Ketapang - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti wilayah Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Udara yang tidak sehat ini tidak hanya membatasi ruang gerak warga di luar rumah, tetapi juga mulai melumpuhkan sektor pendidikan serta mengancam kesehatan generasi muda dan para pendidik. Kondisi udara yang kian memburuk memaksa sejumlah sekolah mengambil langkah darurat demi melindungi para siswa dari paparan partikel debu sisa pembakaran yang berbahaya bagi sistem pernapasan.
Salah satu sekolah yang terdampak langsung adalah SMK Negeri 2 Ketapang. Wahdah, seorang guru bahasa Indonesia di sekolah tersebut, mengungkapkan bahwa pihak sekolah terpaksa menerapkan kembali sistem belajar dari rumah setelah sebelumnya sempat mencoba bertahan dengan pembelajaran tatap muka secara terbatas. Keputusan untuk mengembalikan siswa ke metode pembelajaran daring diambil karena ketebalan kabut asap pada pagi hari dinilai sudah berada pada tingkat yang sangat membahayakan keselamatan fisik anak-anak. Kebijakan ini sangat dinamis dan sangat bergantung pada kondisi kualitas udara harian yang fluktuatif di wilayah Ketapang.
Meskipun para siswa dapat meminimalkan paparan asap dengan tetap tinggal di dalam rumah, situasi berbeda dihadapi oleh para tenaga pendidik. Guru-guru di sekolah tersebut tetap diwajibkan untuk datang ke kantor guna mempersiapkan materi serta memberikan tugas secara daring kepada para siswa. Kewajiban ini memaksa para guru untuk menembus kabut asap tebal setiap pagi dengan menggunakan sepeda motor. Wahdah menuturkan bagaimana perjalanan menuju sekolah kerap menjadi siksaan fisik tersendiri karena mata yang perih akibat asap tebal serta dada yang terasa sesak akibat menghirup udara berbau hangus sepanjang jalan.
Titik api yang memicu kabut asap ini dilaporkan masih aktif di beberapa wilayah strategis di Ketapang. Kebakaran hebat melanda kawasan hutan kota yang terletak di Jalan Lingkar Kota Ketapang atau dikenal sebagai Hutan Kota Teluk Akar Bergantung. Kebakaran di kawasan ini menimbulkan kekhawatiran ekologis yang mendalam karena wilayah tersebut merupakan habitat penangkaran satwa liar yang dilindungi, termasuk owa kalawat atau kelempiau yang kini terancam kehilangan tempat tinggal akibat amukan api. Selain itu, sebaran titik api juga dilaporkan masih aktif di wilayah Pelang, Sungai Awan, serta Sungai Putri, yang selama ini memang dikenal sebagai daerah rawan kebakaran karena memiliki hamparan lahan gambut yang cukup luas.
Dampak kebakaran lahan gambut ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Asap pekat dan partikel abu halus dilaporkan telah menyusup ke dalam area permukiman dan rumah-rumah warga. Wahdah menceritakan bagaimana abu pembakaran berwarna hitam keabu-abuan dengan mudah mengotori perabotan rumah tangga, bahkan hingga ke ruang dapur dan ruang makan jika peralatan makan tidak ditutup dengan rapat. Pakaian yang dijemur di luar rumah pun tidak luput dari aroma sangit yang menyengat, yang membuat warga harus ekstra waspada dalam menjaga kebersihan lingkungan domestik mereka demi menghindari penyakit saluran pernapasan akut.
Di tengah situasi krisis ini, penanganan kesehatan bagi sektor pendidikan dirasa masih sangat minim. Hingga saat ini, belum ada bantuan masker standar maupun suplemen vitamin yang disalurkan oleh pemerintah daerah atau instansi terkait ke sekolah-sekolah yang terdampak langsung. Kondisi ini mendorong inisiatif mandiri dari pihak sekolah, di mana tim kesiswaan SMKN 2 Ketapang harus berupaya membagikan masker seadanya kepada para guru dan siswa yang masih beraktivitas. Inisiatif tersebut sangat mendesak mengingat laporan mengenai siswa yang mulai mengeluhkan batuk, sesak napas, dan mata perih terus berdatangan seiring kian pekatnya kabut asap yang menyelimuti kota.
Secara ekologis, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat memang selalu menjadi tantangan tahunan yang rumit, terutama karena sebagian besar wilayah yang terbakar merupakan lahan gambut dalam. Karakteristik lahan gambut yang menyimpan bahan organik kering di bawah permukaan tanah membuat api sangat sulit untuk dipadamkan sepenuhnya meskipun permukaan atasnya terlihat sudah padam. Bara api di dalam tanah gambut dapat bertahan berminggu-minggu dan terus memproduksi asap tebal berwarna putih kecokelatan yang kaya akan kandungan karbon monoksida dan partikulat halus PM2.5 yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika terhirup dalam jangka panjang.
Kondisi ini menegaskan pentingnya mitigasi bencana yang lebih komprehensif dan sistematis dari pihak berwenang, bukan sekadar respons reaktif seperti memindahkan proses belajar ke rumah. Diperlukan koordinasi yang lebih erat antara dinas kesehatan, dinas pendidikan, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah dalam menyalurkan bantuan logistik kesehatan dasar secara cepat ke wilayah-wilayah terdampak. Tanpa adanya langkah penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakar lahan serta upaya restorasi gambut yang konsisten, masyarakat Ketapang akan terus dipaksa menghirup kabut asap beracun yang mengancam masa depan generasi penerus mereka setiap kali musim kemarau tiba.






