![]() |
| Ilustrasi AI |
Sanggau – Tragedi kecelakaan bus Damri rute
Sintang–Pontianak kembali menambah daftar kecelakaan lalu lintas di Kalimantan
Barat. Insiden yang terjadi pada Minggu (5 April 2026) sekitar pukul 13.50 WIB
di Turunan Penyeladi, Desa Penyeladi, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, ini
menyebabkan satu orang penumpang tewas dan 20 orang lainnya mengalami
luka-luka.
Kasat Lantas Polres Sanggau, Iptu Andiet Tri Hatmojo,
memberikan kronologi lengkap berdasarkan keterangan sopir, kondektur, dan saksi
mata di lokasi kejadian. Bus Damri bernomor polisi KB 7710 S tersebut membawa
total 31 orang, terdiri dari 29 penumpang, satu sopir, dan satu kondektur.
Menurut Andiet, sejak awal keberangkatan dari Sintang, sopir
sudah merasakan adanya gangguan pada sistem pengereman. Untuk mengantisipasi
risiko, pengemudi sengaja menjaga kecepatan kendaraan tetap rendah sepanjang
perjalanan. Namun, ketika memasuki Turunan Penyeladi yang terkenal curam dan
berkelok, kendaraan kehilangan kendali sepenuhnya.
“Bus sempat oleng ke kiri, kemudian sopir berusaha
mengoreksi dengan membelokkan kemudi ke kanan. Karena rem tidak berfungsi
optimal, bus akhirnya tidak dapat dikendalikan dan mengalami kecelakaan
tunggal,” jelas Andiet.
Lokasi kecelakaan merupakan salah satu titik rawan di jalur
Sintang–Sanggau. Turunan Penyeladi memiliki kemiringan yang cukup tajam
disertai tikungan ke kanan yang cukup ekstrem. Kondisi jalan yang menurun
panjang ini sering kali menjadi ujian berat bagi kendaraan besar, terutama jika
mengalami masalah teknis pada rem.
Dari 31 orang yang ada di dalam bus, satu orang penumpang
perempuan dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian. Sementara itu, 10
orang mengalami luka berat dan 10 orang lainnya mengalami luka ringan. Seluruh
korban langsung dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan
medis intensif.
General Manager DAMRI Cabang Pontianak, Ahmad Bukhari,
menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya satu penumpang. Ia
juga mendoakan kesembuhan bagi seluruh korban luka.
“Kami sangat menyesal atas kejadian ini. DAMRI akan
mendukung penuh proses investigasi yang dilakukan pihak kepolisian secara
transparan dan akuntabel,” kata Ahmad Bukhari.
Pihak DAMRI telah memberikan bantuan darurat berupa biaya
pengobatan, pendampingan keluarga korban, serta koordinasi dengan rumah sakit
dan instansi terkait. Perusahaan juga menyatakan akan melakukan evaluasi
internal secara menyeluruh terhadap seluruh armada, khususnya prosedur
pemeriksaan teknis sebelum keberangkatan.
Polres Sanggau saat ini masih melakukan olah tempat kejadian
perkara (TKP), evakuasi sisa barang bukti, dan pemeriksaan mendalam terhadap
kondisi teknis bus. Penyidik juga sedang memeriksa sopir untuk mengetahui
secara detail kronologi dan kondisi kendaraan sejak awal perjalanan.
Kecelakaan ini kembali menjadi sorotan publik mengingat bus
Damri merupakan moda transportasi umum yang sering digunakan masyarakat Kalbar
untuk perjalanan antarkabupaten. Kasus rem blong atau gangguan sistem
pengereman pada bus besar sering menjadi penyebab utama kecelakaan di
jalur-jalur pegunungan dan turunan di Kalimantan.
Banyak pihak menyoroti pentingnya pengawasan yang lebih
ketat terhadap standar keselamatan armada transportasi umum. Uji kelayakan
kendaraan (KIR) dan perawatan rutin harus dilakukan secara disiplin, terutama
pada komponen vital seperti sistem rem, ban, dan suspensi.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sanggau menyatakan bahwa
pihaknya akan berkoordinasi dengan DAMRI dan Dishub Provinsi Kalbar untuk
melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh armada bus yang melayani rute
di wilayah tersebut.
“Kami akan tingkatkan pengawasan dan sosialisasi keselamatan
lalu lintas, terutama di titik-titik rawan seperti Turunan Penyeladi,” ujarnya.
Turunan Penyeladi memang dikenal sebagai jalur yang
menantang. Selain kemiringan jalan yang curam, faktor cuaca, beban penumpang,
dan kondisi kendaraan sering menjadi kombinasi berbahaya. Beberapa kecelakaan
serupa pernah terjadi di lokasi yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada saat melintas di
jalur tersebut, terutama pada musim hujan yang dapat membuat permukaan jalan
licin. Bagi operator bus, pemeriksaan rem dan sistem pengereman cadangan
(retarder) harus menjadi prioritas sebelum kendaraan beroperasi.
Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak
terkait transportasi darat. DAMRI sebagai Badan Usaha Milik Negara diharapkan
dapat menjadi contoh dalam menerapkan standar keselamatan tertinggi. Sementara
itu, pemerintah daerah dan kepolisian perlu terus meningkatkan pengawasan dan
penegakan aturan agar kecelakaan serupa tidak terulang di masa mendatang.
Saat ini, proses identifikasi korban dan pendataan kerugian
material masih terus dilakukan. Polres Sanggau menyatakan akan mengumumkan
hasil penyelidikan awal dalam waktu dekat untuk memberikan kejelasan kepada
publik.
Kecelakaan bus Damri di Sanggau ini tidak hanya menjadi duka
bagi keluarga korban, tetapi juga pengingat bersama bahwa keselamatan penumpang
harus selalu diutamakan di atas segalanya.







