![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN — Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di
Kalimantan Timur terus diarahkan pada konsep kota hutan atau forest city
yang menempatkan kelestarian lingkungan sebagai bagian utama dari desain
kawasan. Di tengah pembangunan infrastruktur pemerintahan dan fasilitas publik,
Otorita IKN menegaskan komitmennya untuk tetap memberi ruang bagi satwa
liar serta membangun kembali hutan endemik khas Kalimantan.
Komitmen tersebut disampaikan dalam keterangan resmi Otorita
IKN yang menyebutkan bahwa pembangunan ibu kota baru tidak hanya berfokus pada
gedung dan jaringan jalan, tetapi juga pada perlindungan keanekaragaman hayati.
Kawasan IKN yang sebelumnya merupakan area hutan produksi dan lahan yang telah
mengalami degradasi, kini ditata ulang dengan pendekatan restoratif untuk
menghadirkan kembali ekosistem tropis yang lebih alami.
Koridor Satwa Disiapkan untuk Jaga Keselamatan
Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Keamanan dan
Keselamatan Publik, Edgar Diponegoro, menjelaskan bahwa pihaknya
membangun koridor satwa untuk menjamin keselamatan hewan liar yang melintas dan
berhabitat di kawasan tersebut.
Koridor satwa tersebut dirancang dalam bentuk jembatan
penyeberangan di atas jalan tol maupun jalur bawah tanah yang memungkinkan
satwa berpindah dari satu kawasan hutan ke kawasan lainnya tanpa terganggu
aktivitas kendaraan. Dengan konsep ini, jalur pergerakan alami satwa tetap
terjaga meski pembangunan infrastruktur terus berlangsung.
Keberadaan koridor ini menjadi bagian dari desain tata ruang
IKN yang mempertahankan konektivitas habitat. Satwa liar yang hidup di kawasan
tersebut tetap memiliki akses terhadap wilayah jelajahnya tanpa harus
bersinggungan langsung dengan aktivitas manusia.
Pembangunan Hutan Endemik Kalimantan
Selain menyediakan ruang gerak bagi satwa, Otorita IKN juga
melakukan rehabilitasi dan pembangunan hutan endemik. Direktur Pengembangan
Pemanfaatan Kehutanan dan Sumber Daya Air Otorita IKN, Onesimus Patiung,
menyampaikan bahwa pengembangan hutan alami menjadi bagian penting dari visi
kota hutan.
Menurutnya, upaya tersebut dilakukan dengan menanam kembali
spesies pohon asli Kalimantan yang memiliki nilai ekologis tinggi. Jenis-jenis
seperti meranti, ulin, dan tengkawang menjadi bagian dari program penghijauan
untuk mengembalikan karakter hutan tropis di kawasan IKN.
Penanaman dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan
kesesuaian lahan dan komposisi vegetasi. Tujuannya bukan sekadar menghadirkan
ruang hijau, tetapi membentuk ekosistem yang mampu mendukung kehidupan flora
dan fauna secara alami.
Salah satu pusat kegiatan pembibitan berada di Persemaian
Mentawir, Kecamatan Sepaku. Kawasan ini menjadi lokasi produksi bibit pohon
sekaligus sarana edukasi dan konservasi plasma nutfah tanaman endemik
Kalimantan. Bibit yang diproduksi di persemaian tersebut digunakan untuk
mendukung target penghijauan di seluruh kawasan inti IKN.
Proporsi Kawasan Hijau Tetap Dominan
Dalam rencana tata ruangnya, IKN menetapkan proporsi besar
untuk ruang terbuka hijau dan kawasan lindung. Area hutan tropis dipertahankan
sebagai bagian dominan wilayah, sementara pembangunan fisik difokuskan pada
zona yang telah ditentukan sesuai regulasi.
Pendekatan ini mendukung visi IKN sebagai kota yang
memadukan pembangunan modern dengan keberlanjutan lingkungan. Vegetasi tidak
hanya ditempatkan di pinggiran kawasan, tetapi terintegrasi dalam struktur
kota, termasuk di sekitar perkantoran, kawasan permukiman, dan fasilitas umum.
Dengan tutupan vegetasi yang luas, kawasan IKN diharapkan
mampu berfungsi sebagai penyerap karbon alami sekaligus menjaga kualitas udara
dan kestabilan iklim mikro.
Edukasi dan Mitigasi Interaksi Satwa
Untuk mendukung kehidupan yang harmonis antara manusia dan
satwa, Otorita IKN juga bekerja sama dengan BKSDA Kalimantan Timur serta
Borneo Orangutan Survival Foundation dalam pelatihan mitigasi interaksi
manusia dan satwa liar.
Pelatihan tersebut diberikan kepada pegawai dan pemangku
kepentingan di kawasan IKN agar memahami prosedur saat berinteraksi dengan
satwa liar. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan bersama
serta memastikan satwa tetap terlindungi di habitatnya.
Program tersebut juga mencerminkan komitmen Otorita IKN
dalam membangun kota yang tidak memisahkan pembangunan dari keberlanjutan
lingkungan. Pendekatan ini menempatkan konservasi sebagai bagian integral dari
proses pembangunan, bukan sebagai elemen tambahan.
Pembangunan IKN dengan konsep kota hutan menghadirkan
pendekatan baru dalam tata kelola kawasan perkotaan di Indonesia. Dengan
menyediakan koridor satwa, membangun kembali hutan endemik, serta menjaga
proporsi ruang hijau yang luas, IKN dirancang sebagai pusat pemerintahan yang
tetap berpijak pada keseimbangan ekosistem alami Kalimantan.







