Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Istana Wapres Senilai Rp14 Triliun di IKN Rampung dengan Interior Mewah Bertema Budaya Dayak

 

Ilustrasi AI

IKN — Pembangunan Istana Wakil Presiden Republik Indonesia di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) resmi memasuki tahap akhir. Interior bangunan megah seluas puluhan hektar itu kini telah rampung dikerjakan dengan desain yang mengangkat estetika budaya lokal Dayak, sesuai dengan identitas kultural wilayah Kalimantan. Nilai keseluruhan konstruksi Istana Wapres mencapai sekitar Rp14 triliun, mencerminkan investasi besar negara untuk fasilitas pemerintahan di pusat pemerintahan baru Indonesia.

Meski bukan menjadi gedung pemerintahan tertinggi di ibu kota baru, Istana Wakil Presiden merupakan salah satu bangunan yang paling mencuri perhatian publik karena desainnya yang unik, serta pesan simbolik yang dibawa melalui ornamen dan interior yang memadukan tradisi lokal dengan arsitektur modern.


Struktur dan Nilai Investasi

Pembangunan fisik Istana Wapres telah dikerjakan sejak beberapa tahun lalu sebagai bagian integral dari pengembangan Central Government Core Area (Kawasan Inti Pusat Pemerintahan) di IKN. Gedung ini dibangun untuk mendukung operasional pemerintahan baru dan menjadi tempat kerja serta kediaman dinas wakil presiden RI.

Secara total, biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan istana mencapai kurang lebih Rp14 triliun, termasuk pembangunan struktur utama, penataan interior, sistem teknologi informasi, serta fasilitas pendukung lainnya. Angka ini mencakup pembelian material berkualitas tinggi, konsultasi desain internasional, dan pengerjaan detail yang memadukan unsur budaya lokal. 

Menurut informasi resmi yang disampaikan pihak otorita pembangunan IKN, pembangunan gedung tersebut telah melalui berbagai tahap perencanaan dan pengawasan ketat. Komponen struktur utama, sistem keamanan modern, hingga teknologi pendukung seperti sistem jaringan internal dan akses digital juga telah dipasang dan diuji.


Interior yang Mengangkat Budaya Dayak

Salah satu aspek yang menjadi sorotan adalah interior Istana Wapres yang mengangkat estetika budaya Dayak. Ornamen ukiran khas Kalimantan terpadu dalam berbagai elemen interior seperti panel dinding, tiang penyangga, hingga detail dekoratif lainnya. Warna, motif, dan simbol yang diadopsi mencerminkan nilai-nilai filosofis suku Dayak yang menghargai keharmonisan antara manusia dengan alam serta nilai kebersamaan dalam masyarakat. 

Desain interior ini dirancang oleh tim arsitek dan desainer lokal yang berkolaborasi dengan perancang nasional untuk memastikan keaslian dan penghormatan terhadap budaya lokal tetap terjaga. Proses ini mencakup riset mendalam dan konsultasi dengan tokoh adat setempat guna memastikan simbolisme budaya yang digunakan memiliki konotasi positif dan menghormati tradisi.

Penggunaan bahan lokal berkualitas tinggi seperti kayu Kalimantan juga dimaksimalkan dalam banyak elemen interior, memberikan kesan estetika yang kuat serta koneksi visual antara bangunan dan budaya setempat.


Fungsi dan Pemanfaatan Gedung

Istana Wakil Presiden tidak hanya berfungsi sebagai tempat kediaman dinas dan kantor kerja, tetapi juga sebagai ruang resmi untuk menerima tamu negara, melakukan pertemuan tingkat tinggi, serta menjadi tempat berlangsungnya agenda diplomatik dan pemerintahan lainnya.

Beberapa ruang utama di bangunan ini termasuk ruang kerja, ruang pertemuan, ruang kenegaraan, dan fasilitas protokol yang dapat digunakan dalam berbagai acara kenegaraan. Selain itu, fasilitas pendukung seperti ruang rapat kecil, area lounge, dan fasilitas bantuan teknis juga tersedia untuk mendukung aktivitas operasional. 

Sumber APBN yang dialokasikan untuk pembangunan ini diatur sedemikian rupa sehingga penyerapan anggaran dilakukan bertahap dan transparan, dengan pengawasan dari berbagai lembaga pengendali anggaran pemerintah. Pembangunan gedung ini juga menjadi salah satu bagian prioritas dalam rangka melengkapi sarana pemerintahan di ibu kota baru.


Keterlibatan Pemangku Kepentingan Lokal

Desain dan pembangunan Istana Wapres melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, otorita IKN, kalangan profesional arsitektur Indonesia, serta sejumlah elemen masyarakat adat. Keterlibatan tokoh adat dan komunitas budaya Dayak menjadi salah satu langkah penting dalam memastikan bahwa simbol budaya yang diadopsi dalam desain interior benar-benar mencerminkan nilai autentik kearifan lokal.

Menurut perwakilan tim desain, proses konsultasi yang dilakukan mencakup diskusi intensif dengan ahli budaya serta pendekatan langsung terhadap masyarakat adat untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang makna simbol-simbol yang diadopsi. Pendekatan ini berbeda dari sekadar penggunaan motif estetis; simbol yang dipilih memiliki makna tersendiri sesuai konteks filosofi Dayak. 


Sistem Modern dan Fasilitas Pendukung

Selain nilai budaya, Istana Wapres juga dilengkapi sistem modern yang mendukung fungsi pemerintahan abad ke-21. Sistem jaringan digital internal yang aman, akses data yang terintegrasi, serta fasilitas komunikasi tingkat tinggi menjadi bagian penting dari gedung tersebut.

Selain itu, sistem keamanan dan manajemen bangunan — termasuk akses kontrol digital, sistem pemantauan 24 jam, dan perangkat keselamatan lainnya — telah dipasang untuk mendukung kenyamanan dan keamanan pejabat negara serta tamu kenegaraan yang berkegiatan di dalamnya. 

Gedung ini juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti ruang server untuk mendukung layanan teknologi informasi, fasilitas multimedia untuk konferensi internasional, serta area protokol yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan acara kenegaraan. Fasilitas ini dirancang untuk memenuhi standar internasional sehingga Istana Wapres dapat berfungsi optimal dalam beragam situasi.


Posisi Strategis di Kawasan Pemerintahan

Istana Wapres berdiri di kawasan yang direncanakan sebagai pusat pemerintahan baru Indonesia. Lokasinya strategis dan menyatu dengan tata ruang di IKN yang mencakup Istana Presiden, kantor kementerian, dan fasilitas layanan publik lainnya. Penggabungan fungsi administratif dan representatif ini menjadi bagian integral dari visi IKN menjadi ibu kota yang efisien dan terintegrasi.

Kehadiran Istana Wakil Presiden di kawasan ini tidak hanya berfungsi administratif, tetapi juga menjadi ruang kenegaraan yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan diplomatik dan pemerintahan. Keberadaan fasilitas ini juga menunjukkan tingkat kesiapan infrastruktur pemerintahan di IKN seiring dengan tahap-tahap pembangunan lainnya yang terus berlangsung.


Progres dan Status Akhir Pembangunan

Dengan rampungnya interior dan hampir selesainya pekerjaan fisik lainnya, Istana Wakil Presiden kini siap untuk segera difungsikan. Perkembangan ini menjadi salah satu tonggak capaian pembangunan fisik IKN.

Pihak kontraktor dan otorita pembangunan memastikan seluruh proses konstruksi telah sesuai dengan rencana teknis dan standar kualitas bangunan, termasuk uji fungsi sistem teknis dan sarana penunjang lain yang dipasang di dalam gedung. Perangkat furnitur, sistem pencahayaan, dan material interior telah dipilih dan diuji untuk memastikan kenyamanan serta keandalan penggunaan dalam jangka panjang.

Proses finalisasi penyelesaian meliputi pengecekan akhir kualitas pekerjaan, uji layanan IT dan komunikasi, serta penyesuaian desain kecil sesuai masukan dari tim desain dan otorita pemerintahan.


Anggaran dan Pengawasan

Anggaran pembangunan Istana Wapres termasuk dalam program besar pengembangan fasilitas pemerintahan IKN yang menggunakan alokasi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mekanisme penggunaan anggaran ini diawasi secara berkala oleh aparat pengendali anggaran pemerintah pusat untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam penyerapan anggaran publik.

Pengawasan dilakukan oleh lembaga pemerintahan terkait melalui audit rutin dan progress monitoring untuk menjamin bahwa seluruh pekerjaan konstruksi serta penggunaan dana sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


Peran Simbolik dan Budaya

Desain interior yang menonjolkan budaya Dayak bukan sekadar pilihan estetika, tetapi juga mengandung pesan simbolis mengenai identitas lokal. Ornamen, motif, dan warna yang hadir di berbagai ruang dalam istana merepresentasikan filosofi hidup masyarakat Dayak yang menghargai hubungan manusia dengan alam, rasa saling menghormati, serta gagasan kebersamaan dalam kehidupan sosial.

Elemen budaya yang hadir di interior istana memberi pengalaman visual dan emosional bagi tamu serta pejabat yang memasuki ruang itu — sekaligus mencerminkan nilai pluralisme yang diusung dalam pembangunan ibu kota baru Indonesia.

 

Also Read
Latest News
  • Istana Wapres Senilai Rp14 Triliun di IKN Rampung dengan Interior Mewah Bertema Budaya Dayak
  • Istana Wapres Senilai Rp14 Triliun di IKN Rampung dengan Interior Mewah Bertema Budaya Dayak
  • Istana Wapres Senilai Rp14 Triliun di IKN Rampung dengan Interior Mewah Bertema Budaya Dayak
  • Istana Wapres Senilai Rp14 Triliun di IKN Rampung dengan Interior Mewah Bertema Budaya Dayak
  • Istana Wapres Senilai Rp14 Triliun di IKN Rampung dengan Interior Mewah Bertema Budaya Dayak
  • Istana Wapres Senilai Rp14 Triliun di IKN Rampung dengan Interior Mewah Bertema Budaya Dayak
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad