![]() |
| Ratusan mahasiswa berupaya menemui para anggota DPRD Kalimantan Utara. Foto: Agus Dian Zakaria / Radar Tarakan |
Tarakan – Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di
Tarakan menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kota Tarakan, Senin (6
April 2026). Mereka menolak keras alokasi anggaran makan dan minum (mamin) DPRD
Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang mencapai Rp 12,48 miliar dalam APBD.
Aksi yang berlangsung mulai sore hari itu diawali dengan
kumpul di Gedung KNPI sebelum bergerak konvoi ke gedung DPRD. Massa membawa
spanduk dan poster berisi tuntutan, serta menyuarakan orasi keras mengecam
kebijakan dewan yang dianggap tidak berpihak pada kepentingan masyarakat.
Salah seorang orator dalam aksinya menyatakan, “Kami tidak
seharusnya memanggil mereka DPRD, melainkan dewan perampok rakyat. Mereka
menaikkan anggaran semena-mena tanpa melihat saudara kita yang ada di
perbatasan.”
Mahasiswa menyoroti ironi anggaran daerah. Di satu sisi,
pemerintah sering melakukan efisiensi pada sektor pendidikan dan kesejahteraan
masyarakat, sementara di sisi lain DPRD Kaltara menggelontorkan dana besar
hanya untuk konsumsi makan minum. Mereka juga menyinggung kasus dugaan
pemalsuan ijazah oleh seorang anggota DPRD Bulungan yang mendapat pembelaan
dari pimpinan dewan.
Aksi berlangsung dengan pengamanan ketat dari aparat
kepolisian, Satpol PP, dan Damkar. Massa mendesak pimpinan DPRD Kaltara keluar
untuk mendengar langsung aspirasi mereka, namun hingga berita ini ditulis belum
ada respons langsung dari pihak dewan.
Mahasiswa menyampaikan enam tuntutan utama, yaitu:
- Menuntut
seluruh anggota DPRD Kaltara bekerja secara profesional sesuai
undang-undang dan mengedepankan kepentingan masyarakat Kaltara.
- Menuntut
DPRD Kaltara segera membatalkan dan mengevaluasi anggaran makan minum
dengan prinsip efisiensi anggaran.
- Menuntut
pengalihan anggaran makan minum ke sektor pendidikan untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa.
- Menuntut
perbaikan website resmi DPRD Kaltara agar menyertakan kolom RAPBD, APBD,
dan JDIH guna meningkatkan transparansi anggaran.
- Menuntut
Ketua DPRD Kaltara dicopot dari jabatannya karena dinilai lalai memimpin
lembaga legislatif.
- Mendesak
Fraksi Partai Gerindra Kaltara dan pusat untuk mengusulkan pergantian
ketua agar DPRD dapat berjalan lebih baik.
Aksi demonstrasi ini mencerminkan keprihatinan mahasiswa
terhadap pengelolaan keuangan daerah yang dinilai kurang transparan dan tidak
prioritas. Mereka menilai anggaran Rp 12,48 miliar untuk makan minum terlalu
besar, terutama di tengah masih banyaknya persoalan dasar masyarakat Kaltara
seperti akses pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur di wilayah perbatasan.
Sekretaris DPRD Kaltara sebelumnya sempat memberikan
klarifikasi bahwa anggaran tersebut tidak semata-mata untuk konsumsi internal
dewan, melainkan juga mendukung berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Namun, penjelasan itu dinilai belum memuaskan kalangan mahasiswa sehingga aksi
tetap digelar.
Aksi mahasiswa ini menjadi sorotan publik di Kaltara. Banyak
warga mendukung tuntutan transparansi dan efisiensi anggaran, terutama di
tengah kondisi ekonomi daerah yang masih bergantung pada sektor terbatas.
Demonstrasi ini juga menjadi pengingat bagi lembaga legislatif untuk lebih peka
terhadap aspirasi publik dan menjalankan fungsi pengawasan serta budgeting
secara bertanggung jawab.
Mahasiswa menyatakan akan terus mengawal isu ini. Mereka
mengancam akan turun kembali ke jalan jika tuntutan tidak mendapat respons
serius dari DPRD Kaltara dalam waktu dekat. Aksi ini diharapkan menjadi
momentum perbaikan tata kelola anggaran daerah yang lebih akuntabel dan
berpihak pada kepentingan rakyat banyak.
Pemerintah Provinsi Kaltara dan DPRD diharapkan segera
merespons tuntutan ini dengan langkah konkret, baik berupa evaluasi anggaran
maupun peningkatan transparansi. Transparansi anggaran bukan hanya kewajiban
hukum, melainkan juga fondasi kepercayaan publik terhadap lembaga perwakilan
rakyat.
Demonstrasi damai mahasiswa di Tarakan ini menegaskan bahwa
generasi muda Kaltara semakin kritis terhadap kebijakan publik. Mereka tidak
hanya menuntut, tetapi juga menawarkan solusi berupa pengalihan anggaran ke
sektor yang lebih bermanfaat bagi pembangunan sumber daya manusia di provinsi
termuda di Kalimantan ini.
Ke depan, diharapkan terjadi dialog konstruktif antara
mahasiswa, DPRD, dan eksekutif daerah agar polemik anggaran makan minum ini
dapat diselesaikan dengan baik dan menjadi pelajaran berharga dalam pengelolaan
keuangan negara di tingkat daerah.







