Balikpapan - Dampak musibah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang melanda sebagian wilayah Pulau Kalimantan masih menyisakan persoalan serius bagi sektor transportasi udara. Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan secara resmi mencatat sebanyak 180 penerbangan mengalami berbagai gangguan operasional akibat pekatnya kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan. Gangguan masif tersebut tercatat terjadi dalam rentang waktu sepekan, yakni mulai dari tanggal 28 September hingga 4 Oktober 2026.
Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan, Ferdinan Nurdin, dalam keterangan resminya menjelaskan bahwa secara keseluruhan tren gangguan penerbangan ini menunjukkan adanya penurunan jika dibandingkan dengan catatan periode sebelumnya. Meskipun demikian, angka ratusan penerbangan yang terganggu tetap menandakan bahwa kondisi cuaca akibat pembakaran lahan masih memerlukan perhatian ekstra dari berbagai pihak terkait, baik dari instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun kesadaran masyarakat luas dalam mencegah api membakar lahan gambut.
Berdasarkan data rinci yang dihimpun oleh pihak otoritas bandara, dari total 180 penerbangan yang terdampak tersebut, sebanyak 63 jadwal penerbangan mengalami keterlambatan atau yang lazim disebut sebagai *delayed*. Selain itu, situasi menjadi lebih rumit bagi para penumpang karena terdapat pula 117 penerbangan yang terpaksa harus menghadapi pembatalan atau penundaan jadwal dalam jangka waktu yang belum ditentukan atau *cancelled* maupun *postponed*.
Ferdinan merinci lebih lanjut bahwa angka pembatalan dan penundaan penerbangan sebenarnya telah mengalami koreksi penurunan yang cukup signifikan jika dikomparasikan dengan periode sepekan sebelumnya yang mencatat 240 penerbangan batal. Penurunan tersebut menyentuh angka sekitar 51,3 persen. Sementara itu, untuk kategori penerbangan yang dialihkan atau *diverted*, pihak otoritas bandara mencatat angka yang menggembirakan karena berhasil turun drastis dari yang sebelumnya sempat mencatatkan satu penerbangan kini menjadi nihil.
Secara kewilayahan, wilayah Provinsi Kalimantan Tengah masih menduduki posisi teratas sebagai daerah yang paling parah menyumbang angka penerbangan terdampak akibat kabut asap karhutla. Tercatat ada sekitar 125 penerbangan di wilayah ini yang terganggu aktivitasnya. Jumlah tersebut terdiri atas 38 penerbangan yang mengalami keterlambatan serta 87 penerbangan yang harus dibatalkan atau ditunda keberangkatannya demi alasan keselamatan penerbangan di tengah jarak pandang yang terbatas.
Meskipun masih menjadi penyumbang terbesar dengan persentase mencapai sekitar 69,4 persen dari total keseluruhan penerbangan terdampak se-Kalimantan pada periode tersebut, wilayah Kalimantan Tengah sejatinya menunjukkan perbaikan kondisi. Angka 125 penerbangan terdampak ini mengalami penurunan yang cukup berarti jika dibandingkan dengan catatan periode 21 hingga 27 September 2026 yang sempat menyentuh angka 225 penerbangan atau turun sekitar 44,4 persen.
Bergeser ke wilayah Provinsi Kalimantan Timur, catatan otoritas bandara menunjukkan adanya dinamika yang sedikit berbeda. Di wilayah yang juga menjadi penyangga utama Ibu Kota Nusantara ini, tercatat ada 47 penerbangan yang terdampak oleh tebalnya asap karhutla. Dari jumlah tersebut, sebanyak 19 penerbangan mengalami keterlambatan jadwal, sementara 28 penerbangan lainnya harus menghadapi kenyataan pahit berupa pembatalan atau penundaan jadwal terbang.
Berbeda dengan tren penurunan yang terjadi di sebagian besar wilayah tetangga, angka penerbangan terdampak di Kalimantan Timur justru menunjukkan sedikit peningkatan. Jumlah 47 penerbangan pada periode akhir September hingga awal Oktober ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan catatan periode sebelumnya yang hanya mencatat 41 penerbangan terdampak, atau mengalami peningkatan sekitar 14,6 persen yang mengindikasikan bahwa titik panas di wilayah ini masih cukup aktif memproduksi asap.
Sementara itu, situasi yang jauh lebih membaik terlihat jelas di wilayah Provinsi Kalimantan Utara. Berdasarkan laporan resmi Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan, tercatat hanya ada delapan penerbangan saja yang terdampak oleh gangguan asap karhutla selama sepekan tersebut. Dari total delapan penerbangan itu, sebanyak enam di antaranya mengalami keterlambatan waktu keberangkatan, dan hanya dua penerbangan yang harus mengalami pembatalan atau penundaan.
Capaian di Kalimantan Utara ini dinilai sangat positif karena memperlihatkan reduksi gangguan yang sangat tajam. Wilayah ini mengalami penurunan jumlah penerbangan terdampak dari yang sebelumnya mencapai 38 penerbangan kini menyusut menjadi delapan penerbangan saja, atau mencatatkan persentase penurunan yang sangat drastis hingga menyentuh angka 78,9 persen.
Pihak berwenang terus mengimbau maskapai penerbangan dan pengelola bandara di seluruh wilayah Kalimantan untuk senantiasa memantau perkembangan cuaca serta informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Langkah antisipasi ini dinilai sangat krusial guna menghindari risiko kecelakaan akibat jarak pandang horizontal yang sering kali memburuk secara tiba-tiba akibat sebaran asap sisa karhutla, sekaligus untuk memberikan kepastian hukum dan kenyamanan bagi para pengguna jasa transportasi udara di Pulau Borneo.






