Samarinda - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pariwisata terus berupaya memperkuat daya tarik sektor kebudayaan dan kepariwisataan daerah dengan merancang pagelaran berskala besar. Salah satu terobosan yang tengah dipersiapkan adalah pelaksanaan agenda akbar Pawai 1.001 Topeng Nusantara yang ditargetkan berlangsung pada tahun 2027 mendatang. Sebagai langkah persiapan awal untuk memperkenalkan konsep parade tersebut kepada masyarakat luas, sebuah ajang bertajuk Mahakam Mask Carnival dijadwalkan bergulir lebih dulu di Kota Samarinda pada 27 September 2026 bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pariwisata Sedunia.
Penyelenggaraan Mahakam Mask Carnival ini dirancang untuk melibatkan setidaknya dua ribu orang peserta dari berbagai unsur masyarakat, pegiat seni pertunjukan, pelajar, hingga perwakilan instansi pemerintahan daerah. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur Muhammad Faisal menjelaskan bahwa ajang tersebut berfungsi sebagai wahana uji coba dan sarana sosialisasi agar publik terbiasa dengan konsep pertunjukan karnaval topeng di ruang terbuka. Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap dapat membangun antusiasme publik sekaligus mengevaluasi kesiapan teknis penyelenggaraan parade jalanan sebelum mengembangkan skalanya menjadi agenda berskala nasional pada tahun berikutnya.
Faisal menuturkan bahwa gagasan awal penyelenggaraan kegiatan ini sebenarnya muncul untuk mengisi jeda agenda kemasyarakatan di ibu kota provinsi. Pada masa perencanaan awal, kegiatan sempat ditargetkan untuk berlangsung pada bulan Agustus. Namun, agenda tersebut akhirnya diputuskan untuk digeser ke akhir September. Pergeseran waktu pelaksanaan dilakukan setelah mempertimbangkan banyaknya rangkaian pawai perayaan kemerdekaan yang telah digelar secara padat oleh jajaran Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kota Samarinda, maupun inisiatif kelompok warga sepanjang bulan Agustus. Penyesuaian jadwal ini bertujuan menjaga efektivitas perhatian masyarakat agar mereka dapat menikmati karnaval budaya ini secara maksimal tanpa kejenuhan agenda perayaan.
Target jangka panjang dari inisiatif ini bermuara pada realisasi Pawai 1.001 Topeng Nusantara yang direncanakan pada tahun 2027. Faisal menegaskan bahwa agenda besar tersebut tidak hanya akan menonjolkan warisan seni topeng khas Kalimantan Timur semata, melainkan dirancang menjadi wadah pertemuan seni rupa dan tari topeng dari berbagai penjuru Nusantara. Pihak dinas pariwisata berencana merangkul seniman, sanggar tari, serta komunitas pelestari budaya tradisional dari sejumlah provinsi di Indonesia. Apabila terdapat keterbatasan ruang bagi kontingen luar daerah untuk hadir secara langsung, pemerintah daerah siap mengoptimalkan potensi paguyuban dan komunitas masyarakat rantau yang selama ini hidup berdampingan secara harmonis di wilayah Kalimantan Timur.
Konsep menyatukan ragam ekspresi topeng ini berpijak pada kesadaran mendalam bahwa setiap wilayah di tanah air memiliki filosofi, karakter bentuk, serta tradisi pertunjukan topeng yang sangat kaya dan memiliki keunikan tersendiri. Kesenian topeng di pulau Jawa, misalnya, memancarkan kehalusan gerak dan karakter cerita panji yang berbeda dengan ekspresi topeng masyarakat Sunda di Jawa Barat, pakem tradisi topeng di Yogyakarta, maupun kesakralan topeng dalam seni pertunjukan masyarakat Bali. Melalui wadah pawai ini, masyarakat di Kalimantan Timur dan para pelancong diharapkan dapat memahami keberagaman ekspresi seni Nusantara secara langsung di satu lokasi pertunjukan.
Kalimantan Timur sendiri memiliki kekayaan tradisi topeng yang sarat akan makna filosofis dan historis. Salah satu seni topeng yang tersohor di provinsi ini adalah Tari Topeng Kutai yang berakar dari lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Tarian klasik tersebut kerap dibawakan dalam upacara adat sakral maupun pertunjukan seni istana dengan menampilkan karakter tertentu yang mencerminkan sifat-sifat manusia. Selain itu, masyarakat adat Dayak di pedalaman Kalimantan Timur juga memiliki tradisi Tari Hudoq yang menggunakan topeng berukuran besar menyerupai satwa atau makhluk mitologis. Ritual Hudoq dijalankan sebagai bentuk permohonan kepada kekuatan alam agar melimpahkan kesuburan pada musim tanam serta menjauhkan hama dari ladang pertanian warga.
Kehadiran ragam tradisi lokal tersebut memberikan landasan yang kuat bagi Kalimantan Timur untuk memosisikan diri sebagai panggung pertemuan budaya nasional. Letak geografis kawasan Sungai Mahakam yang melintasi pusat perkotaan Samarinda turut memberikan latar alami yang menarik bagi kegiatan karnaval luar ruang. Kawasan tepian sungai yang terus dibenahi oleh pemerintah daerah kini menjadi ruang publik yang ramai dimanfaatkan masyarakat untuk berinteraksi dan menikmati pemandangan kota.
Penyelenggaraan kegiatan budaya berskala nasional di Kalimantan Timur juga memiliki relevansi strategis seiring dengan proses pembangunan Ibu Kota Nusantara. Wilayah ini secara perlahan menarik kedatangan banyak pendatang dari berbagai latar belakang suku bangsa dan profesi. Kehadiran ruang pertemuan kebudayaan melalui acara karnaval diyakini dapat memperkuat rasa kebersamaan sekaligus memperkaya tawaran wisata perkotaan di daerah penyangga ibu kota negara baru.
Dinas Pariwisata Kalimantan Timur meyakini bahwa pengembangan kegiatan pariwisata berbasis tradisi akan membawa dampak positif terhadap geliat ekonomi kreatif di Samarinda dan sekitarnya. Keterlibatan para perajin kriya lokal, desainer tata busana karnaval, hingga pelaku usaha mikro yang bergerak di sektor kuliner diharapkan ikut terangkat melalui agenda ini. Apabila Mahakam Mask Carnival yang digelar pada September 2026 berlangsung tertib dan meraih sambutan hangat dari publik, langkah persiapan menuju Pawai 1.001 Topeng Nusantara pada 2027 akan semakin mantap untuk dijadikan agenda wisata unggulan tahunan di Kalimantan Timur.






