![]() |
| Atraksi Tatung pada perayaan ke-9 Ne' Gajah dan Ne' Muok di Kampung Kampur (8/11/2025). Foto: Istimewa |
PONTIANAK — Di RT 08 RW 06 Kampung Kapur, suasana sejak pagi bergerak pelan seperti sedang menyiapkan ruang bagi sesuatu yang lebih tua dari ingatan manusia. Hari ini, Keluarga Besar Tung San Pak Kung kembali mengucapkan selamat atas gelar ritual penghormatan kepada keramat Ne' Gajah dan Ne' Muok — memasuki ulang tahun yang ke-9. Sejak pukul sepuluh pagi masyarakat mulai berdatangan, sementara di lokasi acara terbentang spanduk besar dari Sekretariat Lembaga Pencinta Seni Budaya Serumpun Mandiri, menandai dukungan kultural yang lebih luas bagi kegiatan ini.
Petrus Bhino, pemimpin perkumpulan Keramat Ne’ Gajah dan Ne’
Muok, menjelaskan bahwa acara tidak sekadar peringatan tahunan, tetapi upaya
meneruskan hubungan spiritual dengan leluhur. Dalam pandangannya, banyak hal dalam
hidup tidak bisa diselesaikan hanya dengan tenaga dan logika; sebagian harus
dibicarakan dengan cara-cara yang lebih sunyi, lebih tua, dan lebih arkais.
Pada titik itu, pengikut perkumpulan Ne' Gajah dan Ne' Mouk yang juga warga
Kampung Kapur percaya bahwa roh kedua leluhur ini berjalan bersama mereka,
menjaga keseimbangan dan menguatkan langkah generasi sekarang.
Ketua RT setempat, Mustopit, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari kebhinekaan lokal. Pontianak sejak dulu adalah ruang perjumpaan berbagai identitas budaya, dan acara seperti ini memperlihatkan bahwa kemajemukan tidak selalu berbentuk wacana; kadang ia tampak sederhana dalam bentuk warga yang bergotong-royong mempersiapkan altar, membangun tenda, hingga merangkai sesaji. Menurutnya, dukungan warga bukan hanya kepada acara adat, melainkan kepada rasa saling percaya yang sudah menjadi tulang punggung kehidupan di Kampung Kapur.
Ritual Tatung dijadwalkan berlangsung pukul tujuh hingga sembilan malam. Bagi sebagian orang luar, momen ini kerap dianggap sebagai atraksi kebal. Namun bagi komunitasnya, pertunjukan itu bukan ajang gagah-gagahan. Dalam tradisi Kalimantan Barat, terutama di wilayah Singkawang dan sekitarnya, Tatung adalah medium spiritual yang memungkinkan roh leluhur atau dewa pelindung turun dan merasuki tubuh manusia. Penelitian antropologi menyebut fenomena ini sebagai trance mediumship, sebuah komunikasi metafisik yang tidak bisa dipaksa, hanya bisa dipersiapkan. Jika sang Tatung berjalan tanpa terluka meski bersentuhan dengan benda tajam, itu ditafsirkan sebagai pertanda bahwa alam semesta merestui permohonan mereka.
Di Kampung Kapur, maknanya bahkan lebih spesifik. Ritual kebal itu dianggap sebagai jawaban atas doa warga—bahwa usaha, pekerjaan, dan hajat hidup yang mereka jalani telah mendapat restu dari dunia leluhur. Panitia menekankan bahwa “kebal” bukan tujuan, melainkan bahasa. Tubuh menjadi media yang menampung pesan, seperti selembar kain tipis yang digerakkan angin: yang terlihat hanya lipatan-lipatannya, tetapi kekuatannya berasal dari sesuatu yang tak kasatmata.
Tradisi Tatung di Kalbar sendiri lahir dari perjumpaan panjang antara etnis Hakka, Dayak, dan Melayu. Di Singkawang, kota dengan sejarah migrasi Hakka sejak abad ke-19, ritual ini berkembang menjadi sebuah ekosistem budaya yang kompleks—mencampur kepercayaan leluhur Tionghoa, penghormatan kepada alam ala Dayak, serta nilai gotong-royong Melayu. Para peneliti kerap menyebut Tatung sebagai “ruang akulturasi hidup,” bukan warisan beku. Ia terus bergerak, menyesuaikan diri dengan kota, kampung, bahkan arah zaman.
Dalam konteks Pontianak dan Kampung Kapur, relevansi ritual ini justru terasa semakin kuat. Kota ini pernah mengalami ketegangan identitas pada masa-masa tertentu, dan tradisi lintas-etnis seperti ini menjadi salah satu penanda bahwa masyarakat tetap punya kesadaran untuk merawat jembatan budaya. Spanduk dari Lembaga Pencinta Seni Budaya Serumpun Mandiri di lokasi acara memperlihatkan bahwa ritual ini tidak berdiri sendirian; ada jejaring komunitas budaya yang ikut menjaga kesinambungannya. Keberadaan mereka menjadi penegas bahwa kebudayaan hanya bisa bertahan bila dirawat bersama, bukan dipisahkan ke dalam kotak-kotak etnis.
Meski begitu, Tatung tidak pernah lepas dari ambiguitas. Ada pihak yang menganggapnya ekstrem, ada yang mencurigainya melalui kacamata keagamaan, ada pula yang memanfaatkannya sebagai tontonan wisata semata. Itulah paradoks tradisi: ia selalu berada di persimpangan antara sakral dan publik. Karena itu penyelenggara di Kampung Kapur memilih menekankan sisi spiritualnya—bahwa inti acara ini adalah doa, bukan demonstrasi.
Acara malam nanti akan ditutup dengan tarian jonggan, tarian khas Dayak yang memancarkan kegembiraan dan kedekatan antarmanusia. Di titik itu, seluruh rangkaian ritual kembali mengingatkan orang bahwa budaya bukan hanya milik satu kelompok, tetapi milik siapa pun yang bersedia menghormatinya. Bila penduduk Kampung Kapur berjalan pulang setelah tengah malam, mereka akan membawa pulang sesuatu yang lebih lembut daripada sorakan: keyakinan bahwa hidup mereka tidak dijalani sendirian, bahwa ada leluhur yang menjaga, ada komunitas yang menopang, ada kebudayaan yang memberi arah.
Ritus ini menjadi bukti bahwa tradisi tetap bisa hidup di tengah kota modern. Selama masih ada orang yang menyalakan dupa, menata sesaji, menundukkan kepala, dan percaya bahwa dunia roh berbicara lewat cara-cara yang tidak selalu bisa dijelaskan, maka budaya Kalimantan Barat akan terus bernafas. Dan malam di Kampung Kapur kembali menjadi saksi bahwa hubungan antara manusia dan leluhur tidak pernah benar-benar putus — hanya menunggu dipanggil kembali lewat sebuah ritual sederhana namun penuh makna.







