Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Sorotan Tajam DPRD Samarinda atas Terbatasnya Koleksi Buku dan Ancaman Krisis Literasi Daerah

 

Ilustrasi AI

Samarinda - Tingkat literasi masyarakat yang masih rendah di wilayah ibu kota Provinsi Kalimantan Timur belakangan ini terus mengundang perhatian serius dan keprihatinan dari berbagai kalangan pemangku kebijakan. Persoalan krusial yang berdampak panjang ini dinilai tidak bisa serta-merta hanya dibebankan pada instansi pendidikan formal maupun Dinas Perpustakaan dan Kearsipan setempat semata. Minimnya koleksi bahan bacaan berkualitas yang tersedia untuk publik serta terbatasnya jumlah sumber daya manusia di sektor kepustakaan menjadi sebuah benang kusut yang harus segera diurai oleh pemerintah daerah secara kolaboratif. Jika terus dibiarkan berlarut tanpa penanganan strategis persoalan klasik ini berpotensi menghambat pembangunan budaya membaca yang sangat esensial bagi daya saing generasi penerus bangsa.

Menanggapi situasi tersebut Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Samarinda Sri Puji Astuti melontarkan kritik konstruktif terkait kelayakan fasilitas perpustakaan yang dikelola jajaran pemerintah kota. Dalam amatan langsungnya ia menyoroti fakta empiris bahwa sarana yang ada saat ini masih tergolong sangat tertinggal apabila disandingkan dengan kelengkapan perpustakaan berskala provinsi apalagi tingkat nasional. Kesenjangan kualitas pelayanan ini kentara terlihat dari minimnya kuantitas koleksi cetak dan kurangnya variasi judul buku literatur yang ditawarkan kepada para pemustaka harian. Padahal keberagaman dan pembaruan bahan bacaan secara berkala merupakan daya tarik sekaligus magnet utama untuk memikat minat masyarakat luas agar bersedia menjadikan perpustakaan sebagai wadah rekreasi edukatif.

Berangkat dari keresahan itu politikus Partai Demokrat ini menekankan bahwa upaya sistematis mendongkrak minat baca warga tidak seharusnya hanya berpusat pada satu institusi. Keberadaan lembaga pendidikan formal mulai tingkat dasar hingga menengah atas memegang peranan sangat fundamental untuk menanamkan kebiasaan dan kecintaan literasi sejak anak-anak baru memasuki usia dini. Di tengah tantangan kemajuan zaman setiap institusi pendidikan kini dituntut tegas tidak sekadar memiliki ruangan perpustakaan fisik demi menggugurkan kewajiban administratif tetapi wajib membenahi kualitas layanannya. Sebuah ruang baca ideal di lingkungan sekolah sudah sewajarnya menempati lokasi strategis memiliki sirkulasi udara baik serta harus dirancang sangat nyaman bagi seluruh kelompok siswa.

Dorongan kuat dari pihak legislatif agar sekolah-sekolah di wilayah kota segera memperoleh status kelayakan akreditasi perpustakaan terus digalakkan bersama dinas terkait. Kendati demikian realita menyedihkan yang kerap ditemukan memperlihatkan bahwa perkembangan fasilitas ruang perpustakaan representatif lebih didominasi oleh jenjang Sekolah Menengah Atas. Situasi ini berbanding terbalik dengan kondisi memprihatinkan yang terjadi pada sejumlah sekolah tingkat dasar dan menengah pertama yang masih terbelit belenggu kendala usang yang menghambat terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Beragam keluhan umum mulai dari luasan ruangan yang sempit minimnya anggaran hingga koleksi buku pelajaran yang sudah memudar dan tak lagi relevan dengan kurikulum baru seakan menjadi masalah klasik tak berkesudahan.

Problematika sarana fisik bangunan ini rupanya kian diperparah oleh ancaman nyata berupa krisis sumber daya manusia yang benar-benar ahli mumpuni di ranah disiplin ilmu kepustakaan. Fakta mencatat persentase ketersediaan tenaga fungsional pustakawan tersertifikasi di dalam lingkup pemerintahan kota saat ini tergolong sangat minim dan jauh tertinggal dari angka rasio pelayanan ideal. Sejatinya peranan seorang pengelola perpustakaan yang terdidik tidak hanya terikat pada rutinitas administratif menumpuk deretan buku melainkan bertindak aktif sebagai ujung tombak fasilitator. Kehadiran ahli pustaka dituntut mampu memandu jalannya diskusi meresensi karya tulis membimbing literasi informasi serta merangsang stimulasi pengunjung umum untuk menyelami ragam ilmu pengetahuan.

Merespons tekanan keterbatasan ruang fisik konvensional pihak eksekutif sebenarnya mencoba mengambil langkah taktis melalui peluncuran transformasi digital lewat aplikasi perpustakaan daring bernama iSamarinda. Mengandalkan konektivitas internet platform cerdas ini diharapkan ampuh menjembatani batasan jarak tempuh mobilitas warga dan memecahkan solusi minimnya angka buku cetak dengan menyuguhkan ribuan literatur elektronik secara cuma-cuma. Akan tetapi tingkat penetrasi teknologi modern ini terbukti belum menjangkau rasio penggunaan ideal karena lemahnya skema sosialisasi terarah untuk menyentuh pemahaman warga di pinggiran kota. Selain itu menyentuh lembaran fisik tetap menyajikan sensasi psikologis yang tak mungkin ditiru sempurna oleh pantulan layar digital. Perlu diingat pula kegiatan literasi bukan sekadar memahami teks tertulis melainkan kemampuan tajam mengamati lingkungan sosial sekitar.

Pada akhirnya sejauh apa pun infrastruktur fasilitas publik didirikan dan secanggih apa pun teknologi yang disajikan pertahanan paling utama dalam menjaga pijar minat baca selalu bersumber dari rumah. Pola asuh dan teladan orang tua memegang pengaruh terbesar untuk memantik kebiasaan positif serta melatih kemampuan berpikir kritis anak yang mengamati dunia di sekitarnya. Ironi peradaban modern acap kali berakar dari kelalaian sebagian orang tua yang asyik tenggelam menatap hiburan layar genggam tatkala anak sangat membutuhkan interaksi komunikasi yang hangat. Kebiasaan mengalokasikan waktu luang secara konsisten guna mendampingi anak mendongeng atau sekadar membaca bersama merupakan proses literasi paling hakiki. Kebiasaan ini akan melahirkan calon generasi cerdas nan tangguh yang siap menghadapi tantangan masa depan yang makin kompleks di mana dukungan penuh pada ranah domestik niscaya menjadi fondasi yang paling kokoh.

 

Also Read
Latest News
  • Sorotan Tajam DPRD Samarinda atas Terbatasnya Koleksi Buku dan Ancaman Krisis Literasi Daerah
  • Sorotan Tajam DPRD Samarinda atas Terbatasnya Koleksi Buku dan Ancaman Krisis Literasi Daerah
  • Sorotan Tajam DPRD Samarinda atas Terbatasnya Koleksi Buku dan Ancaman Krisis Literasi Daerah
  • Sorotan Tajam DPRD Samarinda atas Terbatasnya Koleksi Buku dan Ancaman Krisis Literasi Daerah
  • Sorotan Tajam DPRD Samarinda atas Terbatasnya Koleksi Buku dan Ancaman Krisis Literasi Daerah
  • Sorotan Tajam DPRD Samarinda atas Terbatasnya Koleksi Buku dan Ancaman Krisis Literasi Daerah
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad