Palangkaraya - Peristiwa bersejarah yang terjadi di langit Kalimantan pada 17 Oktober 1947 kini kembali mendapatkan perhatian publik. Pada tanggal tersebut, sebuah pesawat Dakota melintas di atas wilayah Kalimantan yang kala itu masih berada di bawah cengkeraman pendudukan militer Belanda. Sebanyak 13 pemuda tangguh bersiap melakukan aksi heroik dengan menerjunkan diri ke belantara Borneo. Mereka bukan sekadar prajurit biasa, melainkan pembawa misi besar untuk membuka jalur komunikasi, menyebarkan semangat kemerdekaan, dan mengorganisasi perlawanan rakyat setempat terhadap penjajah.
Peristiwa ini tercatat dalam sejarah militer Indonesia sebagai operasi lintas udara pertama yang dilakukan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Pesawat yang digunakan adalah Dakota RI-002 yang dipiloti oleh seorang sukarelawan asal Amerika Serikat, Bob Freeberg. Misi penembusan barikade udara Belanda ini diinisiasi atas permintaan Gubernur Kalimantan saat itu, Pangeran Muhammad Noor, yang bekerja sama dengan komando AURI di Yogyakarta. Sebanyak 13 pemuda pilihan dikirim untuk mendirikan stasiun radio pemancar guna menembus isolasi informasi yang dilakukan Belanda terhadap Kalimantan.
Meskipun memiliki nilai sejarah yang sangat krusial bagi kedaulatan Republik Indonesia, kisah perjuangan ini sempat meredup dan hanya tersimpan dalam tumpukan arsip negara, memori kolektif keluarga pelaku sejarah, serta catatan terbatas para sejarawan lokal. Namun, ingatan kolektif tersebut kini coba dihidupkan kembali melalui peluncuran sebuah buku sejarah baru yang berjudul "Perjuangan Pemuda Dayak AURI: Kami Datang untuk Kalimantan". Buku ini menjadi salah satu upaya penting untuk menyelamatkan sejarah lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
Buku dokumenter sejarah tersebut diluncurkan secara resmi bertepatan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah upacara peringatan kemerdekaan selesai digelar di Aula Jayang Tingang, buku tersebut diserahkan langsung kepada Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, pada hari Minggu, 23 Agustus 2026. Kehadiran literatur ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan pengetahuan sejarah antargenerasi, khususnya di kalangan masyarakat Kalimantan.
Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Iskandar, Letnan Kolonel Penerbang Nugroho Tri Widyanto, menegaskan bahwa buku ini memiliki nilai lebih dari sekadar rekaman peristiwa masa lalu. Menurutnya, ada tanggung jawab moral yang besar untuk mengembalikan hak sejarah ini kepada generasi muda Indonesia. Nugroho mengungkapkan keprihatinannya mengenai minimnya pemahaman generasi muda saat ini terhadap peristiwa heroik yang melibatkan 13 penerjun tersebut, padahal aksi mereka menjadi tonggak lahirnya pasukan payung pertama di tanah air.
Proses penulisan dan penelusuran sejarah dalam buku ini sebenarnya bermula dari sebuah peristiwa yang cukup personal bagi salah satu keluarga pelaku sejarah. Pada bulan Juli 2025, pihak keluarga dari salah satu penerjun, yaitu Letnan Muda Udara II Cornelius Willems, mendatangi Pangkalan Bun. Mereka melaporkan kondisi makam sang pejuang yang terletak di wilayah Kapuas sering kali terendam banjir akibat luapan air sungai. Dari laporan tersebut, pihak Lanud Iskandar dan jajaran terkait segera mengambil tindakan penyelamatan makam.
Langkah pemindahan makam tersebut kemudian mendorong proses penelusuran sejarah yang lebih mendalam. Petugas mulai membuka kembali arsip-arsip lama dan meneliti dokumen militer guna memverifikasi status kepahlawanan Cornelius Willems. Melalui dokumen sejarah resmi dan piagam penghargaan yang disimpan oleh pihak keluarga, terungkap dengan jelas bahwa Cornelius merupakan bagian integral dari tim 13 penerjun dalam operasi lintas udara pertama AURI pada tahun 1947 tersebut.
Atas dasar bukti sejarah yang sangat kuat dan piagam penghargaan kenegaraan yang dimilikinya, Cornelius dinilai sangat layak untuk mendapatkan penghormatan terakhir di tempat yang lebih representatif. Proses pembongkaran makam lamanya di Kapuas dilakukan pada tanggal 8 November 2025. Hanya berselang dua hari, tepat pada momentum Hari Pahlawan tanggal 10 November 2025, jasad Letnan Muda Udara II Cornelius Willems dimakamkan kembali dengan upacara militer penuh khidmat di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangkaraya.
Keberhasilan pemindahan makam Cornelius Willems memicu pertanyaan yang lebih luas di kalangan peneliti militer dan sejarawan daerah mengenai identitas serta nasib para penerjun lainnya. Penelusuran intensif pun dilakukan untuk mengidentifikasi seluruh anggota tim yang mendarat di belantara Kalimantan puluhan tahun silam. Upaya dokumentasi ini akhirnya berhasil merangkai kembali potongan-potongan sejarah yang sempat terabaikan, menjadikannya warisan literatur berharga yang kini dapat diakses oleh masyarakat luas melalui buku teranyar tersebut.
Sebagai catatan historis tambahan, operasi penerjunan pada tahun 1947 itu sejatinya menghadapi berbagai rintangan berat di lapangan. Setelah mendarat di daerah pedalaman Kapuas, para penerjun harus bertahan hidup di tengah hutan belantara, menghindari patroli militer Belanda yang ketat, sekaligus merangkul masyarakat Dayak setempat untuk bersama-sama mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Melalui buku ini, dedikasi serta integrasi perjuangan antara militer dan masyarakat lokal digambarkan secara berimbang demi memupuk rasa nasionalisme generasi penerus bangsa.






