Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

"Pembangunan IKN di Era Prabowo: Antara Target Molor, Anggaran Seret, dan Isu Sosial yang Membayangi"

 

Pembangunan sarana dan prasarana khusus kawasan eksekutif, legislatif, dan yudikatif di Ibu Kota Nusantara (IKN) terus berlanjut meskipun arah kebijakan pemerintah pusat di bawah Presiden Prabowo Subianto berbeda dengan era pemerintahan sebelumnya. Berbeda dari masa Presiden Joko Widodo yang menjadikan proyek ini sebagai salah satu prioritas nasional, Prabowo di awal kepemimpinannya sempat memotong anggaran pembangunan IKN dan memundurkan target pemindahan ibu kota hingga kisaran tahun 2028 atau 2029. Bahkan, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo pada Februari 2025 pernah menyatakan bahwa kementeriannya tidak mendapatkan pagu anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan IKN, sebelum kemudian mengoreksi pernyataannya di kemudian hari. Namun, setelah Maret 2025, rencana pemangkasan anggaran itu dibatalkan setelah Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, intens melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk mengamankan dana bagi proyek besar yang menyedot anggaran negara ini. Meskipun demikian, pembangunan IKN hingga awal Agustus 2025 masih belum menunjukkan progres memuaskan, di mana setelah menyerap lebih dari Rp 80 triliun dana negara, proyek ini masih berada di tahap II sementara tahap I sendiri belum rampung. Gedung-gedung ikonik yang masuk dalam tahap I seperti Istana Wakil Presiden, Masjid Negara, dan menara aparatur sipil negara (ASN) belum ada satu pun yang selesai dibangun. Anehnya, di tengah ketidakselesaian tahap pertama, pemerintah memutuskan untuk melanjutkan tahap II yang mencakup pembangunan kantor badan legislatif dan yudikatif. Menurut Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti, pembangunan kompleks legislatif dan yudikatif ini merupakan permintaan langsung dari Presiden Prabowo, sebagai prasyarat dikeluarkannya keputusan presiden terkait pemindahan ibu kota. Diana menegaskan bahwa bila ketiga unsur pemerintahan, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif sudah berdiri di IKN, maka keputusan resmi pemindahan akan segera diterbitkan. Sementara itu, Otorita IKN dihadapkan pada tantangan besar untuk mencari investor guna menutup kekurangan pembiayaan, mengingat target pembangunan IKN membutuhkan dana lebih dari Rp 400 triliun, sementara dukungan anggaran negara semakin terbatas. Kesulitan ini membuat pihak pengelola harus bekerja ekstra keras agar proyek yang awalnya diusung sebagai simbol kemajuan dan pemerataan pembangunan ini tidak mangkrak di tengah jalan. Namun, permasalahan IKN tidak hanya berhenti pada lambannya pembangunan fisik, karena isu sosial pun mulai bermunculan seiring pemindahan sebagian ASN ke kawasan tersebut. Lebih dari 1.000 ASN telah ditempatkan di IKN, namun keputusan ini ternyata diiringi fenomena lain yang cukup memprihatinkan: maraknya praktik prostitusi di kawasan calon ibu kota baru. Diana Kusumastuti mengakui bahwa fenomena ini memang umum terjadi di wilayah yang menerima gelombang pekerja dari luar daerah, apalagi jika mereka tinggal jauh dari keluarga. Ia mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan langkah penjagaan dan kini berupaya melakukan antisipasi, meskipun tidak dijelaskan secara rinci bentuk langkah tersebut. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa IKN kini menjadi salah satu tujuan pekerja seks komersial karena tingginya tarif yang bisa diperoleh di kawasan ini. Sari, bukan nama sebenarnya, seorang pekerja seks berusia 25 tahun, mengungkapkan bahwa pada tahun lalu, saat antusiasme pembangunan IKN berada di puncaknya, ia mampu meraup pendapatan hingga Rp 20 juta per bulan. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pejabat pengelola, termasuk Basuki Hadimuljono, yang menilai isu prostitusi sengaja digoreng untuk menurunkan citra IKN. Basuki kemudian meminta dilakukan pengetatan terhadap aktivitas bisnis lokal dan hotel, agar tidak memfasilitasi praktik yang dapat mencoreng nama baik kawasan. Namun, kebijakan pengetatan ini memunculkan protes dari kalangan pengusaha perhotelan dan pemilik usaha yang khawatir akan kehilangan banyak pelanggan akibat pembatasan tersebut. Pembangunan IKN yang direncanakan menjadi ikon modernisasi Indonesia kini dihadapkan pada realitas pelik: di satu sisi dikejar target penyelesaian infrastruktur inti yang menjadi syarat pemindahan ibu kota, sementara di sisi lain harus menghadapi masalah sosial yang tak terduga. Proyek ini juga diwarnai tarik ulur kebijakan anggaran, pencarian dana dari investor, serta kebutuhan untuk menjaga citra di tengah kritik publik. Banyak kalangan menilai bahwa keberlanjutan proyek IKN sangat bergantung pada konsistensi kebijakan pemerintah pusat, keberhasilan menarik investasi swasta, dan kemampuan menangani isu sosial secara bijak. Jika langkah-langkah tersebut tidak dijalankan dengan baik, dikhawatirkan proyek ini akan menjadi simbol kegagalan manajemen pembangunan berskala besar di Indonesia. Di tengah semua dinamika ini, pemerintah dituntut untuk tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pengelolaan kehidupan sosial di kawasan IKN agar cita-cita menjadikannya sebagai pusat pemerintahan yang modern, tertib, dan bermartabat dapat benar-benar terwujud.

Also Read
Tag:
Latest News
  • "Pembangunan IKN di Era Prabowo: Antara Target Molor, Anggaran Seret, dan Isu Sosial yang Membayangi"
  • "Pembangunan IKN di Era Prabowo: Antara Target Molor, Anggaran Seret, dan Isu Sosial yang Membayangi"
  • "Pembangunan IKN di Era Prabowo: Antara Target Molor, Anggaran Seret, dan Isu Sosial yang Membayangi"
  • "Pembangunan IKN di Era Prabowo: Antara Target Molor, Anggaran Seret, dan Isu Sosial yang Membayangi"
  • "Pembangunan IKN di Era Prabowo: Antara Target Molor, Anggaran Seret, dan Isu Sosial yang Membayangi"
  • "Pembangunan IKN di Era Prabowo: Antara Target Molor, Anggaran Seret, dan Isu Sosial yang Membayangi"
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad