Sampit - Penyaluran bahan pangan pokok di berbagai wilayah Kalimantan saat ini menghadapi tantangan berat akibat bencana kabut asap yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan. Meski ruang gerak dan jarak pandang di lapangan sangat terbatas, Perum Bulog menegaskan komitmennya untuk memastikan rantai distribusi beras kepada masyarakat tidak terputus. Langkah antisipasi dan penyesuaian operasional terus dilakukan di lapangan guna menjamin ketersediaan pangan tetap terjaga dengan baik, terutama di daerah-daerah yang terdampak paling parah oleh kepulan asap yang menyelimuti kawasan pemukiman dan jalur transportasi darat.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan bahwa jajarannya di tingkat regional terus bersiaga penuh dalam mengawal penyaluran beras. Walaupun kondisi udara di beberapa titik di Kalimantan menunjukkan penurunan kualitas yang signifikan, pelayanan distribusi pangan tetap berjalan. Bulog menerapkan skema operasional yang fleksibel dengan memprioritaskan keselamatan para petugas di lapangan tanpa mengurangi volume pasokan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Penyesuaian ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai imbauan resmi dari pemerintah daerah maupun otoritas keselamatan kerja setempat demi menjaga keselamatan seluruh kru logistik.
Kondisi di lapangan memang sangat dinamis, di mana beberapa wilayah seperti Sampit di Kalimantan Tengah sempat mengalami penghentian sementara aktivitas distribusi pangan. Keputusan menghentikan pelayanan untuk sementara waktu tersebut terpaksa diambil karena jarak pandang di jalan raya merosot tajam akibat pekatnya kabut asap. Situasi ini dinilai sangat membahayakan bagi armada angkutan logistik yang membawa muatan berat beras. Namun, penundaan ini hanya bersifat sementara dan situasional. Ketika jarak pandang mulai membaik dan dinilai aman oleh petugas keselamatan, armada distribusi Bulog segera bergerak kembali menuju titik-titik penyaluran yang telah ditentukan sebelumnya.
Guna meminimalkan dampak buruk dari bencana asap ini terhadap ketahanan pangan daerah, Bulog secara intensif membangun komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur. Langkah proaktif ini dilakukan untuk memetakan kebutuhan riil masyarakat secara presisi di tengah situasi darurat bencana kabut asap. Melalui koordinasi erat ini, pemerintah daerah dapat segera mengajukan permintaan bantuan cadangan pangan pemerintah untuk disalurkan kepada warga yang paling terdampak, khususnya kelompok rentan yang aktivitas ekonominya terganggu akibat bencana lingkungan ini.
Pemerintah daerah diimbau tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan pasokan beras di gudang-gudang penyimpanan lokal. Bulog menegaskan bahwa stok cadangan beras pemerintah yang dikelola secara nasional berada dalam kondisi yang sangat aman dan mencukupi. Hingga awal September 2026, total cadangan beras nasional tercatat mencapai angka 4,9 juta ton. Jumlah yang melimpah ini disiapkan bukan hanya untuk mengantisipasi dampak kebakaran hutan di Kalimantan, melainkan juga untuk merespons bencana alam lain di tanah air, seperti penanganan pascabencana gempa bumi yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur. Dengan cadangan yang kuat ini, Bulog memiliki ruang yang sangat luas untuk menyalurkan bantuan darurat kapan pun dibutuhkan oleh pemerintah daerah.
Aspek keamanan fasilitas penyimpanan juga menjadi perhatian utama di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Bulog memberikan jaminan bahwa seluruh komplek pergudangan miliknya di tanah Borneo berada dalam kondisi aman dari ancaman jilatan api. Posisi gudang-gudang penyimpanan beras tersebut dibangun di area strategis yang jauh dari kawasan hutan produksi maupun lahan gambut yang rawan terbakar. Selain mengamankan fisik bangunan dari bahaya kebakaran, petugas di lapangan juga secara rutin memeriksa kualitas udara di dalam gudang agar kualitas beras yang disimpan tetap terjaga prima dan terbebas dari bau asap yang menyengat.
Bencana kabut asap tahunan ini memang selalu memberikan tekanan besar pada sektor logistik transportasi di Kalimantan. Infrastruktur jalan raya yang menghubungkan antarkota kerap kali tertutup asap pekat, terutama pada pagi dan sore hari ketika suhu udara mendingin. Tantangan inilah yang memaksa tim logistik Bulog untuk terus memantau pembaruan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika secara berkala. Distribusi beras kini tidak lagi menggunakan jadwal kaku, melainkan mengikuti jendela waktu aman saat intensitas asap berkurang dan jarak pandang kembali normal. Kecepatan dan ketepatan adaptasi ini menjadi kunci keberhasilan menjaga stabilitas harga dan pasokan beras di pasar tradisional maupun ritel modern.
Komitmen kuat dari Bulog ini diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi masyarakat Kalimantan yang saat ini sedang berjuang menghadapi dampak buruk kabut asap terhadap kesehatan dan perekonomian mereka. Dengan jaminan pasokan beras yang terus mengalir, potensi terjadinya gejolak harga pangan akibat kelangkaan barang dapat ditekan sekecil mungkin. Bulog berjanji akan terus mendorong distribusi beras hingga menjangkau daerah pelosok dan titik-titik penyaluran terujung di Kalimantan, selama kondisi alam dan keselamatan kerja masih memungkinkan untuk dilakukan mobilitas demi ketahanan pangan bangsa.






