
peringatan Hari Agraria dan Tata Ruang (HANTARU) 2025. Gerakan ini lahir dari
kegelisahan kolektif: bagaimana menyelamatkan lanskap Mahakam dari ancaman
industri ekstraktif sekaligus menegakkan keadilan ekologis bagi masyarakat
lokal.
Aura Mahakam bukan hanya sebuah nama. Ia
adalah seruan moral, simbol jiwa, dan pengingat bahwa bentang alam Mahakam
merupakan nadi kehidupan yang tak ternilai, bukan sekadar ruang eksploitasi.
Lanskap Mahakam: Jantung Ekosistem Kalimantan
Sungai Mahakam bukan sekadar aliran air,
tetapi bentangan hidup yang membentang luas hingga lebih dari 77.000 kilometer
persegi. Dari hulu di Mahakam Ulu hingga hilir yang bermuara di Kutai
Kartanegara dan Samarinda, sungai ini menjadi tulang punggung transportasi,
sumber air, serta ruang hidup masyarakat adat Dayak, Kutai, Banjar, dan
suku-suku lain.
Di kawasan hulu, Mahakam masih menyimpan
hutan hujan tropis yang perawan, menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan
fauna. Namun di wilayah hilir, wajah Mahakam sudah banyak berubah. Ekspansi
tambang batubara, perkebunan kelapa sawit, dan konversi lahan membuat bentang
ekologis ini kian tertekan.
Pesut Mahakam—mamalia air tawar yang
langka—kini terancam punah. Populasinya diperkirakan tersisa kurang dari 100
ekor. Begitu juga dengan bekantan, burung enggang, hingga ribuan jenis ikan air
tawar yang dulunya melimpah, kini semakin berkurang akibat pencemaran dan
kerusakan habitat.
Lanskap Mahakam adalah laboratorium
kehidupan. Namun jika kerusakan dibiarkan, bukan hanya keanekaragaman hayati
yang hilang, melainkan pula sumber pangan, obat-obatan, dan budaya masyarakat
lokal.
Aura: Energi Kehidupan dari Alam
Nama “Aura Mahakam” dipilih bukan tanpa
alasan. Aura diartikan sebagai energi kehidupan yang terpancar dari hubungan
manusia dengan alam. Ia menjadi lambang kekuatan yang menghubungkan manusia,
hutan, sungai, dan seluruh makhluk yang hidup di dalamnya.
Menurut Ahmad Saini, salah satu inisiator gerakan, Mahakam harus ditempatkan setara dengan lanskap penting Indonesia lainnya seperti Leuser di Sumatra, Raja Ampat di Papua, atau Komodo di Nusa Tenggara. “Mahakam adalah jantung Kalimantan. Jika rusak, dampaknya akan menjalar ke semua,” ungkapnya.
Dengan menjadikan Mahakam sebagai simbol,
koalisi ingin menegaskan bahwa perjuangan ekologis bukan hanya urusan aktivis
atau akademisi, tetapi urusan setiap orang yang hidup dan bernapas dari alam.
Generasi Muda sebagai Penjaga Masa Depan
Koalisi Lanskap Mahakam menaruh kepercayaan
besar kepada generasi muda. Mereka dianggap memiliki energi, kreativitas, dan
konektivitas untuk menggerakkan perubahan.
Melalui deklarasi ini, kaum muda diajak
untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama dalam menjaga
ekosistem. Berbagai program kreatif digelar, mulai dari kompetisi desain
nasional bertema “7 Aura Mahakam”, kampanye media sosial, hingga festival seni
yang akan diadakan di Samarinda pada November 2025.
“Anak muda harus merasa isu lingkungan ini
milik mereka. Bukan wacana orang tua, bukan sekadar jargon aktivis,” kata
Bolang, salah satu pegiat muda koalisi. Seni, musik, dan budaya dipakai sebagai
pintu masuk agar isu ekologi terasa lebih dekat dan membumi.
Riset, Seni, dan Advokasi: Tiga Pilar Gerakan
Aura Mahakam tidak berhenti di simbol. Ia ditopang oleh tiga pilar utama: riset, seni, dan advokasi kebijakan.
- Riset dilakukan untuk memetakan kerusakan dan potensi lanskap Mahakam. Data ilmiah dianggap penting agar perjuangan ekologis tidak hanya berbasis narasi emosional, tetapi juga bukti yang sahih.
- Seni digunakan untuk menyampaikan pesan secara kreatif. Lewat lukisan, musik, mural, hingga desain visual, pesan ekologis bisa menembus lapisan masyarakat yang lebih luas.
- Advokasi diarahkan pada pembuat kebijakan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Koalisi ingin agar lanskap Mahakam mendapatkan pengakuan kelembagaan sebagai kawasan penting yang harus dilindungi.
Adjie Valeria, aktivis lingkungan perempuan, menekankan bahwa sungai harus dipandang sebagai bentangan utuh dari hulu hingga hilir. “Jika di hulu rusak, dampaknya pasti dirasakan di hilir. Banjir di Samarinda bukan sekadar fenomena cuaca, tapi akibat deforestasi di atas,” jelasnya.
Ancaman Nyata dari Industri Ekstraktif
Kerusakan ekologis di Mahakam bukan lagi
bayangan, tetapi kenyataan sehari-hari. Data WALHI Kalimantan Timur menunjukkan
bahwa lebih dari 3,4 juta hektar lahan di wilayah aliran Sungai Mahakam telah
dikuasai izin tambang, perkebunan, dan konsesi industri. Angka itu setara
dengan hampir separuh luas lanskap.
Tambang batubara meninggalkan lubang-lubang raksasa yang menganga. Banyak di antaranya tidak direklamasi, sehingga berubah menjadi danau beracun yang membahayakan warga sekitar.
Di hilir, perkebunan sawit menekan
lahan-lahan masyarakat. Konflik agraria muncul, ketika tanah adat diubah
menjadi areal konsesi. Sementara di sungai, limbah industri menambah beban
pencemaran, membuat kualitas air menurun drastis.
Masalah banjir besar di Samarinda yang
berulang hampir setiap tahun adalah contoh nyata bagaimana kerusakan ekologi
berdampak langsung pada masyarakat.
Keadilan Ekologis
Aura Mahakam menekankan prinsip keadilan
ekologis—bahwa kerusakan alam selalu berdampak pada manusia, terutama kelompok
rentan seperti masyarakat adat, nelayan sungai, dan perempuan desa.
Keadilan ekologis berarti memperlakukan
alam bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai ruang hidup bersama. Hak
masyarakat adat untuk mengelola hutan dan sungai harus diakui. Hak generasi
muda untuk mendapatkan lingkungan yang sehat harus dijamin.
Dengan pendekatan ini, perjuangan
lingkungan tidak lagi dianggap sebagai isu “alam semata”, tetapi juga isu
sosial, ekonomi, dan kemanusiaan.
Deklarasi Aura Mahakam menjadi momentum
penting. Ia menunjukkan bahwa Kalimantan tidak tinggal diam di tengah ancaman
ekologis. Gerakan ini menjadi inspirasi bahwa perjuangan lingkungan bisa
dibangun dari kesadaran lokal, lalu menggema ke tingkat nasional.
Koalisi Lanskap Mahakam berharap pemerintah
daerah dan pusat lebih serius melindungi kawasan ini. Kebijakan tata ruang
harus berpihak pada kelestarian, bukan hanya kepentingan investasi jangka
pendek. Selain itu, masyarakat diundang untuk ikut serta dalam kampanye, baik
melalui aksi nyata di lapangan maupun dukungan moral di ruang publik.
“Aura Mahakam adalah rumah bersama. Siapa
pun boleh masuk, siapa pun boleh terlibat. Karena sungai ini bukan milik satu
kelompok, tapi milik semua,” ungkap Ahmad Saini.
Sungai Mahakam sudah mengalir ribuan tahun,
menjadi saksi lahir dan tumbuhnya peradaban Kalimantan. Namun di abad modern
ini, ia menghadapi ancaman paling serius. Deklarasi Aura Mahakam menjadi alarm
sekaligus harapan—alarm agar kita sadar akan bahaya kerusakan, dan harapan
bahwa perjuangan kolektif masih mungkin menyelamatkan bentang kehidupan ini.
Dengan melibatkan riset, seni, advokasi,
serta keterlibatan generasi muda, Aura Mahakam diharapkan bukan hanya menjadi
simbol, tetapi juga gerakan nyata. Dari hulu hingga hilir, dari masyarakat adat
hingga kota besar, satu pesan dikumandangkan: keadilan ekologis adalah hak
semua makhluk. Dan dari tepian Sungai Mahakam, gema perjuangan itu kini
menyebar, menjadi bagian dari perjuangan besar menjaga bumi Indonesia.







