![]() |
| Ilustrasi AI |
SAMARINDA — Mengobati warga yang bermukim di pedalaman Kalimantan Timur selalu berbenturan dengan satu kendala klasik: jarak. Waktu tempuh berjam-jam membelah sungai atau menembus jalan berlumpur kerap membuat penanganan kasus gawat darurat terlambat. Mengakali hambatan geografis yang tak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim kini bertumpu pada satu solusi rasional. Mereka memacu layanan telemedicine atau pengobatan jarak jauh.
Langkah taktis ini dikonfirmasi oleh Kepala Bidang Sumber
Daya Kesehatan Dinkes Kaltim, Ivan Hariyadi Hardjowidjojo. Ditemui di Samarinda
pada Selasa (7/4/2026), Ivan membeberkan realitas lapangan yang memaksa
pemerintah daerah mengambil jalan pintas digital.
"Kondisi geografis kita luas. Tantangannya transportasi
darat dan sungai," kata Ivan. "Telemedicine sangat membantu. Kami
bisa mempercepat akses penanganan pasien terutama di daerah terpencil."
Rekam Jantung Lintas Batas
Penerapan di lapangan bukan sekadar wacana. Praktiknya sudah
berjalan di Puskesmas Tabang, sebuah fasilitas kesehatan tingkat pertama di
ujung Kabupaten Kutai Kartanegara. Pada masa lalu, mendiagnosis pasien dengan
keluhan jantung di kawasan terisolasi ini layaknya berpacu dengan maut.
Fasilitas itu kini diperkuat alat medis berbasis daring.
Saat ada warga mengalami gejala kardiak, perawat langsung mengukur denyut
melalui elektrokardiogram (EKG). Hasil rekam jantung tak perlu lagi dibawa
secara fisik atau menunggu rujukan manual. Data digitalnya dikirim detik itu
juga ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aji Muhammad Parikesit di ibu kota
kabupaten, Tenggarong.
Dokter spesialis di sana langsung menganalisis grafik
jantung tersebut. Keputusan medis turun seketika. Pasien pun urung menempuh
perjalanan darat yang menyiksa fisik hanya demi sebuah kepastian diagnosis
awal.
Rujukan Virtual ke Mahakam Hulu
Pola serupa diadaptasi ke kawasan yang lebih terluar seperti
Kabupaten Mahakam Hulu. Daerah perbatasan ini urat nadi transportasinya amat
bergantung pada kemurahan aliran Sungai Mahakam. Menangani kasus komplikasi
medis di sini jelas butuh keahlian khusus yang seringkali belum tersedia di
fasilitas lokal.
Sistem rujukan virtual akhirnya dibangun. Dokter yang
bertugas di rumah sakit Mahakam Hulu kini mendapat sokongan langsung dari para
ahli. Mereka rutin berkomunikasi jarak jauh dengan dokter spesialis senior di
rumah sakit provinsi, semisal RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda atau RS
swasta seperti Siloam.
Saat terjadi keadaan darurat, nyawa pasien tidak perlu
dipertaruhkan lewat evakuasi jalur air yang berisiko. Instruksi stabilisasi
medis diberikan dari jarak jauh melalui layar. Setelah kondisi pasien terbukti
benar-benar stabil, barulah opsi pemindahan fisik dieksekusi.
Pemindai Paru Berotak AI
Inovasi paling agresif dari Dinkes Kaltim justru ada pada
pelacakan tuberkulosis (TBC). Penyakit menular menahun ini butuh deteksi
agresif. Menunggu warga pedalaman secara sukarela datang mengecek paru-parunya
ke puskesmas kerap berujung pada keterlambatan penanganan.
Petugas kesehatan akhirnya diinstruksikan turun gunung.
Mereka menyisir desa-desa dengan menenteng perangkat rontgen portabel (mobile
X-ray). Warga dipindai persis di lingkungan permukimannya.
Proses identifikasi hasilnya tidak dilakukan secara manual.
Foto rontgen tersebut langsung diolah oleh sistem kecerdasan buatan (AI).
"Hasil rontgen portabel dibaca menggunakan sistem
teknologi AI. Ini semata untuk mempercepat keputusan klinis dengan pendampingan
profesional," ungkap Ivan.
Algoritma mesin ini mendeteksi anomali paru-paru hanya dalam
hitungan detik. Temuan mencurigakan dari AI lalu diserahkan ke dokter spesialis
untuk validasi akhir. Sinergi antara mobilitas mesin rontgen portabel dan
kecekatan komputasi buatan pada akhirnya membuat pelacakan penyakit di akar
rumput Kaltim berjalan akurat. Pelan tapi pasti, teknologi mulai menebas
kejamnya batas alam.







